<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KiAgeng Sudrominulyo's Blog</title>
	<atom:link href="http://sudrominulyo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sudrominulyo.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Jun 2009 20:06:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sudrominulyo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>KiAgeng Sudrominulyo's Blog</title>
		<link>http://sudrominulyo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sudrominulyo.wordpress.com/osd.xml" title="KiAgeng Sudrominulyo&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sudrominulyo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>mengenal bangsaku</title>
		<link>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/16/mengenal-bangsaku/</link>
		<comments>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/16/mengenal-bangsaku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 20:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiageng Sudrominulyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ndongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudrominulyo.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Agama Buddha bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah agama baru. Ratusan Tahun yang silam agama ini pernah menjadi pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia tepatnya pada zaman kerajaan Sriwijaya, kerajaan Maratam Purba dan keprabuan Majapahit.  Candi Borobudur, salah satu warisan kebudayaan bangsa yang amat kita banggakan tidak lain cerminan dari kejayaan agama Buddha di zaman lampau. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=49&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Garamond;"><img title="Tar-pit" src="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/tar-pit.jpg?w=215&#038;h=300" alt="Tar-pit" width="215" height="300" />Agama Buddha bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah agama baru. Ratusan Tahun yang silam agama ini pernah menjadi pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia tepatnya pada zaman kerajaan Sriwijaya, kerajaan Maratam Purba dan keprabuan Majapahit. <br />
Candi Borobudur, salah satu warisan kebudayaan bangsa yang amat kita banggakan tidak lain cerminan dari kejayaan agama Buddha di zaman lampau.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">    </span>     <span style="font-family:Garamond;">Sekitar tahun 423 M  Bhiksu Gunawarman datang ke negri Cho-Po (jawa) untuk menyebarluaskan ajaran Buddha. Ternyata ia memperoleh perlindungan dari penguasa setempat, sehingga misinya menyebar luaskan ajaran Buddha berjalan lancar. semua ini tercatat di dalambuku Gunawarman dan jika di dasarkan pada buku ini maka kemungkinan besar ia adalah seorang perintid pengembangan agama Buddha di Indonesia pada zaman tersebut.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">    Berdasarkan catatan dari kerajaan Tang di Tiongkok, pada pertengahan abad ke-7 di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan yang menganut agama Buddha namanya Kaling. Di Tiongkok nama itu lebih dikenal dengan sebutan Ho Ling. Kerajaan ini sangatalah tertib dan tentram walaupun dipimpin oleh seorang wanita tangan besi yang bernama ratu Sima. Ho ling saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan agama Buddha, dan tidak sedikit orang Tionghoa dari dataran Cina datang ke negri tersebut untuk belajar agama Buddha, walaupun pada zaman dinasti Tang agama Buddha telah menjadi agama resmi di negri Cina..</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">    Dalam abad ke-7 dan ke-8 antara India dan Cina terjalin hubungan yang ramai. Hungan tersebut tidak semata-mata di Bidang perdagangan, melainkan juga dalam ilmu pengetahuna dan agama Buddha. Antara tahun 618 hingga 907 Cina diperintah oleh Dinasti Tang, sedang di India dalam abad ke-7 berkuasa raja Harcha yang bersikap toleran terhadap agama Buddha. Maka pada zaman itu banyak musafir dan Bhiksu dari Cina yang berziarah ke tempat-tempat suci agama Buddha di India. </span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">    Dalam pertengahan abad ke-7 ini pula Sriwijaya tumbuh dan berkembang menjadi pelabuhan penting di tepi perairan Selat Malaka, urat nadi lalu-lintas penting antara India dan Cina. Selama beberapa abad, kerajaan ini memegang hegemoni lautan. Sriwijaya boleh dikatakan pusat perdagangan dan pusat agama Buddha  di Asia Tenggara. Agama Buddha di zaman Sriwijaya adalah agama Buddha aliran Mahayana dengan memahami bahasa Sansekerta.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Antara tahun 850 hingga awal abad-13, kerajaan Sriwijaya diperintah oleh keluarga Syailendra yang pernah berkuasa di Mataram, Jawa Tengah, antara tahun 778-850. Selama 75 tahun berkuasa di Mataram, keluarga Syailendra banyak mendirikan bangunan suci Buddhist  berupa candi seperti Candi Kalasan, Plaosan, Sari, Borobudur, Pawon dan Mendut. Sriwijaya kemudian meluaskan kekuasaannya sampai ke Muangthai Selatan yang sekarang disebut Suratani dan Pattani. Candi-candi yang dibuat oleh Sriwijaya di sana antara lain Vihara Mahadhata di Jaiya dan Vihara Mahadhata di Nakorn Sitnamart yang sampai sekarang masih ada dan bentuk bangunan, arca-arca Buddha serta Bodhisattva mirip dengan yang terdapat di Jawa.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Attisa, Bhikkhu yang sangat terkenal dari Tibet yang membangun kembali agama Buddha di negara tersebut pernah datang ke Sumatra dan tinggal di sana dari tahun 1011 &#8211; 1023. Ia belajar di bawah bimbingan Dharmakirti, seorang Bhiksu terkemuka di zaman Sriwijaya. berdasarkan catatan biografi Attisa yang di tulis di Tibet, Sumatra adalah pusat utama agama Buddha, sedang Bhiksu Dharmakirti adalah seorang cendekiawan terbesar di zaman itu.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Kedatangan  para dharmaduta ke Indonesia mendorong banyak orang pergi berziarah ke India untuk mengunjungi tempat-tempat suci dan pusat-pusat agama Buddha seperti Universitas Nalanda dan lain-lain. Setelah kembali ke Indonesia mereka mendirikan candi-candi dengan berbagai bentuk dan ukuran.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Agama Buddha yang semula berkembang di Pulau Jawa dan Sumatra adalah beraliran Theravada yang dikembangkan oleh Bhiksu Gunawarman. Lambat-laun aliran ini terdesak oleh aliran-aliran lain yang masuk ke Indonesia setelah mereka mempunyai kedudukan yang kuat di India. Hal ini terlihat dengan berdirinya candi Kalasan yang dipersemabahkan untuk Dewi Arya Tara (personifikasi Prajnaparamita menurut aliran Tantrayana, salah satu sekte agama Buddha Mahayana) pada tahun 779 M. . Dari catatan epigraphic diketahui bahwa salah satu dari raja Syailendra di Jawa mempunyai guru bernama Kumaraghosa dari negri Ganda (Bengal) yang menganut faham Tantrayana. Hal tersebut mendorong berkembangnya agama Buddha Mahayana.</span></p>
<p>   <span style="font-family:Garamond;">     Kehidupan agama Buddha pada masa kerajaan Mataram &#8211; I  bisa dilihat dari prasasti Conggol, sebelah Barat-daya Magelang, yang dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Pasasti tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 654 Saka (732 M) hari senin tanggal 13 terang bulan Kartika, Raja</span> <span style="font-family:Garamond;">Sanjaya mendirikan sebuah lingga yang merupakan lambang dari dewa Siwa yang dipuja oleh raja dan rakyatnya. Sanjaya sendiri putera Saimaha, saudara perempuan Raja Sanna yang memerintah sebelum Sanjaya.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Pada masa pemerintahan Raja Panangkaran tahun 775, dinasti Syailendra mulai berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan sehingga kekuasaan dinasti Sanjaya terdesak ke utara Jawa Tengah, yakni sekitar dataran tinggi Dieng. Di sana Sanjaya mendirikan beberapa candi, antara laincandi Bimo, Arjuno, Semar dan Argopuro.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Raja-raja yang berkuasa pada zaman dinasti Syailendra ialah Bhanu (752-775), Wisnu (775-782), Indra (782-812), Samarottungga (812-833) dan Balaputradewa (833-856). Prasasti-prasasti Syailendra ialah prasasti Kalasan pada tahun 778, dengan menggunakan huruf pranagari dan bahasa Sansekerta; prasasti Kelurak dekat Yogya tahun 782,</span> <span style="font-family:Garamond;">juga memakai huruf pra-nagari dan bahasa Sansekerta; prasasti Karang Tengah dekat Temanggung pada tahun 824 dengan memakai bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno dan prasasti Kahulunan, Kedu, pada tahun 842 yang ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa Kuno.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Selama pemerintahan Syailendra, banyak bangunan candi yang didirikan sebagaimana telah disinggung di atas. Satu diantara candi-candi yang tersohor adalah Borobudur yang didirikan pada masa Raja Samarottungga. Candi Sajiwan dan Plaosan dibangun pada masa pemerintahan suami-isteri Rakai Pikatan-Pramodawardhani (puteri Samarottungga).</span> <span style="font-family:Garamond;">Nampaknya pengaruh Pramodawardhani sangat besar, sehingga yang dibangun adalah candi bercorak Buddha. Raja Rakai Pikatan sendiri beragama Siwa (Hindu). Jelas pada masa itu terdapat rasa toleransi agama yang besar.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Perkawinan Rakai Pikatan yang beragama Siwa dan Pramodawardhani yang beragama Buddha bersifat politis untuk menghadapi Balaputra yang sedang berkuasa, selain</span> <span style="font-family:Garamond;">untuk mencapai kerukunan antara dua dinasti yang sedang bersaing dan bahkan saling bertentangan. Balaputra dan</span> <span style="font-family:Garamond;">saudaranya, Pramodawardhani bersaing untuk menduduki jabatan Raja Mataram setelah ayah mereka, Samarottungga meninggal dunia. Balaputra berhasil naik tahta antara tahun 833 &#8211; 856, tetapi akhirnya benteng pertahanan Balaputra dirobohkan juga oleh persekutuan  Rakai Pikatan</span> <span style="font-family:Garamond;">Pramodawardhani, dengan demikian maka hanculah benteng terakhir dinasti Syailendra di Jawa Tengah sebelah Selatan desa Prambanan.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Sejak pemerintahan Rakai Pikatan, dan kemudian disusul oleh Rakai Kayuwangi (856-886), Rakai Watukumalang (886-898), Balitung (898-910), Daksa, Tulodong dan Wawa, pemerintahan dinasti Sanjaya semakin berkembang. Pada masa Raja Wawa, pusat kekuasaan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur, sehingga peranan Jawa Timur selama dua abad kemudian berhasil menggantikan kedudukan Jawa Tengah.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Ada dua pendapat tentang apa sebabnya pusat pemerintahan kerajaan Mataram dipindahkan yang ditandai juga dengan perpindahan massal rakyat ke Jawa Timur. Pertama,mereka yang berpendapat perpindahan itu akibat meletusnya gunung Merapi yang banyak menimbulkan bencana dan korban. Menurut kepercayaan rakyat, meletusnya gunung Merapi menunjukkan kemarahan para dewa. Pendapat ke-dua, karena tarikan faktor ekonomi di Jawa Timur yang semakin besar, di mana perdagangan dan pelayaran laut dan sungai kian rarnai.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Babak pertama pemerintahan Mataram di Jawa Timur d</span>i<span style="font-family:Garamond;">pegang oleh dinasti Isana, nama yang diambil dari nama Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadjarmotunggadewa, gelar Mpu Sendok. Bagaimana Mpu Sendok naik tahta kurang dutetahui. Namun diduga melalui perkawinannya de putri Wawa. Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, ternyata Mpu Sendok banyak menaruh perhatian pada perdagangan dan pelayaran di kali Brantas selain pertanian.</span> <span style="font-family:Garamond;">Mpu Sendok juga dikenal Raja yang memerintah dengan lebih demokratis dan menaruh minat pada soal-soal hukum serta kesusastraan· Pada masa pemerintahan Mpu Sendok-lah di</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Mpu Sendok sendiri penganut agama Hindu, sehingga timbul kesan adanya toleransi agama yang sangat kuat di masa itu. Nampaknya antara agama Hindu yang dianut di Kutai, Taruma dan Mataram pada satu pihak dan agama Buddha yang dianut Sriwijaya dan Mataram (masa dinasti Syailendra) di lain pihak pernah terjadi persaingan dan perbenturan. Narnun kemudian terjadi toleransi yang diawali oleh perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Hal</span> <span style="font-family:Garamond;">mana dilanjutkan pada masa pemerintahan Isana dan kemudian terjadi &#8220;pembauran&#8221; antara Hindu dan Buddha sehingga batas kedua agama itu semakin kabur pada masa Singosari dan Majapahit. Pembauran kedua agama ini masih dapat disaksikan di Jawa dan Bali.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Diantara raja-raja keturunan Mpu Sendok, yang paling berhasil adalah Airlangga. la adalah seorang raja yang ditaati oleh rakyatnya yang rela menyerahkan segala milik mereka demi kepentingan pemerintahaan Airlangga. Airlangga berhasil membawa kerajaan Mataram pada puncaknya; tapi Airlangga pula yang meruntuhkan kerajaan itu.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Runtuhnya kerajaan Mataram sudah berada di ambang pintu tatkala Sanggramatunggadewi, orang kedua yang pantas menduduki tahta sesudah Airlangga, menolak jabatan besar tersebut. la lebih suka memilih hidup suci sebagai petapa di Pucangan, gunung Penanggungan, dengan nama Kili Suci. Maka, Airlangga terpaksa minta bantuan Mpu Bharada yang sakti untuk membagi kerajaannya kepada kedua putranya, Jenggala (Singasari) di bagian Timur dan Kediri di bagian Barat pada tahun 1041. Airlangga sendiri menjadi petapa pada tahun 1042 dengan nama Resi Gentayu sampai wafat pada tahun 1049 dan dimakarnkan di Tirtha, tempat permandian Jalatunda dekat desa Belahan di</span> <span style="font-family:Garamond;">sebelah Timur gunung Penanggungan.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Airlangga sebagai penjelmaan Wishnu diwujudkan dalam bentuk Wishnu sedang naik seekor burung Garuda.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Kerajaan Majapahit adalah Negara Kesatuan Indonesia kedua setelah Sriwijaya yang dibangun oleh umat Buddha dan Hindu. Umat Buddha dan Hindu dalam zaman keprabuan Majapahit, berhasil mengantarkan bangsa Indonesia</span> <span style="font-family:Garamond;">memasuki zaman keemasannya. Kejayaan keprabuan Majapahit dapat terwujud antara lain disebabkan karena adanya kerukunan intern umat Buddha dan kerukunan intern umat Hindu serta adanya kerukunan hidup antara umat Buddha dan umat Hindu pada zaman itu. Maharaja Hayam Wuruk dalam menjalankan pemerintahannya didampingi oleh penasehat agung dalam keagamaan yakni Dharmadhyaksa Ring Kasongatan dan golongan Buddha dan Dharmadhyaksa Ring Kasewan dari golongan Hindu. Kerukunan hidup umat beragama pada zaman Majapahit dirintis dan dipelopori oleh Pujangga Buddhis yang agung, Mpu Tantular. Dalam bait syair yang ada di dalam buku yang ditulisnya yakni kitab &#8220;SUTASOMA&#8221; pujangga besar Mpu Tantular menulis: &#8220;Siwa Buddha Bhinneka Tunggal lka Tan Hana Dharma Mangrwa&#8221;. Kalimat sakti yang dapat</span> <span style="font-family:Garamond;">mempersatukan umat beragama dan rakyat Majapahit pada</span> <span style="font-family:Garamond;">waktu itu, yakni Bhinneka Tunggal lka, sekarang merupakan kalimat sakti pemersatu bangsa Indonesia dan ditulis dalam lambang negara Garuda Pancasila.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Setelah  keprabuan Majapahit  mengalami zaman keemasan, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya Gajah Mada yang beragama Buddha, akhirnya mengalami keruntuhan karena kerukunan hidup umat beragama serta persatuan kesatuan rakyat&#8221;. Majapahit tidak dapat lagi dipertahankan. Terjadinya perpecahan dan pertentangan yang tidak henti-hentinya akhirnya membawa Majapahit sirna dari muka bumi ini. Bersama dengan itu agama Buddha juga mengalami pasang surut dalam perkembangannya, kemusnahannya semakin nyata dalam zaman penjajahan Belanda. Narnun demildan, dalam zaman penjajahan Belanda pula agama Buddha mulai dipelajari dan dihayati oleh generasi muda yang terhimpun dalam Perhimpunan Theosofi Indonesia dan Sam Kauw.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:small;font-family:Garamond;"><span style="text-decoration:underline;">Agama Buddha Dalam Zaman Penjajahan</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Pada zaman penjajahan Belanda, di Indonesia hanya dikenal adanya tiga agama yakni agama Kristen Protestan,</span> <span style="font-family:Garamond;">Katolik dan Islam sedangkan agama Buddha tidak disebut-sebut. Hal ini adalah salah satu sikap Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Dengan demikian agama Buddha dapat dikatakan sudah sima di bumi Indonesia, tetapi secara tersirat di dalam hati nurani bangsa Indonesia, agama Buddha masih tetap terasa antara ada dan tiada.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda di Jakarta didirikan Perhimpunan Theosofi oleh orang-orang Belanda terpelajar. Tujuan dari Theosofi ini mempelajari inti kebjaksanaan semua agama dan untuk menciptakan inti persaudaraan yang universal. Theosofi mengajarkan pula kebijaksanaan dari agama Buddha, di mana seluruh anggota Thesofi tanpa memandang perbedaan agama, juga mempelajari agama Buddha. Dari ceramah-ceramah dan meditasi agama Buddha yang diberikan di Loji Theosofi di Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, Surabaya dan sebagainya, agama Buddha mulai dikenal, dipelajari dan dihayati. Dari sini lahirlah penganut agama Buddha di Indonesia, yang setelah Indonesia merdeka mereka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia.</span></p>
<p>   <span style="font-family:Garamond;">     Dalam zaman penjajahan Belanda, di Jakarta timbul pula usaha untuk melestarikan ajaran agama Buddha, Khong Hucu dan Lautse dan usaha mana kemudian lahir Organisasi Sam Kauw Hwee yang bertujuan untuk mempelajari ketiga ajaran agama dan kepercayaan tersebut. Dari sini pula kemudian lahir penganut agama Buddha, yang dalam zaman kemerdekaan agama Buddha bangkit dan berkembang. </span></p>
<p>   <span style="font-family:Garamond;">     Dalam tahun 1932 di Jakarta telah berdiri International Buddhist Mission Bagian Jawa dengan Yosias van Dienst sebagai Deputy Director Generalnya. Tahun 1934 telah diangkat A. van der Velde di Bogor dan J. W. de Wilt di Jakarta masing-masing sebagai Asistant Director yang membantu Yosias van Dienst. </span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Setahun sebelum berdirinya International Buddhis Mission Bagian Jawa, tepatnya tahun 1931, di Jakarta terbit majalah Mustika Dhamia yang dipimpin oleh Kwee Tek</span> <span style="font-family:Garamond;">Hoay. Majalah Mustika Dharma mernuat tentang pelajaran Theosofi, tentang agama Islam, tentang sari pelajaran dan Yesus, ajaran Krisnamurti, terutama mengenai ajaran agama Buddha (Buddha Dhamia), Khonghucu dan Lautse. Majalah Mustika Dharma besar jasanya dalam menyebar luaskan kembali agama Buddha, sehingga agama Buddha mulai dikenal, dimengerti, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan. Atas prakarsa dari Kwee Tek Hoay kemudian lahir organisasi Sam Kauw, organisasi yang mempelapori kebangkitan</span> <span style="font-family:Garamond;">agama Buddha disamping Perhimpunan Theosofi Indonesia</span>, <span style="font-family:Garamond;">dan Pemuda Theosofi Indonesia, setelah Indonesia Merdeka. </span></p>
<p><span style="font-size:small;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Naiada Thera</span></strong></span></p>
<p>   <span style="font-family:Garamond;">Tanggal 4 Maret 1934 Narada Thera menginjakkan kakinya di pelabuhan Tanjung Priok, disambut oleh Yosias van</span> <span style="font-family:Garamond;">Dienst dan Tjoa Hin Hoay dan beberapa umat Buddha. Narada Thera adalah bikhhu yang pertama datang dari luar negeri setelah berselang kira-kira lima ratus tahun. Narada Thera telah memberikan ceramah agama Buddha di loji-loji</span> <span style="font-family:Garamond;">Theosofi dan di Klenteng-klenteng di Bogor, Jakarta,</span> <span style="font-family:Garamond;">Yogya, Solo dan Bandung. Di Candi Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934 Narada Thera turut hadir dalam upacara penanaman pohon bodhi yang cangkokannya dibawa oleh</span> <span style="font-family:Garamond;">lr. Meertenas dari Buddhagaya, India. Pohon bodhi yang telah tumbuh besar di Candi Borobudur itu kemudian dimatikan, karena merusak bangunan candi. Duta Besar Srilangka menyerahkan lagi cangkokan pohon. Pohon bodhi</span> <span style="font-family:Garamond;">tersebut ditanam di kawasan luar Candi Borobudur disaksikan oleh Gubernur Supardjo Rustam. Pohon bodhi dari Duta Besar Srilangka itu adalah cangkokan dari pohon bodhi yang sampai sekarang masih tumbuh di Anuradhapura di Srilangka yang dahulu dibawa oleh Raja Mahinda ke Srilangka.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Java Buddhist Association yang telah menerbitkan majalah Namo Buddhaya dalam bahasa Belanda telah banyak menarik perhatian dan minat orang-orang Cina, yang pada waktu itu telah banyak menganut agama lain, dan telah mengganti tradisi serta adat istiadat leluhurnya dengan kebiasaan Barat. Kemudian tahun 1932 Kwee Tek Hoay membentuk Sam Kauw Hwee yang anggotanya terdiri dari penganut agama Buddha, Khonghucu dan Laocu. Sam Kauw Hwee menerbitkan majalah Sam Kauw Gwat Po dalam bahasa Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Sam Kauw Hwee kehilangan Ketuanya dengan meninggalnya</span> <span style="font-family:Garamond;">Kwee Tek Hoay tahun 1952. Sam Kauw Hwee lalu diorganisir kembali dengan masuknya beberapa organisasi kedalamnya, antara lain Tian Lie Hwee dibawah pimpinan Ong Tiang Biauw yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta. Sam Kauw Hwee kemudian menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) dengan Ketuanya yang pertama adalah The Boan An, yang sekarang dikenal sebagai Maha Sthavira Ashin Jinarakkhita Maha Thera. Dalarn tahun 1962 dibawah pimpinan Drs. Khoe Soe Khiam, GSKI dirubah namanya menjadi Gabungan Tri Dharma Indonesia dengan majalahnya bemama Tri Budaya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Garamond;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Perkembangan Agama Buddha Sejak Kemerdekaan R.I.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">Perhimpunan Theosofi y.ang bertujuan untuk membina persaudaraan universal melalui penghayatan pengetahuan tentang semua agama termasuk agama Buddha, telah menarik perhatian dan minat orang-orang Indonesia terpelajar. Dari mempelajari agama Buddha kemudian timbullah dorongan untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama Buddha. Dari sinilah bermulanya orang-orang Indonesia terpelajar mengenal agama Buddha sampai akhirnya menjadi penganut Buddha Dharma. Orang-orang Indonesia terpelajar yang kemudian menjadi umat Buddha melalui</span> <span style="font-family:Garamond;">Theosofi antara lain M.S. Mangunkawatja, Ida Bagus Jelanti, The Boan An, Drs. Khoe Soe Khiam, Sadono, R.A. Parwati, Ananda Suyono, I Ketut Tangkas, Slamet Pudjono, Satyadharma, lbu Jamhir, Ny. Tjoa Hm Hoey, Oka Diputhera dan lain-lainnya. Meskipun theosofi tidak bertujuan untuk membangkitkan kembali agama Buddha narnun dari theosofi ini lahir penganut agama Buddha yang kemudian setelah Indonesia merdeka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia. Karena itu baik Perhimpunan Theosofi Indonesia maupun Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia secara tidak langsung mempunyai andil yang besar dalam kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        The Boan An yang menjadi pimpinan GSKI dan Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia, kemudian ditahbiskan</span> <span style="font-family:Garamond;">menjadi Bhikkhu di Burma dengan nama Bhikkhu Ashin</span> <span style="font-family:Garamond;">Jinarakkhita. Sejak 2500 tahun Buddha Jayanti, tepatnya tahun 1956 saat kebangkitan kembali agama Buddha di bumi Indonesia, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita-lah yang memimpin kebangkitan kembali agama Buddha ke seluruh lndonesia. Karena itu Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dinyatakan sebagai Pelopor Kebangkitan agama Buddha secara nasional di Indonesia. Dari bhikkhu Ashin Jinarakkhita lahir tokoh-tokoh umat Buddha di Indonesia seperti Sariputra Sadono, K. Karbono, Soemantri MS, Suraji Ariakertawijaya, Oka Diputhera, I Ketut Tangkas, Ida Bagus Gin dan pimpinan Buddha lainnya yang sampai sekarang masih aktif dalam organisasi Buddhis dan ada pula di antaranya telah menjadi Bhikkhu scperti Ida Bagus Gin vane sekarang dikenal dengan nama Bhikkhu Girirakkhito.</span></p>
<p>   <span style="font-family:Garamond;">     Jadi dari Gabungan Tri Dharma Indonesia dan Perhimpunan Theosofi Indonesia serta Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia lahir penganut-penganut agama Buddha yang kemudian bersama-sama dengan Bhikkhu Ashin  Jinarakkhita mempelopori kebangkitan kembali agama Buddha dalam tahun kebangkitannya yakni tahun 1956. Nama-nama yang mendampingi Bhikkhu Ashin Jmarakkhita dalam mempelopori kebangkitan kembali agama Buddha dalam era 2500 tahun Buddha Jayanti tahun 1956 antara lain M.S. Mangunkawatja, Sariputra Sadono, Sasanasobhana, Sosro Utomo, I Ketut Tangkas, Ananda Suyono, R.A. Parwati, Satyadharma, lbu Jayadevi Djamhir, Pannasiri Go Eng Djan, Ida Bagus Giri, Drs. Khoe Soe Khiam, Ny. Tjoa Hin Hoey, Harsa Swabodhi, Krishnaputra, Oka Diputhera dan sebagainya.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Organisasi Buddhis yang mempersiapkan kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia adalah International Buddhis Mission Bagian Jawa dibawah pimpinan Yosias van Dienst, yang banyak mendapat bantuan dari Perhimpunan Theosofi dan Gabungan Sam Kauw.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Organisasi Buddhis yang mempelopori kebangkitan danperkembangan agama Buddha di Indonesia sejak tahun 1950-an ialah Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) yang diketuai oleh Sariputra Sadono, kemudian oleh Karbono, Soemantri MS, Oka Diputhera (Sek. Jen) sampai kemudian berganti nama menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI) yang kemudian menjadi Majelis Upasaka Pandita Agama Buddhayana Indonesia. Yang membentuk PUUI adalah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dalam tahun 1954, sebagai pembantunya dalam menyebarkan agama Buddha di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        Kemudian Bhikkhu Ashin Jinarakkhita merestui berdirinya Perhimpunan Buddhis Indonesia tahun 1958 dengan Ketua Urnunanya Sariputra Sodono dan Sek. Jen. Sasana Sobhana. Kemudian Ketua Umum PERBUDHI adalah Soemantri MS dengan Sek. Jen. Oka Diputhera. Perbudhi kemudian dilebur menjadi Budhi bersama-sama dengan organisasi Buddhis lainnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;">        </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudrominulyo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudrominulyo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudrominulyo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudrominulyo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudrominulyo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudrominulyo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudrominulyo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudrominulyo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudrominulyo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudrominulyo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudrominulyo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudrominulyo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudrominulyo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudrominulyo.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=49&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/16/mengenal-bangsaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ffbd342787a2b0acae54a4f353b56041?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">a64nghand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/tar-pit.jpg?w=215" medium="image">
			<media:title type="html">Tar-pit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>usal asul sejarah bangsa jawa-I</title>
		<link>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/06/usal-asul-sejarah-bangsa-jawa-i/</link>
		<comments>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/06/usal-asul-sejarah-bangsa-jawa-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 20:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiageng Sudrominulyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudrominulyo.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[BABAD TANAH DJAWI Gubahanipun L. VAN RIJCKEVORSEL Directeur Normaalschool Muntilan Kabantu R.D.S. HADIWIDJANA Guru Kweekschool Muntilan Pangecapan J.B. Wolters U.M. Groningen – Den Haag – Weltervreden – 1925 Perangan Kang Kapisan Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekane Rusaking Karajan Majapahit Abad 2 utawa 3 – Abad 16 Beboeka. Moenggoeh babading tanah Inḍija-wetan ḍek doeroeng katekan bangsa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=44&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-46" title="gus" src="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/gus.jpg?w=450" alt="gus"   /></strong></p>
<p><strong><a title="Taut Tetap ke BABAD TANAH DJAWI" href="http://alangalangkumitir.wordpress.com/2009/05/09/babad-tanah-djawi/">BABAD TANAH DJAWI</a></strong></p>
<p><strong>Gubahanipun L. VAN RIJCKEVORSEL Directeur Normaalschool Muntilan Kabantu R.D.S. HADIWIDJANA Guru Kweekschool Muntilan Pangecapan J.B. Wolters U.M. Groningen – Den Haag – Weltervreden – 1925</strong></p>
<p><strong>Perangan Kang Kapisan Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekane</strong></p>
<p><strong>Rusaking Karajan Majapahit Abad 2 utawa 3 – Abad 16</strong></p>
<p><strong>Beboeka.</strong></p>
<p><strong>Moenggoeh babading tanah Inḍija-wetan ḍek doeroeng katekan bangsa Inḍoe, seprene lagi eṭiṭik banget kang woes kawroehan. Malah wong Inḍoe ikoe bae ija doeroeng kasoemoeroepan terang ḍek kapan tekane ing ken elan keprije kaanane ing kala wiwit-wiwitane.Moeng bae woes jakin, en kemadjoean lan tata-soesilaning wong Inḍija kene iki bibit-sekawite saka dajaning wong nḍoe kang asale saka ing tanah Inḍoe sisih kidoel.Katjarita nalika taoen 261 sadoeroenge taoen alanda ing Inḍoe-ngarep ana ratoe adjedoeloel Praboe Açoka, djoemeneng nata ing negara Patalipoetra (ing sawetan Benares), lan agamane Boeda. Kresane sang Praboe pradja tjilik-tjilik ing saoebenging kono arep digoeloeng didadekake nagara sidji, kang geḍe lan sentosa. Akire bisa kelakon, meh satanah Inḍoe-ngarep kabeh mloempoek, kinoewasan ing ratoe sawidji. Moeng ing poentjit kidoel, wiwit saka saloring Madras lan Mangalore, kraton-kratone presasat madeg ḍewe-ḍewe, ora pati kewengkoe ing pradja-pradja tanah lor. Pradja-pradja sisih kidoel ikoe maoe oega geḍe dajane toemraping kemadjoean lan tata-soesilaning tanah-tanah ing sakoebenge. Dene kang djoemeneng ratoe: 1 Para Panḍawa (Pandava) kang kotjap ing lajang Maha-bharata. 2 Darah Pallava (ajake ing peketjapan Djawa: Malawa) kesoewoer wiwit atoesan taoen sadoeroenge taoen Walanda nganti tekan abad 9, dene komboel-komboele wiwit ing tengahing abad 6 tekan tengahing abad 8. Ing djaman ikoe titi-mangsa adeging jejasan kang edi-edi, kajata: tjanḍi-tjanḍi jasane Mahendra-warman (600-625). Ana wong Tjina agama Boeda djenenge Hüen-Tsang njandra pradja Pallava ikoe soerasane nelakake jen tanahe lph lan betjik pengolahe, wong-wonge paḍa poendjoel ing kawanterane, setya-toehoe, roekoen lan ngoedi marang oenḍaking kawroeh.</strong></p>
<p><strong>Kang kendel lelajaran, nganti bisa gawe koloni-koloni ana ing Indo-China, Malaka lan kapoeloan Soenḍa, ija para bangsa ing Inḍoe sisih kidoel ikoe, loewih-loewih wong Pallava. Wiwit satoes taoenan sadoeroenge taoen Walanda wis ana papan-papan sawetara kang dienggoni wong Inḍoe, dene geḍe-geḍening emigratie ana ing sadjroning abad 2 tekan 6, bokmenawa kegawa saka ing tanah Inḍoe kana kakehen djiwane lan marga saka paperangan karo bangsa-bangsa ing sisih elore.</strong></p>
<p><strong>Koloni sing geḍe-geḍe, jaikoe: Tjampa ing Annam pasisir wetan. Kambodja, kaedegake ing taoen 435. Ing kono dijasani tjanḍi-tjanḍi Brahma oetawa Boeda akeh banget. Koetei ing Borneo-lor lan Soekadana ing Borneo-kidoel. Palembang (Çrivijaya) Djawa-tengah</strong></p>
<p><strong>01 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 1</strong></p>
<p><strong>Karajan Indhu ing Tanah Jawa Kulon</strong></p>
<p><strong>(wiwit abad 2 utawa 3)</strong></p>
<p><strong>Tekane ing tanah-tanah ikoe wong Inḍoe anggawa agama (Boeda oetawa Brahma) lan kagoenan warna-warna, kajata matja, noelis, mbaṭik, medel; bandjoer jasa tjanḍi-tjanḍi lan omah apik-apik. Wong Priboemi diweroehake marang barang-pedagangan warna-warna, jaikoe bangsa sanḍang-penganggo, bangsa gegaman, peni-peni awowdjoed ontjen motiara, bekakas-bekakas lijane kang abakal gaḍing oetawa emas, lan sapanoenggalane.</strong></p>
<p><strong>Çrivijaya ikoe terang jen kegolong kang geḍe ḍewe, malah bokmenawa dadi baboning kawroeh lan kagoenan toemraping tanah-tanah lijane kang kasboet ing ḍoewoer. Ana kang ngira jen praboe Jayawarman, narendra ing Kambodja, kang miwiti jasa koeṭa lan tjanḍi-tjanḍi Angkor, ikoe darahing ratoe ing Soematra.</strong></p>
<p><strong>Pradja-pradja maoe ing sekawit nganti soewe enggone nganggo agama Boeda.</strong></p>
<p><strong>Kang wus kasumurupan, karajane bangsa Indhu ana ing Tanah Jawa, kang dhisik dhewe, diarani karajan “Tarumanagara” (Tarum = tom. kaline jeneng Citarum).</strong></p>
<p><strong>Karajan iku mau dhek abad kaping 4 lan 5 wis ana, dene titi mangsaning adege ora kawruhan. Ratu ratune darah Purnawarman. Mirit saka gambar gambar kembang tunjung kang ana ing watu watu patilasan, darah Purnawarman iku padha nganggo agama Wisnu.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 414 ana Cina aran Fa Hien, mulih saka enggone sujarah menyang patilasane Resi Budha, ing tanah Indhu Ngarep mampir ing Tanah Jawa nganti 5 sasi. Ing cathetane ana kang nerangake mangkene :</strong></p>
<p><strong>1. Ing kono akeh wong ora duwe agama (wong Sundha), sarta ora ana kang tunggal agama karo dhewekne: Budha.</strong></p>
<p><strong>2. Bangsa Cina ora ana, awit ora kasebut ing cathetane.</strong></p>
<p><strong>3. Barengane nunggang prahu saka Indhu wong 200, ana sing dedagangan, ana kang mung lelungan, karepe arep padha menyang Canton.</strong></p>
<p><strong>Yen mangkono dadi dalane dedagangan saka tanah Indhu Ngarep menyang tanah Cina pancen ngliwati Tanah Jawa. Ing Tahun 435 malah wis ana utusane Ratu Jawa Kulon menyang tanah Cina, ngaturake pisungsung menyang Maharaja ing tanah Cina, minangka tandhaning tetepungan sarta murih gampang lakuning dedagangan.</strong></p>
<p><strong>Karajan Tarumanagara mau ora kasumurupan pirang tahun suwene lan kepriye rusake. Wong Indhu ana ing kono ora ngowahake adat lan panguripane wong bumi, awit pancen ora gelem mulangi apa apa, lan wong bumi uga durung duwe akal niru kapinterane wong Indhu.</strong></p>
<p><strong>Ewa dene meksa ana kaundhakaning kawruhe, yaiku mbatik lan nyoga jarit.</strong></p>
<p><strong>02 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 2</strong></p>
<p><strong>Karajan Indhu ing Jawa Tengah (abad kaping 6)</strong></p>
<p><strong>Mirit saka:</strong></p>
<p><strong>1. Cathetane bangsa Cina.</strong></p>
<p><strong>2. Unining tulisan tulisan kang ana ing watu watu lan candhi.</strong></p>
<p><strong>3. Cathetane sawijining wong Arab, wis bisa kasumurupan sathithik sathithik mungguh kaananing wong Indhu ana ing Tanah Jawa Tengah dhek jaman samono.</strong></p>
<p><strong>Nalika wiwitane abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa Kulon. Ana ing kono padha kena ing lelara, mulane banjur padha nglereg mangetan, menyang Tanah Jawa Tengah.</strong></p>
<p><strong>Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterane, yen ditandhing karo wong Indhu kang lagi neneka mau; mulane banjur dadi sor-sorane. Wong Indhu banjur ngadegake karajan ing Jepara. Omah omah padunungane wong Jawa, ya wis memper karo omah omahe wong jaman saiki, apayon atep utawa eduk lan wis nganggo kepang. Enggone dedagangan lelawanan karo wong Cina; barang dedagangane kayata: emas, salaka, gading lan liya liyane. Cina cina ngarani nagara iku Kalinga, besuke, ya diarani: Jawa. Karajan mau saya suwe saya gedhe, malah nganti mbawahake karajan cilik cilik 28 (wolu likur). Wong Cina uga nyebutake asmane sawijining ratu putri: Sima; dikandakake becik banget enggone nyekel pangrehing praja (tahun 674). Tulisaning watu kang ana cirine tahun 732, dadi kang tuwa dhewe, katemu ana sacedhake Magelang, nyebutake, manawa ana ratu kang jumeneng, jejuluk Prabu Sannaha, karajane gedhe, kang klebu jajahane yaiku tanah tanah Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta lan bokmenawa Tanah Jawa Wetan uga klebu dadi wewengkone karajan iku.</strong></p>
<p><strong>Mirit caritane, karajan kang kasebut iku tata tentrem banget kaya kang kasebut ing tulisan kang katemu ana ing patilasan: Nadyan wong wong padha turu ana ing dalan dalan, ora sumelang, yen ana begal utawa bebaya liyane. Mirit kandhane sawijining wong Arab, dhek tengah tengahane abad kang kaping sanga, ratu ing Tanah Jawa wis mbawahake tanah Kedah ing Malaka (pamelikan timah).</strong></p>
<p><strong>Karajan ing dhuwur iki sakawit ora kawruhan jenenge, nanging banjur ana karangan kang katulis ing watu kang titi mangsane tahun 919, nyebutake karajan Jawa ing Mataram. Jembar jajahane, mungguha saiki tekan Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta; manglore tekan sagara; mangetane tekan tanah tanah ing Tanah Jawa Wetan sawatara. Kuthane karan : Mendhangkamulan.</strong></p>
<p><strong>Wong Arab ngandhakake, ana ratu Jawa mbedhah karajan Khamer (Indhu Buri). Sing kasebut iki ayake iya karajan Mataram mau. Kajaba Khamer, karajan Jawa iya wis mbawahake pulo pulo akeh. Pulo pulo iku mawa gunung geni. Karajan Jawa mau sugih emas lan bumbu craken. Wong Arab iya akeh kang lelawanan dedagangan.</strong></p>
<p><strong>Sabakdane tahun 928 ora ana katrangan apa apa ing bab kaanane karajan Mataram. Kang kacarita banjur ing Tanah Jawa Wetan. Ayake bae karajan Mataram mau rusak dening panjebluge gunung Merapi (Merbabu), dene wonge kang akeh padha ngungsi mangetan. Ing abad 17 karajan Mataram banjur madeg maneh, gedhe lan panguwasane irib iriban karo karajan Mataram kuna.</strong></p>
<p><strong>Agamane wong Indhu sing padha ngejawa rupa rupa. Ana ing tanah wutah getihe dhewe ing kunane wong Indhu ngedhep marang Brahma, Wisnu lan Syiwah, iya iku kang kaaranan Trimurti. Kejaba saka iku uga nembah marang dewa akeh liya liyane, kayata: Ganesya, putrane Bethari Durga.</strong></p>
<p><strong>Manut piwulange agama Indhu pamerange manungsa dadi patang golongan, yaiku:</strong></p>
<p><strong>- para Brahmana (bangsa pandhita).</strong></p>
<p><strong>- para Satriya (bangsa luhur).</strong></p>
<p><strong>- para Wesya (bangsa kriya).</strong></p>
<p><strong>- para Syudra (bangsa wong cilik).</strong></p>
<p><strong>Piwulange agama lan padatane wong Indhu kaemot ing layang kang misuwur, jenenge Wedha. Kira kira 500 tahun sadurunge wiwitane tahun Kristen, ing tanah Indhu ana sawijining darah luhur peparab Syakya Muni, Gautama utawa Budha. Mungguh piwulange geseh banget karo agamane wong Indhu mau. Resi Budha ninggal marang kadonyan, asesirik lan mulang muruk marang wong. Kajaba ora nembah dewa dewa, piwulange: sarehne wong iku mungguhing kamanungsane padha bae, dadine ora kena diperang patang golongan. Para Brahmana Indhu mesthi bae ora seneng pikire, mulane kerep ana pasulayan gedhe. Ana ing tanah Indhu wong Budha mau banjur peperangan karo wong agama Indhu. Wusana bangsa Budha kalah lan banjur ngili menyang Ceylon sisih kidul, Indu Buri, Thibet, Cina, Jepang. Mungguh wong agama Indhu iku pangedêpe ora padha. Ana sing banget olehe memundhi marang Syiwah yaiku para Syiwaiet (ing Tanah Jawa Tengah); ana sing banget pangedêpe marang Wisynu, yaiku para Wisynuiet (ing Tanah Jawa Kulon). Kajaba saka iku uga akeh wong agama Budha, nanging ana ing Tanah Jawa agama agama iku bisa rukun, malah sok dicampur bae. Petilasane agama Indhu mau saikine akeh banget, kayata:</strong></p>
<p><strong>- Candhi candhi ing plato Dieng (Syiwah), iku bokmenawa yasane ratu darah Sanjaya.</strong></p>
<p><strong>- Candhi ing Kalasan ana titi mangsane tahun 778, ayake iki candhi tuwa dhewe (Budha), yasane ratu darah Syailendra.</strong></p>
<p><strong>- Candhi Budha kang misuwur dhewe, yaiku Barabudhur lan endut.</strong></p>
<p><strong>- Candhi Prambanan (Syiwah). Ing sacedhake Prambanan ana candhi campuran Budha lan Syiwah.</strong></p>
<p><strong>03 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 3</strong></p>
<p><strong>Karajan Ing Tanah Jawa Wetan</strong></p>
<p><strong>(wiwitane abad 10 – tahun 1220)</strong></p>
<p><strong>Ing dhuwur wus kasebutake yen Tanah Jawa Wetan, kabawah karajan Indhu ing Mataram; nanging wong Indhu kang manggon ana ing Tanah Jawa Wetan ora pati akeh, yen katimbang karo kang manggon ing Tanah Jawa Tengah (Kedhu). Marga saka iku wong Indhu kudu kumpul karo wong bumi, prasasat tunggal dadi sabangsa. Ing wiwitane abad 10 ana pepatihing karajan Tanah Jawa Tengah aran Empu Sindhok lolos mangetan. Let sawatara tahun empu Sindhok mau jumeneng ratu ing Tanah Jawa Wetan, karajane ing Kauripan (Paresidhenan Surabaya sisih kidul).</strong></p>
<p><strong>Ambawahake: Surabaya, Pasuruwan, Kedhiri, Bali bok manawa iya kabawah. Enggone jumeneng ratu tekan tahun 944 lan iya jejuluk Nata ing Mataram. Nata ing Mataram mau banget pangedêpe marang agama Budha. Empu Sindhok misuwur wasis enggone ngereh praja. Ana cathetan kang muni mangkene: “Awit saka suwening enggone jumeneng ratu, marcapada katon tentrem; wulu wetuning bumi nganti turah turah ora karuhan kehe.”</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1010 Erlangga tetep jumeneng ratu, banjur nerusake enggone mangun paprangan lan ngelar jajahan. Ing tahun 1037 enggone paprangan wis rampung, negara reja, para kawula padha tentrem. Dene karatone iya ana ing Kauripan. Sang Prabu Erlangga ora kesupen marang kabecikaning para pandhita lan para tapa, kang gedhe pitulungane nalika panjenengane lagi kasrakat.</strong></p>
<p><strong>Minangka pamalesing kabecikane para pandhita, Sang Nata yasa pasraman apik banget, dumunung ing sikile gunung Penanggungan. Pasraman mau kinubeng ing patamanan kang luwih dening asri, lan rerenggane sarwa peni sarta endah. Saka edine, nganti misuwur ing manca praja, saben dina aselur wong kang padha sujarah mrono.</strong></p>
<p><strong>Pangadilane Sang Nata jejeg. Wong desa kang nrajang angger angger nagara padha kapatrapan paukuman utawa didhendha. Kecu, maling, sapanunggalane kapatrapan ukum pati. Sang Prabu enggone nindakake paprentahan dibantu ing priyagung 4, padha oleh asil saka pametuning lemah lenggahe.</strong></p>
<p><strong>Saka enggone manggalih marang tetanen yaiku pagaweyaning kawula kang akeh, Sang Nata yasa bendungan gedhe ana ing kali Brantas. Sang Nata uga menggalih banget marang panggaotan lan dedagangan. Kutha Tuban nalika samono panggonan sudagar, oleh biyantu akeh banget saka Sang Prabu murih majuning dedagangan lan lelayaran.</strong></p>
<p><strong>Sang Nata yen sinewaka lenggah dhampar (palenggahan cendhek pesagi), ngagem agem ageman sarwa sutra, remane diukel lan ngagem cênela. Yen miyos nitih dwipangga utawa rata, diarak prajurit 700. Punggawa lan kawula kang kapethuk tindake Sang Nata banjur padha sumungkem ing lemah (ndhodhok ngapurancang?). Para kawula padha ngore rambut, enggone bebedan tekan ing wates dhadha. Omahe kalebu asri, nganggo payon gendheng kuning utawa abang. Wong lara padha ora tetamba mung nyuwun pitulunganing para dewa bae, utawa marang Budha. Wong wong padha seneng praon lan lelungan turut gunung, akeh kang nunggang tandhu utawa joli. Dhek samono wong wong iya wis padha bisa njoget, gamelane suling, kendhang lan gambang.</strong></p>
<p><strong>Karsane Sang Prabu besuk ing sapengkere kang gumanti jumeneng Nata putrane loro pisan, mulane kratone banjur diparo: Jenggala (sabageyaning: Surabaya sarta Pasuruwan) lan Kedhiri.</strong></p>
<p><strong>Dene kang minangka watese: pager tembok kang sinebut “Pinggir Raksa”, wiwit saka puncaking Gunung Kawi, mangisor, nurut kali Leksa banjur urut ing branglore kali Brantas saka wetan mangulon tekan ing desa kang saiki aran “Juga”, nuli munggah mangidul, teruse kira kira nganti tumeka ing pasisir. Gugur gugurane tembok iku saiki isih ana tilase, kayata ing sacedhaking kali Leksa, sakulon lan sakiduling kali Brantas, ing watesing afd. Malang lan Blitar.</strong></p>
<p><strong>Mungguhing babad Jawa jumenenge Prabu Erlangga kaanggep minangka pepadhang sajroning pepeteng, awit rada akeh caritane kang kasumurupan. Kawruh kasusastran wis dhuwur. Layang layange ing jaman iku tekane ing jaman saiki isih misuwur becik lan dadi teturutaning crita crita wayang. Layang layang mau basane diarani: Jawa Kuna, kayata:</strong></p>
<p><strong>1. Layang Mahabarata</strong></p>
<p><strong>2. Layang Ramayana lan Arjuna Wiwaha.</strong></p>
<p><strong>Karajan Jenggala ora lestari gedhe, awit pecah pecah dadi karajan cilik cilik, marga saka diwaris marang putraning Nata; yaiku praja Jenggala (Jenggala anyar); Tumapel utawa Singasari lan Urawan. Karajan cilik cilik kang cedhak wates Kedhiri or suwe banjur ngumpul melu Kedhiri, liyane isih terus madeg dhewe nganti tekan abad 13. Kerajan Kedhiri (Daha, Panjalu) mungguha saiki mbawahake paresidhenan Kedhiri, saperangane Pasuruwan lan Madiyun. Kuthane ana ing kutha Kedhiri saiki. Karajan mau bisa dadi kuncara. Ing wektu iku kasusastran Jawa dhuwur banget, nalika jamane Jayabaya (abad 12) ngluwihi kang uwis uwis lan tumekane jaman saiki isih sinebut luhur, durung ana kang madhani.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1104 ing kedhaton ana pujangga jenenge: Triguna utawa Managocna. Pujangga iku sing nganggit layang Sumanasantaka lan Kresnayana. Raden putra utawa Panji kang kacarita ing dongeng kae, bokmenawa iya ratu ing Daha, kang jejuluk Prabu Kamesywara I. Jumeneng ana wiwitane abad kang kaping 12. Garwane kekasih ratu Kirana (Candra Kirana) putrane ratu Jenggala. Ing mangsa iki ana pujangga jenenge Empu Dharmaja nganggit layang Smaradhana. Raden Panji nganti saiki tansah kacarita ana lakone wayang gedhog lan wayang topeng. Pujanggane Jayabaya aran Empu Sedah lan Empu Panuluh. Empu Sedah ing tahun Saka 1079 (= 1157) methik saperanganing layang Mahabarata, dianggit lan didhapur cara Jawa, dijenengake layang Bharata Yudha. Wong Jawa ing wektu iku wis pinter, wong Indhu kesilep, karajan Indhu wis dadi karajan Jawa.</strong></p>
<p><strong>04 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 4</strong></p>
<p><strong>Ken Angrok Nelukake Karajan Karajan Cilik (1220 – 1247)</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1222 ana ratu ing Tumapel utawa Singasari, jenenge Ken Angrok.</strong></p>
<p><strong>Critane Ken Angrok iki saka layang Pararaton. Ketemune layang iki ana ing Bali dhek tahun 1891. Ken Angrok lair ana ing sacedhake Tumapel (Singasari), asal wong tani lumrah bae. Ken Angrok kacarita bagus rupane lan bisa nenarik katresnaning wong, nanging banget kareme marang pangaji aji lan wani marang penggawe luput. Ing sawijining dina ana Brahmana ketemu karo dhewekne, kandha yen dhewekne titising Wisnu. Anggone kandha mangkono iku, awit Brahmana mau ngerti yen Ken Angrok iku wong kang gedhe karepe lan kenceng budine. Brahmana banjur golek dalan bisane Ken Angrok kacedhak karo adipati ing kono, Sang Tunggul Ametung. Ora antara suwe kelakon Ken Angrok kaabdekake. Bareng wis mangkono, Ken Angrok banjur tansah golek dalan kapriye enggone bisa ngendhih Sang Adipati, nggenteni jumeneng. Ketemuning nalar Ken Angrok banjur ndandakake keris becik marang Empu Gandring. Sawise keris dadi, katon becik temenan, nganti mitrane Ken Angrok aran Keboijo kepencut kepengin nganggo, banjur nembung nyilih: oleh. Saka senenge, keris mau saben dina dianggo sarta dipamer pamerake, dikandhakake duweke dhewe. Bareng wis sawatara dina Ken Angrok banjur nyolong kerise dhewe kang lagi disilih ing mitrane mau dianggo nyidra Sang Adipati. Kelakon seda, keris ditinggal ing sandhinge layon. Urusaning prakara: mitrane Ken Angrok sing kena ing dakwa, diputus ukum pati. Ken Angrok banjur bisa oleh Sang putri randaning Tunggul Ametung lan gumanti madeg adipati: Sang Putri asmane Ken Dhedhes.</strong></p>
<p><strong>Sasuwene dicekel Ken Angrok negarane tata, reja, wong cilik banget sungkeme. Sawise mbedhah karajan cilik cilik ing Jenggala, Ken Angrok banjur emoh kebawah Kedhiri, malah ing tahun 1222 mbedhah praja Kedhiri nganti kelakon menang, Ratu ing Kedhiri Prabu Kertajaya seda nggantung sabalane kang padha tuhu. Kedhiri banjur ditanduri adipati kabawah Singasari. Bareng para ratu darah Empu Sindhok wis kalah kabeh karo Ken Angrok, Ken Angrok banjur jumeneng Ratu gedhe, jejuluk Prabu Rejasa, yaiku kang nurunake para ratu ing Majapait.</strong></p>
<p><strong>Kacarita Sang Retna Dhedhes nalika sedane adipati Tunggul Ametung wis ambobot. Bareng wis tekan mangsane, Sang Retna mbabar putra kakung, diparingi peparab Raden Anusapati. Wiwit timur nganti diwasa Sang Pangeran ora ngerti yen satemene dudu putrane Prabu Rejasa, nanging rumangsa yen ora ditresnani ing Sang Prabu, beda banget karo rayi rayine. Ing sawijining dina Anusapati kelair marang ibune mangkene: “Ibu, punapa, dene Kangjeng rama punika teka boten remen dhateng kula?” Sang Retna banget trenyuhing galih mireng atur sasambate kang putra, wasana banjur keprojol pangandikane; kang putra dicritani lelakone wiwitan tekan wekasan. Anusapati banget ing pangungune, sanalika banjur duwe sedya males ukum, nanging isih sinamun ing semu. Keris yasane Empu Gandring disuwun, pawatane mung kepingin banget anganggo. Kang ibu lamba ing galih, keris diparingake.</strong></p>
<p><strong>Anusapati banjur nimbali abdine kekasih, diparingi keris mau lan diweruhake ing wewadine. Bengine Sang Prabu seda kaprajaya ing duratmaka. Layone Sang Prabu dicandhi ana ing Kagenengan (cedhak Malang). Anusapati nggenteni jumeneng Nata. Anusapati jumeneng ora suwe, awit Raden Tohjaya ngerti yen Anusapati kang nyedani ramane, mulane sumedya males ukum lan iya kelakon. Tohjaya jumeneng Nata, nanging iya ora suwe. Tohjaya utusan mantrine aran Lembu Ampal, didhawuhi nyirnakake kalilipe loro, yaiku: Ranggawuni, putrane Anusapati, lan nakdulure kang aran Narasingamurti; yen ora bisa kelakon, Lembu Ampal dhewe bakal kena ukum pati.</strong></p>
<p><strong>Dumadakan ana sawijining Brahmana kang welas marang raden loro, banjur wewarah saperlune. Satriya loro banjur ndhelik ana ing panggonane Panji Patipati. Lembu Ampal nggoleki raden loro ora ketemu, banjur ora wani mulih, ngungsi marang Panji Patipati. Bareng ana ing kono mbalik ngiloni raden loro, malah ngrembugi para punggawa kang ora cocog karo Tohjaya diajak ngraman, wasana kelakon, Sang Prabu nganti nemahi seda.</strong></p>
<p><strong>Ranggawuni jumeneng Nata ajejuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhereke Narasinga. Nganti tekan ing seda priyagung loro mau rukun banget, nganti dibasakake: “Kaya Wisynu lan kang raka Bathara Endra”. Karatone mundhak gedhe pulih kaya dhek jamane Prabu Erlangga, malah jajahane wuwuh Madura. Sang Nata seda ing tahun 1268, layone diobong kaya adat, awune sing separo dicandhi ana ing Weleri, ditumpangi reca Syiwah, sing separo dipethak ana candhi Jago (Tumpang) nganggo reca Budha. Dadi tetela ing wektu iku agama Syiwah karo Budha campur.</strong></p>
<p><strong>05 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 5</strong></p>
<p><strong>Jumenenge Kartanagara ing Tumapel (1268 – 1292)</strong></p>
<p><strong>Ratu Singasari kang Kaping V, jumeneng mekasi. Sasedane Syri Wisynuwardhana pangeran pati jumeneng Nata, ajejuluk Prabu Kartanagara. Sang Prabu manggalih marang kawruh kagunan, lan kasusastran, lan iya manggalih marang undhaking jajahan, nanging kurang ngatos atos, lan kersa ngunjuk nganti dadi wuru. Ana nayakaning praja aran Banyak Widhe utama Arya Wiraraja, tepung becik lan Jayakatwang, adipati ing Daha. Satriya iku ora sungkem marang ratune, malah wis sekuthon karo Jayakatwang, arep mbalela. Dumadakan ana punggawa kang matur prakara iku, nanging Sang Prabu ora menggalih, Wiraraja malah diangkat dadi adipati ana ing Madura.</strong></p>
<p><strong>Pepatihe Sang Nata aran Raganatha rumeksa banget marang ratune, nganti sok wani ngaturi penget marang Sang Prabu ing bab kang ora bener, nanging Sang Prabu ora rena ing galih, ora nimbangi rumeksaning patih setya iku, malah banjur milih patih liya kang bisa ngladeni karsane. Patih wredha diundur, winisuda dadi: nayaka pradata, dadi wis ora campur karo prakara pangreh praja. Patih anyar senenge mung ngalem marang ratune lan ngladosi unjuk unjukan.</strong></p>
<p><strong>Ana utusan saka ratu agung ing nagara Cina (Chubilai) dhawuh supaya Prabu Kartanagara nyalirani dhewe utawa wakilsuwana marang nagara Cina perlu caos bekti (tahun 1289). Sang Prabu duka banget. Bathuking Cina utusan digambari pasemon kang ora apik, nelakake dukane Sang Prabu. Bareng tekan ing nagara Cina patrape ratu Jawa kang mangkono iku mau njalari dukane ratu binathara ing Cina, Ing tahun1292 ana prajurit gedhe saka ing Cina arep ngukum ing kuwanene wong Jawa. Wiraraja sasuwene ana ing Madura isih ngrungok ngrungokake apa kang kalakon ana ing Singasari, lan iya weruh uga yen ing wektu iku prajurit Singasari dilurugake menyang Sumatra. Wiraraja ngajani Jayakatwang akon nangguh mbedhah Singasari, mumpung nagara lagi kesisan bala. Jayakatwang ngleksanani, lan Singasari kelakon bedhah. Ratu lan patihe katungkep ing mungsuh isih terus unjuk unjukan bae (wuru), mulane ora rekasa pinurih sedane.</strong></p>
<p><strong>Raden Wijaya, wayahe Narasinga, nuli umangsah ngetog kaprawiran mbelani nagara lan ratune, nanging wis kaslepek karoban wong Daha, mulane banjur kepeksa ngoncati, mung kari nggawa bala 12, genti genti nggendhong Sang Putri garwane Raden Wijaya, putrane Prabu Kartanagara. Lampahe Raden Wijaya sasentanane nusup angayam alas. Kalebu wilangan 12 iku ana satriyane loro, putrane Wiraraja, duwe atur marang Gustine supaya ngungsi menyang Madura. Sang Pangeran maune ora karsa, nanging suwe suwe nuruti. Ana ing Madura ditampani kalawan becik. Rembuge Wiraraja, Raden Wijaya diaturi suwita menyang Daha. Wiraraja sing arep nglantarake. Yen wis kelakon suwita Raden Wijaya diaturi nyetitekake para punggawa ing Daha, sapa sing kendel utawa jirih, tuhu utawa lamis. Yen wis antara suwe diaturi nyuwun tanah tanah Trik, dibabada banjur dienggonana. Raden Wijaya nurut ing pitudhuh, lan iya kelakon suwita ing Daha. Kacarita pasuwitane kanggep banget, amarga saka pintere nuju karsa, lan saka pintere olah gegaman; wong sa Daha ora ana sing bisa ngalahake. Kabeh piwulange Wiraraja ditindakake, dilalah Sang Prabu teka dhangan bae, malah bareng tanah Trik wis dibabad, Raden Wijaya nyuwun manggon ing kono iya dililani. Kacarita nalika babade tanah Trik mau, ana wong kang methik woh maja dipangan, nanging rasane pait. Awit saka iku desa ingkono mau banjur dijenengake Majapait. Bareng Raden Wijaya wis manggon ing Majapait, rumangsa wis wayahe tata tata males ukum, ngrusak kraton Daha, ananging Wiraraja akon sabar dhisik, awit isih ngenteni prajurit saka nagara Cina kang arep ngukum wong Singasari. Karepe Wiraraja arep ngrewangi Cina bae dhisik, besuke arep mbalik mungsuh Cina. Wiraraja banjur boyong sakulawargane lan saprajurite menyang Majapait ngumpul dadi siji karo Raden Wijaya.</strong></p>
<p><strong>06 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 6</strong></p>
<p><strong>Karajan Melayu Ing Bab 5 ana critane</strong></p>
<p><strong>Prabu Kartanagara enggone anjangka undhaking jajahane.</strong></p>
<p><strong>Ana ing tanah Sumatra kelakon bisa oleh jajahan. Ing ngisor iki crita sathithik tumraping karajan karajan ing tanah Melayu. Kacarita ratu ing Funan, kira kira ing sajroning abad 3 ngelar jajahan, ngelun tanah Sumatra, Jawa lan liya liyane, ayake ratu iku kang yasa reca reca ing tanah Pasemah. Ing abad kapitu ana golonganing para pangeran saka ing Indhu Buri, padha manggon ing sakiwa tengening Palembang, banjur ngedegake nagara gedhe, jenenge karajan çrivijaya (= Syriwijaya, sinebut ing bangsa Cina nagara: Sambotsai). Ratu ratune padha darah Warman, isih dumunung sanak karo darah Purnawarman ing Tanah Jawa dhek abad 4 – 5, apadene darah Mulawarman ing Kutai lan Borneo dhek watara tahun 400. Nagara çrivijaya jajahane kira kira Sumatra sisih kidul lan tengah, Malaka, Kamboja lan malah tekan Tanah Jawa. Ing tahun 686 ratu agung ing negara çrivijaya nglurugi Tanah Jawa, awit Tanah Jawa ora tuhu pangedhêpe marang çrivijaya. Sajroning abad 10 prajurit Jawa genti nglurugi çrivijaya, menang, nanging ora suwe çrivijaya bisa kombul maneh. Praja iku ajeg enggone nglakokake utusan marang Narendra ing Cina. Ing sajroning abad 12 lan 13 nagara gedhe çrivijaya pecah dadi karajan cilik cilik. Darah Warman jumeneng ana ing tanah kang sinebut tanah: “Melayu” yaiku saikine Jambi. Rehning pasisire tanah Melayu kono akeh rerusuh, wonge akeh kang padha ngungsi marang tanah pagunungan kang loh, ana ing kono padha dedhukuh. Bareng Tanah Jawa gedhe panguwasane, Prabu Kartanagara (1268 – 1292) kalakon bisa ngrusak kutha Pasei, lan ngejegi Jambi, Palembang, Riouw sarta kutha kutha akeh ing Borneo apadene pulo pulo ing Moloko. Ing saantaraning tahun 1275 lan 1293 wong Jawa nglurugi tanah pagunungan Jambi mau yaiku tanah kang besuke aran Menangkabau. Lurugan iku diarani: Pamalayu. Ing tahun 1268 Prabu Kartanagara angganjar reca marang ratu ing Dharmmaçraya (Darmasraya) uga dumunung ing tanah Jambi, ing saikine ora adoh karo Sungai Lansat. Karajan iku ing besuke kalebu jajahan Majapait, rajane darah Warman jejuluk Tribuwana (Mauliwarman) kagungan garwa bangsa Melayu, kang putrine (putrane putri) ayake dai garwane Raden Wijaya biyen. Sang Raja Tribhuwana melu karo bangsa Jawa nglurugi tanah Padhang Hulu. Miturut carita Melayu, lurugan mau ora oleh gawe, mung marga saka klebu ing gelar, kalah enggone adu kebo, mulane kuthane banjur jeneng Menangkabau iku. Ana raja wewengkone karajan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman nagarane ing Malayupura, kang ing tahun 1347 wus merdika, ambawa pribadhi, iku nglurugi Menangkabau, nanging ora nganti dadi perang, malah banjur diangkat dadi raja ing kono, awit pancen dianggep bangsa Melayu. Jumenenge ana ing Menangkabau wiwit tahun 1347 tekan 1375, kecrita ing kawicaksanane lan pintere nyekel praja.</strong></p>
<p><strong>Tumeka saprene Sang Adityawarman sarta nayakane loro kang aran Papatih Sabatang lan Kyai Katumanggungan isih dipundhi pundhi marang bangsa Menangkabau. Sapungkure Sang Aditya wis ora ana raja ing Menangkabau kang kecrita. Negarane pecah pecah, ing saiki isih akeh titike, mungguh ing kaluhuraning para raja Jawa asal Indhu, ana ing tanah Menangkabau kono, luwih luwih tumraping basa lan sastrane. Darah raja raja kuna ing Menangkabau mau enteke durung lawas, kang pungkas pungkasan putri, sedane lagi saiki bae.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1377 kutha Sanbotsai ing tanah Palembang rinusak ing balane Prabu Ayamwuruk. Kang kuwasa ing tanah Palembang kasebut jeneng Arya Damar nurunake Raden Patah (+/- tahun 1500). Awit saka ambruking karaton Majapait, Palembang iya katut apes, besuke kalah karo Banten. Kaluhuraning Tanah Jawa ana ing Sumatra sisih kidul kono tumekane dina iki uga iya isih akeh tilas tilase.</strong></p>
<p><strong>07 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 7</strong></p>
<p><strong>Perang Cina lan Adege Karajan Majapait (1292)</strong></p>
<p><strong>Ing tengah tengahane tahun 1292 Maharaja Choebilai sida ngangkatake wadya bala menyang ing Tanah Jawa perlu arep ngukum Prabu Kartanagara. Ana ing pacekan (Surabaya) prau Jawa kalah, nuli bala Cina arep nglurugi9 Daha, kang dikira panggonane Kartanagara (kang nalika iku wis seda). Kacarita Raden Wijaya dhek jaman samono wus wiwit mbalela marang Jayakatwang ratu ing Daha. Sarehne duwe pangarep arep bisaa ditulungi ing Cina numpes ratu ing Daha, mulane Raden Wijaya banjur gawe gelar ethok ethok arep teluk marang senapati Cina. Kabeneran ora let suwe Majapait, panggonane Raden Widjaya ditempuh ing wong Daha, Raden Wijaya entuk pitulungane wong Cina bisa menang. Wasana ing tahun 1293 kutha Daha dikepung ing balane Shih Pih lan Raden Wijaya, Daha bedhah, ratune kacekel, peni peni raja peni dijarah rayah, Raden Wijaya nulungi putri putri, putrane Prabu Kartanagara digawa oncad menyang Majapait. Ora antara suwe, marga saka akale Wiraraja, Raden Wijaya bisa ngusir prajurit Cina. Wondene prajurit mau, senadyan kesusu susu meksa isih bisa anggawa barang rayahan, pengaji mas satengah yuta tail lan tawanan wong satus saka Daha. Raden Wijaya banjur jumeneng Nata ing Majapait, jejuluk Kertarejasa Jayawardhana utawa Brawijaya I (tahun 1294 – 1309).</strong></p>
<p><strong>Sawise jumeneng Nata, Sang Prabu anggeganjar marang sakabehing kawula kang maune labuh, marang panjenengane. Wiraraja dibagehi tanah Lumajang saurute. Putrine Kartanagara papat pisan dadi garwane Sang Prabu, lan isi ana garwa paminggir siji saka tanah Melayu aran Sri Indresywari. Saka garwa paminggir iki Sang Prabu kagungan putra R. Kaligemet, kang besuke nggentos kaprabon, ajejuluk Jayanegara, saka Prameswari Sang Prabu peputra putri loro. Ing tahun 1295 R. Kalagemet lagi yuswa sataun wis diangkat dadi pangeran pati lan dadi ratu ing Kedhiri, ibune kang ngembani nyekel praja Kedhiri. Ing nalika panjenengane Prabu Kertarejasa Jayawardhana iku, Tanah Jawa karo Cina becik maneh, perdagangane gedhe, wong Cina teka ing Tanah Jawa nggawa mas, salaka, merjan, sutra biru, sutra kembang kembangan, bala pecah lan dandanan wesi. Saka ing Tanah Jawa, Cina kulak: beras, kopi kapri, rami, bumbon craken luwih luwih mrica, barang barang mas utawa salaka, bangsa dandanan kuningan utawa tembaga, tenunan kapas lan sutra, welirang, gading, cula warak, kayu warna warna, manuk jakatuwa lan barang nam naman.</strong></p>
<p><strong>Ing Tanah Jawa ing wektu iku akeh palabuhan rame, kayata: Tuban, Sedayu; Canggu. Nalika jamane ratu iki ing bawah karaton Majapait kena dibasakake ungsum kraman. Para satriya kang melu lara lapa dhek jamane Raden Wijaya saiki ora oleh ati, awit Sang Prabu mung anggega aturing nayakane kang aran Mahapati, wasana para satriya mau banjur genti genti padha ngraman, nanging temahan asor jurite. Ing tahun 1328 Sang Prabu seda, dicidra ing dukun kang didhawuhi ambedhel salirane. Sasedane Prabu Jayanegara kang gumanti sadhereke putri, kang sesilih Bhreng Kauripan banjur jejuluk Jayawisynuwardhani. Sang nata dewi krama oleh satriya, kekasih Kartawardhana, misuwur pinter, sregep lan jejeg penggalihe. Sang Pangeran diangkat dadi panggedhening jaksa lan oleh lungguh bumi Singasari sawewengkone. Gajahmada dadi warangkaning ratu. Karepe Gajahmada arep nungkulake satanah Jawa kabeh lan pulo pulo sakiwatengene. Ora let suwe yaiku tahun 1334 Sumbawa lan Bali bedhah banjur kabawah marang Majapait, mangka Bali nalika samana wis mbawahake Lombok, Madura, Blambangan lan Selebes sabageyan. Senapatining prajurit kang ngelar jajahan ing sajabaning Jawa aran Nala. Ing tahun 1334 Sang Raja putri mbabar miyos kakung diparabi Ayam Wuruk, kang banjur dijumenengake Nata, nanging isih diembani kang ibu nganti tekan tahun 1350.</strong></p>
<p><strong>08 Perangan Kang Kapisan</strong></p>
<p><strong>Bab 8</strong></p>
<p><strong>Ayam Wuruk, Syri Rajasanagara,</strong></p>
<p><strong>Ratu kang kaping IV ing Majapait (tahun 1350 – 1389)</strong></p>
<p><strong>Awit saking gedhene lelabuhane Patih Gajahmada, nagara Majapait saya suwe saya misuwur kuwasane. Prabu Ayam Wuruk tetep jumeneng ratu agung binathara ngereh sapepadhaning ratu. Sang Nata krama oleh nakdhereke piyambak kang wewangi Retna Susumnadewi. Para santanane padha ginadhuhan tanah dhewe dhewe ing samurwate. Dene kuwajibane para santana utawa adipati mau ing mangsa kang wus ditamtokake kudu ngadhep ing panjenengane Nata, mulane kabeh padha duwe dalem becik becik ana ing Majapait, muwuhi asrining nagara. Ing jaman iku ana pujangga kraton aran “Prapanca” (Budha). Ing tahun 1365 pujangga iki nganggit layang kang aran Nagarakertagama. Ana maneh pujangga aran Empu Tantular nganggit layang Arjunawiwaha. Majapait ing wektu iku emeh mbawahake satanah Indhiya Wetan kabeh, kayata: Tanah Jawa Wetan lan Tengah, Sumatra, wiwit Lampung tekan Acih (Perlak), Borneo (Banjarmasin), Selebes (Banggawai, Salaiya, Bantaiyan), Flores (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparoning Malaka lan sabageyaning Nieuw Guinea.</strong></p>
<p><strong>Tanah Sundha ora ditelukake. Kang jumeneng ratu ana ing tanah Sundha mau ajejuluk Prabu Wangi, putrane putri dilamar Prabu Ayam Wuruk iya dicaosake, ananging Prabu Wangi banjur pasulayan karo Patih Gajahmada, nganti dadi perang. Prabu Wangi seda ing paprangan lan akeh punggawane kang mati ana paprangan; ewadene tanah Sundha ora dibawah Majapait, isih madeg dhewe ing sateruse.</strong></p>
<p><strong>Ing Jaman samono paro ajar utawa pandhita (agama Budha utawa Syiwah) melu nindakake paprentahan nagara, mulane padha diparingi lungguh bumi dhewe dhewe kang diarani bumi: Pradikan. Padesan ing sakubenging candhi utawa padhepokaning para pandhita lumrahe uga dadi bumi pradikan, wonge diwajibake jaga lan ngopeni candhi padhepokan mau. Kawula liyane padha kena pajeg prapuluhan (saprapuluhing pametuning bumine), lan kena ing pagaweyan gugur gunung lan sapepadhane. Pajeg rajakaya, pajeg panggaotan lan tambangan ing wektu samono iya wis ana. Pametoning praja gedhe banget, perlu kanggo ragad perang lan kanggo kapraboning Sang Nata sarta kanggo yeyasan nagara, kayata: kraton, gedhong gedhong, pasanggrahan pasanggrahan lan liya liyane.</strong></p>
<p><strong>Ing nagara Majapait wis akeh omah kang becik becik, payone sirap, dene omah kang lumrah padha apager gedheg, ananging ing jero racake ana pethine watu kang santosa perlu kanggo nyimpen barange kang pangaji. Wong wong dhek jaman samono padha doyan nginang, senengane padha tuku bala pecah saka juragan Cina, pambayare nganggo dhuwit sing diarani Kepeng. Wong lanang padha ngore rambut, wong wadon gelungan kondhe. Wiwit enom wong wong padha nganggo gegaman keris, lan gegaman iku kerep diempakake. Wong yen mati jisime diobong, yen sing mati iku bangsa luhur utawa wong sugih bojo bojone (randha randhane) padha melu obong. Ora adoh saka nagara ana papan kanggo adu adu kewan utawa uwong utawa kanggo karameyan liya liyane. Papan iku arane “Bubat”. Sang Nata kerep lelana tinggal nagara, ing Blambangan saurute iya tau dirawuhi.</strong></p>
<p><strong>Prakara perdagangan iya dadi gedhe banget, awit saka majuning lelayaran kagawa saka kehing nagara nagara kang kabawah ing Majapait sing kelet letan sagara. Bab kagunan, kayata: ngukir ukir sapepadhane, kombule ing Tanah Jawa Wetan dhek pungkasane abad kang katelulas, lan ing wiwitane abad kang pat belas, mung bae panggawene reca reca kang apik apik iku nganggo tuntunaning wong Indhu utawa nurun kagunan Indhu. Cekaking carita: Nalika panjenengane Prabu Ayam Wuruk iku, Majapait lagi unggul unggule, samubarang lagi sarwa onjo. Prabu Ayam Wuruk tilar putra kakung miyos saka selir asma “Bhre Wirabhumi” jumeneng Nata ana ing bageyan kang wetan. Dene kang nggenteni keprabon Majapait putra mantune Sang Nata, ajejuluk Wikramawardhana (tahun 1389 – 1400). Ing tahun 1400 Sang Prabu seleh keprabon, kersane arep mandhita, ananging sapengkere Sang nata, putra lan sentanane padha rebutan nggenteni keprabon. Prabu Wikramawardhana banjur kapeksa kundur jumeneng ratu maneh nganti tekan tahun 1428. Sajroning jumeneng sing keri iki Sang Prabu nerusake merangi santanane kang wus kabanjur ngraman nalika Sang Prabu jengkar saka kraton. Rehning perang iki nganti suwe dadi nganakake kapitunan akeh lan karusakan gedhe, awit teluk telukan ing tanah sabrang banjur padha wani mbangkang wus ora gelem kabawah Majapait. Tataning kawula iya banjur rusak. Prakara paten pinaten wis dadi lumrah. Akeh wong main lan adu jago totohane gedheni. Ing tahun 1428 – 1447 kang jumeneng nata ratu putri jejuluk Retna Dewi Suhita, putrane Prabu Wikramawardhana saka garwa paminggir. Teruse banjur banjur Prabu Kertawijaya (1447 – 1452) lan maneh Prabu Bhra Hiyang Purwawisyesa (1456 – 1466), Pandan Salas (1446 – 1468), banjur Prabu Bhrawijaya V (1468 – 1478). Mungguh babade ratu ratu kang wekasan iki ora terang, mulane ora disebutake. Ana ratu ing nagara Keling (salor wetane Kedhiri, sakidul kulone Surabaya) jejuluk Prabu Ranawijaya Giridrawardhana ngelar jajahan nelukake Jenggala, Kedhiri lan uga mbedhah Majapait (tahun 1478). Bedhahe Majapait iku kuthane ora dirusak, awit ing tahun 1521 lan 1541 nagara Majapait isih kecrita kutha kang gedhe. Suwe suwe kutha Majapait dadi rusak, awit wong wonge kang ora seneng kaereh ing kraton liya, padha genti genti ninggal negarane, nglereg marang tanah Bali. Saiki Majapait mung kari patilasan bae, awujud pager bata tilas mubeng lan tilas gapura (Candhi Tikus, Bajang Ratu). Isih sajroning jaman Majapait, agama Islam wis mlebu saka sathithik, saya suwe saya bisa ngalahake dayaning agama Indhu ana ing Jawa Wetan.</strong></p>
<p><strong>Mungguh kaananing tanah Sundha ing wektu iku ora pati kasumurupan. Sawise krajan Tarumanagara dhek abad 4 lan 5, mung ana kang kacarita krajan Sundha ing tahun 1030 nagarane kira kira ing Cibadhak. Enggone ora ana wong manca kang mlebu mrono, marga saka kehing bajag kang padha nganggu gawe ing sauruting pasisir. Ing Priyangan sisih wetan ana krajane aran Galuh, kang ngadegake ayake ratu aran Pusaka, ratu liyane jejuluk Wastukencana lan Prabu Wang(g)i. ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya Raja Purana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan (Batutulis). Karajan iki aran Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon barang.</strong></p>
<p><strong>Perangan Kang Kaping Pindho Babad Tanah Jawa Wiwit Adege Karajan Karajan Islam lan Tekane Bangsa Europa tumekane Gempale Karajan Mataram lan Ambruke Vereenig de Oost indische Compagenie (VOC) tahun 1500 – 1799.</strong></p>
<p><strong>09 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 1</strong></p>
<p><strong>Karajan Demak lan Karajan Pajang +/- tahun 1500 – 1582</strong></p>
<p><strong>Wiwitane ing Tanah Jawa ana agama Islam ing antarane tahun 1400 – 1425.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1292 ing tanah Perlak ing pulo Sumatra wis ana wong Islam; ing tahun 1300 ana wong Islam manggon Samudra Pasei. Ing pungkasane abad kang ping 14 ing Malaka iya wis ana wong Islam.Tekane padha saka Gujarat. Saka Malaka kono agama Islam mencar marang Tanah Jawa, tanah Cina, Indhiya Buri lan Indhiya Ngarep. Kang mencarake agama Islam ing Tanah Jawa dhisike yaiku sudagar Jawa saka Tuban lan Gresik, kang padha dedagangan ing Malaka, padha sinau agama Islam, dadine Islam terkadhang sok kepeksa. Sudagar sudagar jawa mau padha bali marang Tanah Jawa Wetan, sudagar Indhu lan Persi uga ana sing teka ing kono lan nuli mencarake agama Islam marang wong wong. Sing misuwur yaiku: Maulana Malik Ibrahim (wong Persi?), seda ana ing Gresik ing tahun 1419, nganti saiki pasareane isih.</strong></p>
<p><strong>Bareng kuwasane karaton Majapait saya suwe saya suda, para bupati ing pasisir rumangsa gedhe panguwasane, wani nglakoni sakarep karep. Para bupati mau lumrahe wis padha Islam wiwit tumapaking abad kaping 16 (tahun 1500 – 1525), Jalaran saka iku kerep bae perang karo para raja agama Indhu kang manggon ing tengahing Tanah Jawa.</strong></p>
<p><strong>Miturut carita: Sang Prabu Kertawijaya ing Majapait iku wis tau krama karo putri saka ing Cempa (tanah Indhiya Buri). Putri mau kapernah ibu alit karo Raden Rahmat utawa Sunan Ngampel (sacedhake Surabaya). Sunan Ngampel kagungan putra kakung siji, asma Sunan Bonang, lan putra putri siji, asma Nyai Gedhe Malaka. Nyai Gedhe Malaka iku marasepuhe Raden Patah utawa Panembahan Jimbun, yaiku kang sinebut: Sultan Demak kang kapisan.</strong></p>
<p><strong>Sunan Ngampel lan Sunan Bonang iku dadi panunggalane para wali. Para wali mau kang misuwur: Sunan Giri (sakidul Gresik), ana ing kono yasa kedhaton lan mesjid; Ki Pandan Arang (ing Semarang) lan Sunan Kali Jaga (ing Demak). Ing tahun 1458 ing Demak wis ana mesjid becik.</strong></p>
<p><strong>Padha padha bupati ing pasisir pati Unus iku kang kuwasa dhewe. Pati Unus uga kasebut Pangeran Sabrang Lor. Iku putrane Raden Patah utawa Panembahan Jimbun. Ing tahun 1511 Pati Unus mbedhah Jepara, Ing tahun 1513 nglurugi Malaka. Enggone tata tata arep nglurug mau nganti pitung tahun lawase. Lan bisa nglumpukake prau kehe nganti sangang puluh lan prajurit 12.000, apadene mriyem pirang pirang. Nanging panempuhe bangsa Portegis ing Malaka nggegirisi, nganti Pati Unus kapeksa bali lan ora oleh gawe. Pati Unus ing tahun 1518 uga ngalahake Majapait nanging Majapait dhek samana pancen wis ora gedhe. Kuthane ora dirusak, mung pusaka kraton banjur digawa menyang Demak sarta Pati Unus ngaku nggenteni ratu Majapait.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1521 Pati Unus seda isih enem lan ora tinggal putra. Kang gumanti rayi let siji yaiku Raden Trenggana, jalaran rayine tumuli: Pangeran Sekar Seda Lepen, wis disedani putrane raden Trenggana, kang aran Pangeran Mukmin. Sajroning jumenenge Sultan Trenggana (tahun 1521 – 1550) karaton Demak kuwasa banget, nguwasani Tanah Jawa Kulon, ngereh kutha kutha ing pasisir lor lan uga mbawahake jajahan Majapait, sarta karaton Supit Urang (Tumapel) uga banjur kaprentah ing Demak. Dene Blambangan iku bawah Bali. Pelabuhan bawah Demak akeh sing rame, kayata: Jepara, Tuban, Gresik lan Jaratan. Gresik lan Jaratan iku sing rame dhewe, wong kang manggon ing kono luwih 23.000. Ing tahun 1546 Sunan Gunung Jati kalawan Sultan Trenggana arep mbedhah Pasuruwan. Kutha Pasuruwan banjur kinepung ing wadya bala, nanging durung nganti bedhah, pangepunge diwurungake, jalaran Sultan Trenggana seda cinidra dening sawijining punakawan santana, kang mentas didukani. Putrane Sultan Trenggana akeh. Putra putrine padha krama oleh priyayi gedhe gedhe. Ana sing krama oleh bupati ing Pajang, kang asma: Adiwijaya, yaiku Mas Krebet, Ki Jaka Tingkir utawa Panji Mas. Putrane Sultan Trenggana loro: Pangeran Mukmin utawa Sunan Prawata, lan Pangeran Timur, kang ing besuke dadi adipati ing Madura. Sunan Prawata iku kang nyedani Pangeran Sekar Seda Lepen. Ing semu putrane Pangeran Sekar Seda Lepen kang asma Arya Panangsang arep malesake sedane kang rama. Sakawit Arya Panangsang nyedani Pangeran Mukmin sagarwane, nuli putra mantune Sultan Trenggana, ora oleh gawe, malah Arya Panangsang bareng dipapagake perang, kalah nemahi pati. Adiwijaya banjur nguwasani Tanah Jawa: amboyong pusaka kraton menyang Pajang lan nuli dijumenengake Sultan dening Sunan Giri. Nalika Adiwijaya jumeneng ratu ana ing Pajang, blambangan lan Panarukan kabawah ratu agama Syiwah ing Blambangan, kang uga mbawahake Bali lan Sumbawa (tahun 1575). Jajahan jajahan ing Pajang kaprentah ing pangeran (adipati) yaiku: Surabaya, Tuban, Pati, Demak, Pemalang (Tegal), Purbaya (Madiyun), Blitar (Kedhiri), Selarong (Banyumas), Krapyak (Kedhu sisih kidul kulon, sakulone bengawan Sala.</strong></p>
<p><strong>Ana ing tanah Pasundhan karaton Pajang meh ora duwe panguwasa, jalaran ing tahun +/- 1568 tanah Banten dimerdikakake dening Hasanuddin, dadi tanah kasultanan.</strong></p>
<p><strong>10 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 2</strong></p>
<p><strong>Karajan Mataram Nalika Jumenenge Senapati</strong></p>
<p><strong>(tahun 1582 – 1601)</strong></p>
<p><strong>Ana wong linuwih sinebut Kyai Gedhe Pamanahan, asale mung wong lumrah bae. Jalaran saka akeh lelabuhane marang Sultan Pajang, banjur didadekake patinggi ing Mataram. Nalika iku tanah Mataram durung reja lan Pasar Gedhe, padunungane Kyai Pamanahan mau isih awujud desa.</strong></p>
<p><strong>Putrane Kyai Gedhe Pamanahan kang asma Sutawijaya utawa Raden Bagus, utawa Pangeran gabehi Loring Pasar iku dipundhut putra angkat dening Sultan Pajang lan nganti diwasa tansah na ing kraton , dadi mitrane Pangeran Pati yaiku Pangeran Banawa. Ing tahun 1575 Sutawijaya gumanti kang rama ana ing Mataram, oleh jejuluk Senapati Ing Ngalaga Sahidin Panatagama.</strong></p>
<p><strong>Panembahan Senapati (Sutawijaya) mau banget ing pangarahe supaya bisa jumeneng ratu. Ing sasi Mulud ora ngadhep marang Pajang, lan Pasar Gedhe didadekake beteng, ndadekake kuwatire Sultan Adiwijaya. Kelakon ora suwe banjur peperangan, Adiwijaya kalah lan ing tahun 1582 seda jalaran karacun. Pangeran Banawa ora wani nglawan Senapati. Senapati banjur ngaku jumeneng Sultan, sarta pusakaning kraton kaelih marang Mataram. Senapati ngerehake Mataram ing tahun 1586 – 1601. Jajahan jajahan karaton Pajang kang wis kasebut ndhuwur kaerehake ing Mataram kanthi ngrekasa banget. Senapati kepeksa kudu kerep perang, kayata: perang karo Panaraga, Madiyun, Pasuruwan lan luwih luwih karo Blambangan. Ewadene Blambangan iku ora bisa kalah babar pisan. Karo Senapati memitran. Banten arep ditelukake, nanging ora bisa kalakon. Galuh pineksa kareh Mataram. Ing nalika iku akeh kutha kutha pelabuhan kang rame, padha ditekani wong Portegis, ora lawas wong Walanda iya padha nekani ing kono. Dedagangane mrica, pala, cengkeh, kapas lan barang barang liyane akeh, nanging bab kawruh lan kagunan ora pati diperduli. Ing tahun 1601 Senapati seda, kang gumanti putra Mas Jolang. Pasareyan Senapati nunggal kang rama ana ing Pasar Gedhe sarta padha pinundi pundhi.</strong></p>
<p><strong>11 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 3</strong></p>
<p><strong>Karajan Banten lan Cirebon wiwit jumenenge</strong></p>
<p><strong>Sunan Gunung Jati (+/- tahun 1527) tumeka</strong></p>
<p><strong>Sedane maulana Mohamad (tahun 1596)</strong></p>
<p><strong>Ing wiwitane abad kang ping 16 ing Tanah Jawa Kulon ana nagara aran Pajajaran, Kutha aran akuan. Kutha pelabuhan iya duwe, yaiku Banten lan Sundha Kalapa, nanging dedagangane urung rame. Awit saka Malaka ing tahun 1511 kacekel ing bangsa Portegis, para sudagar Islam padha dedagangan ana ing pasisire lor Tanah Jawa Kulon. Ing Banten nuli ana pedagangan gedhe, dagangane mrica. Ing nalika iku ana wong Pasei (Sumatra), agamane Islam, teka ing Tanah Jawa Kulon merangi ratu ing Pejajaran nganggo prajurit saka ing Demak. Wong Pasei mau ing tembene aran Sunan Gunung Jati, maune bok menawa aran Faletehan. Iku ipene Raden Trenggana. Marga saka pitulungane Raden Trenggana ing tahun 1527 bisa mbedhah Sundha Kalapa (Jayakarta utawa Jakarta) lan Cirebon. Ing tahun 1552 Sunan Gunung Jati ing Banten digenteni kang putra Hasanuddin. Dene putra liyane kang asma Pangeran Pasarean, iku kang nurunake para Sultan ing Cirebon. Faletehan seda ing tahun 1570 ana ing Cirebon lan disarekake ana ing punthuk Gunung Jati. Kutha Pakuan bedhahe sawise tahun 1570. Para wong ing Tanah Jawa Kulon banjur dipeksa manjing agama Islam. Nalika Faletehan seda kang jumeneng Sultan ing Cirebon Panembahan Batu, yaiku buyute Faletehan mau. Hasanuddin iku krama oleh putrine Pangeran Trenggana. Bareng Pangeran Trenggana seda, karaton Banten banjur madeg dhewe (tahun 1568). Hasanuddin uga nelukake Lampung, sarta raja Indrapura ngaturake putrane putri minangka garwa.</strong></p>
<p><strong>Kutha Banten dadi rame lan pelabuhane gedhe. Ananging kutha urut pasisir ana 750 M, dene ujure marang dharatan +/- 1600 M. Prau prau bisa lumebu ing kutha metu ing kali kang nrajang kutha mau; saiki kaline wis waled, jalaran wedhi. Kutha mau kang sasisih dipageri lan ana gerdhu gerdhune panggonan prajurit jaga tuwin panggonan mriyem.</strong></p>
<p><strong>Hasanuddin seda ing tahun 1570, banjur kasarekake ing Sabakingking. Kang gumanti kaprabon Pangeran Yusup.</strong></p>
<p><strong>Nalika iku wong Banten yen nandur pari lumrahe ana ing pategalan (ladhang). Sawise dieneni parine banjur ora ditanduri maneh, wong wonge banjur golek panggonan liya digawe ladhang, yen wus panen iya diberakake maneh, enggone nanduri iya kaya kang wis mau. Sing kaya mangkono iku tumraping lemahe mesthi bae ora becik. Bareng Pangeran Yusup jumeneng Sultan, wong wong padha didhawuhi sesawah. Jalaran saka iku wong tani iya kapeksa milih panggonan sing tetep, ora pijer ngolah ngalih, iku njalari anane desa desa.</strong></p>
<p><strong>Pangeran Yusup uga dhawuh yasa bendungan lan susukan susukan perlu kanggo ngelebi sawah.</strong></p>
<p><strong>Sing mbedhah kutha Pakuan iku iya Pangeran Yusup. Ratu ing Pakuan seda, para luhur ing kono kapeksa mlebu Islam. Saweneh ana sing ngungsi marang pagunungan ing Banten Kidul; wong Beduwi iku turune wong wong sing padha ngungsi mau. Pangeran Yusup lumrahe karan Pangeran Pasareyan (tunggal jeneng karo kang paman ing Cirebon). Ing sasedane Pangeran Yusup, Pangeran Jepara utawa Pangeran Arya anjaluk jumeneng Sultan, nanging ora bisa kelakon, jalaran saka setyane Mangkubumi (Patih) ing Banten marang Pangeran Yusup. Kang gumanti Pangeran Yusup, putra kang sisilih Maulana Mohamad. Nalika iku yuswane lagi 9 tahun, mulane nganggo diembani ing Mangkubumi.</strong></p>
<p><strong>Sing marentah kutha Jakarta sebutan Pangeran, dhisike Ratu Bagus Angke lan tumurun marang utra. Kutha mau kinubeng ing pager, ing jerone pager ana mesjide omah gedhe sing didalemi sang Pangeran, alun alun lan pasar. Iku mau kabeh dumunung ing pusering kutha. Dagangane ora pati rame kaya ing Banten. Tanah tanah sakubenge kutha isih kebak buron alas.</strong></p>
<p><strong>Cirebon iku uga ngreka daya bisane mardika saka Banten. Sultan Cirebon mbawahake saperangane tanah Priyangan. Watese kang wetan Banyumas, kang kulon Cimanuk (Citarum),. Bareng sepuhe, Pangeran Mohamad ditresnani ing kawula, jalaran saka mursid lan wasis. Sang papatih Jayanagara banget setya marang ratune. Nalika iku Sultan Mohamad diaturi nglurugi Palembang dening Pangeran Mas, wayahe Sunan Prawata, Sandyan patihe malangi, nanging Sultan Mohamad ngrujuki; kalakon ing tahun 1596 Palembang dilurugi. Wadyabala ing Banten wis ngira bakal menang, dumadakan nalika Sultan Mohamad pinuju dhahar, kataman ing mimis, ndadekake sedane. Sedane mau digawe wadi, mung wadyabala diundangi bali marang Banten. Bareng layon arep disarekake, ing kono wong wong lagi ngerti yen Sultan seda, lan ing wektu iku uga Pangeran Abulmafachir dijumenengake Sultan, nanging yuswane lagi sawatara sasi, mulane pamarentahing nagara kacekel ing Mangkubumi, maneh dibantoni ing Nyai Emban Rangkung, kang jalaran saka wicaksanane karan: Ratu Putri Ing Banten. Ing pungkasane abad kang ping 16 Banten iku dadi kutha pedagangan kang rame dhewe ing saTanah Jawa.</strong></p>
<p><strong>Wong manca kang ana ing kono: wong Persi, wong Indhu saka Gujarat, wong Turki, Arab, ortegis, Melayu lan wong Keling. Wong wong ngamanca mau lumrahe ngingu batur tukon lan juru basa. Luwih luwih wong Cina, ing Banten akeh banget. Bangsa Cina manggone ana sajabaning temboking kutha, lan omahe apik apik. Panggaotane wong manca padha kulak mrica. Sing nganakake dhuwit timbel (keteng, gobang) ing Banten iya wong wong ngamanca mau. Dhuwit timbel 1.00 pengajine +/- 20 sen. Pangan ing Banten murah banget, dhuwit 20 sen bae tumraping wong ngamanca, wis turah turah. Hawane ing kutha ora becik, jalaran kali Banten ing biyene becik, banjur dadi cethek lan reged. Dalan dalan padha kurugan ing wedhi, omah omahe isih gedheg, mung senthonge pasimpenan wis tembok. Para priyayi padha duwe pakarangan isi wit krambil, sangarepe omah ana pendhapane lan ing pojoking latar sok ana langgare. Kejaba mesjid gedhe lan pamulangan, ing Banten mung ana omah gedhong siji, yaiku omahe Syahbandar. Kajaba para luhur, wong kang ngibadah ing Banten ora akeh. Para luhur padha ngagem sarung sutra, (terkadhang sinulam ing benang emas) serban lan keris, kenakane diingu dawa, wajane dipasahi lan tinretes ing mas utawa disisigi.</strong></p>
<p><strong>Ngageme sepatu utawa selop mung yen ana ing daleme bae. Pandereke ana sing ngampil wadhah kinang, kendhi, payung, lampit lan tumbak. Para luhur mau (para punggawa) padha milu ngereh praja. Ing mangsa perang para prajurit oleh kere, sandhangan lan pangan. Para punggawa mau padha ngingu batur tukon akeh. Ing Banten sing nyambut gawe temenan mung para batur tukon, wong cilik liyane meh ora nyambut gawe, mulane padha ora kacukupan. Yen ana wong ora bisa mbayar utange, iku banjur dadi batur tukon saanak bojone. Wong kemalingan ing Banten akeh; maling kang kacekel, kena nuli dipateni. Wong kang dosa pati, kena nebus dosane sarana mbayar dhendha marang Sultane. Yen ana wong lanang mati, Sultan wenang mundhut anak bojone wong mau. Jalaran saka iku akeh wong isih kenomen padha omah omah. Kuwasane Sultan Banten gedhe banget, nanging prakara nagara lumrahe dirembug karo para luhur; pangrembuge wayah bengi ana ing alun alun. Para luhur mau kang kuwasa banget Mangkubumi (patih), laksamana (panggedhene prau lautan) lan senapati.</strong></p>
<p><strong>Ing jaman samana kaanane kutha kutha ing Tanah Jawa kurang luwih iya memper karo kutha Banten iku.</strong></p>
<p><strong>12 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 4</strong></p>
<p><strong>Wong Portegis lan Sepanyol (tahun 1513)</strong></p>
<p><strong>Wiwit jaman Rum mula wong Asia iku wis wiwit lawanan dedagangan lan wong Europa. Dagangan saka Asia Wetan, kayata: Tanah Indhu, Cina, apadene kapulowan Moloko digawa ing kafilah, metu ing Afganistan, Persi, Syrie (Sam), banjur menyang Egypte (Mesir), jujuge ing Alexandrie. Dagangan mau saka kono banjur dikirimake menyang kutha kutha pelabuhan ing sapinggire Sagara Tengah, kayata: Rum, Venetie lan Genua; banjur disebarake ing nagara liya ing Europa. Lakune kafilah saka Hindustan ngrekasa banget, jalaran ana ing dalan kesuwen, mangka kerep diadhang ing begal. Marga saka iku pametune tanah Asia ana ing Europa dadi larang banget, samono uga bumbon saka kapulowan Moloko.</strong></p>
<p><strong>Bareng wong Turki melu melu gawe kasusahaning kafilah mau, bangsa bangsa Europa liyane banjur arep mbudi akal bisane oleh dagangan saka tanah Asia dhewe ora nganggo metu dharatan, dadi arep ngambah sagara bae. Nalika abad kang kaping 15 ing tanah Europa wus ana bangsa kang kendel banget lelayaran, yaiku bangsa Portegis.</strong></p>
<p><strong>Bangsa iku enggone lelayaran saya suwe saya mangidul, nganti nemu pulo lan tanah pirang pirang enggon, wasana pasisire tanah Afrika kang sisih lor kulon wus kawruhan kabeh. Ing tahun 1486 ana nakoda bangsa Portegis aran Bartholomeus Dias, bisa tekan ing pongole buwana Afrika kang sisih kidul dhewe.</strong></p>
<p><strong>Ing Tahun 1498 kelakon ana nakoda Portegis aran Vasco de Gama tekan ing Kalikut kutha ing tanah Indhu.</strong></p>
<p><strong>Wong Portegis nuli miwiti lelawanan dedagangan lan wong Indhu, lan nenelukake kutha pelabuhan kang rame rame ing tanah Indhu kono. d’Albuquerque kang wus katetepake jumeneng Prabu anom ing Asia nuli ngumpulake prau perang kanggo merangi kutha kutha pelabuhan; Goa, Ormus lan Malaka genti genti dikalahake. Iya jamane d’Alburquerque (tahun 1509 – 1515), iku mumbul mumbule wong Portegis nguwasani tanah tanah pasisir ing Samodra Indhiya tekan Macao.</strong></p>
<p><strong>Bareng wong Portegis wis bisa manggon lan duwe panguwasa ana ing Malaka, ing tahun 1513 nuli nakoda aran d’abreu, layar menyang Moloko. Lakune nganggo mampir mampir, kayata: menyang Gresik. Ing wektu samono Gresik wis dadi kutha padagangan gedhe, wong wonge wis Islam. Wong Portegis mau ana ing Tanah Jawa Tengah lan Wetan sasat tansah dimungsuh bae, mung ana ing Panarukan bisa mimitran lan wong bumi, jalaran wong ing kono isih mardika, durung Islam lan durung kaereh marang Demak. Rehne wong Portegis ana ing Tanah Jawa Tengah lan Wetan tansah ngrekasa banget, mulane banjur ana kang nyoba arep lelawanan dedagangan lan Banten. Ing sakawit ana ing Banten ditampani becik, nanging nuli wong Portegis lan wong Banten kerep cecongkrahan, jalaran padha dene ora percayane. Wasana enggone dedagangan wong Portegis kang dipeng ana ing Moloko lan pulo Timur. Nalika wong Portegis teka ana ing tanah Indhiya kang anggedheni laku dagang ing kepulowan Moloko bangsa Jawa, nanging bareng Malaka bedhah, wong Jawa kadhesuk soko kono lan saka kapulowan Moloko, banjur karingkes pasabane, kang anggedheni genti wong Portegis, malah ing tahun 1522 ing Ternate wis didegi beteng, sarta wong Portegis wis prajangjian lelawanan dedagangan ijen ijenan (monopolie) lan Sultan ing kono. Ing tembene kang dadi dhok dhokane wong Portegis ing Ambon lan Bandha. Ana ing pulo pulo Moloko lan ing pulo pulo Sundha Cilik sisih wetan wong Portegis padha mencarake agama Kristen.</strong></p>
<p><strong>Bareng wong Portegis nemu dalane menyang tanah Indhiya, wong Sepanyol iya banjur arep nyoba uga menyang tanah Indhiya dhewe. Wong Genua aran Christophorus Columbus layar saka Sepanyol mangulon atas asmane Sang nata ing Sepanyol. Saka panemune Chr. Columbus wus tetela yen jagad iku bunder kepleng, dadi yen saka Sepanyol terus layar mangulon mesthi banjur tekan ing jagad sisih wetan yaiku enggone tanah Indhiya. Yen saka Indhiya diterusake mangulon bae, mesthi banjur bali tekan ing Sepanyol maneh. Ing tahun 1492 kelakon Chr. Columbus nemu kepulowan kang diarani kapulowan Indhiya, jalaran pametune akeh empere lan tanah Indhiya, nanging ora antara suwe tetela yen kepulowan mau dudu Indhiya, mulane mung banjur diarani kepulowan Indhiya Kulon. Mungguh satemene kepulowan Indhiya Kulon iku wewengkone buwana Amerika. Saking kepengine marang kauntungan lan misuwuring jeneng, banjur akeh bae wong Sepanyol kang napak dalane Chr. Columbus padha layar mangulon ketug ing Amerika. Sawise buwana Amerika kawruhan, nuli ana wong Portegis kang aran Magelhaen kang nedya menyang Indhiya metu Amerika atas asmane ratu Sepanyol. Mangkate Magelhaen sakancane wong Sepanyol ing tahun 1519 lakune nurut pasisire Amerika sisih kidul, njedul supitan ing saantarane pongol Amerika kang kidul dhewe lan pulo Vuurland, saka kono terus ngalor ngulon nrajang Samodra gedhe, anjog ing kapulowan Filipina.</strong></p>
<p><strong>Wong Sepanyol nuli layar menyang Moloko, anjog ing Tidore. Sultan Tidore bungah banget, awit bakal oleh lengganan bangsa Europa, mangka nalika d’Abreu teka ing Ambon diajak lengganan ora gelem, geleme mung karo Sultan Ternate.</strong></p>
<p><strong>Sarehne wong Sepanyol, kancane Magelhaen, kalah santosa karo wong Portegis, mulane bareng dimungsuh, banjur kapeksa mlayu menyang Jilolo, saka kono terus layar mangulon, nutugake enggone ngubengi bumi, tekane ing Sepanyol maneh tahun 1522. Iya wong Sepanyol kang dipanggedheni Magelhaen iku kang ngubengi bumi sapisan.</strong></p>
<p><strong>Wong Portegis bareng sumurup ana wong Sepanyol teka, banget panase, ngudi, lungane wong Sepanyol saka tanah Indhiya, dadi bangsa loro mau padha memungsuhan. Nanging ing tahun 1529 padha bedhami, jalaran watesing jajahan dipastekake dening Kangjeng Paus.</strong></p>
<p><strong>Wiwit tahun 1542 bangsa Sepanyol neluk nelukake pulo pulo Filipina. Jeneng Filipina iku kapirit asmane ratu ing Sepanyol (Filips II). Lan ana ing pulo pulo mau banjur padha mencarake agama Kristen.</strong></p>
<p><strong>13 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 5</strong></p>
<p><strong>Tekane Wong Walanda ( tahun 1596)</strong></p>
<p><strong>Ing abad kang kaping 15 ing nagara Walanda bab misaya iwak maju banget ( iwak haring). Iwake didol sumrambah ing tanah Europa. Jalaran saka iku lelayarane prau prau momot barang dadi rame. Prau prau momotan mau kejaba momot iwak, uga nggawa barang barang liyane, kayata: mertega, keju lan laken saka Nederland didol menyang Europa sisih lor lan kidul. Soko Portegal wong Walanda kulak anggur lan uyah; saka tanah tanah sapinggire Sagara Wetan gandum lan kayu, lan saka Inggris wulu wedhus. Awit saka iku kabeh lelayarane prau prau momotan ing satanah Europa kacekel ing tangane bangsa Walanda. Ing wiwitane abad kang ping 16 Kutha Lissabon dadi pusering padagangan kang saka ing tanah Indhiya. Kang mencarake dagangan mau menyang tanah tanah liyane saperangan gedhe iya bangsa Walanda. Iku kabeh njalari wong Walanda banjur dadi sugih, wong kang maune mung ngepalani prau prau momotan, banjur dadi nakoda utawa sudagar.</strong></p>
<p><strong>Ing pungkasane abad 16 wong Walanda banget pangudine marang ada ada anyar lan banget kepengine marang lelakon lelakon kang durung tau dilakoni, luwih luwih bareng krungu critane lelayaran marang Indhiya saka wong wong Walanda kang maune manggon ing Portegal. Apa maneh ing nalika iku akeh sudagar sudagar saka Nederland Kidul (Antwerpen) padha ngalih mangalor. Kuwasane karajan Sepanyol tansah suda, perang karo bangsa Walanda lan Inggris kerep kalah. Dedagangan ing Lissabon tumrape bangsa Walanda banjur diengel engel amarga wiwit ing tahun 1580 Lissabon kebawah Sepanyol. Jalaran saka sebab sebab ing ndhuwur mau kabeh, bangsa Walanda kenceng tekade arep lelayaran menyang tanah Indhiya dhewe, bathine mesthi bakal luwih akeh, awit bisa kulak dedagangan saka ing panggonane asal. Wiwitane nyoba lelayaran metu lor ngubengi buwana Asia, perlune nyingkiri bangsa Sepanyol, yaiku mungsuhe. Sarehne layar metu lor iku terang yen rekasa banget, istingarah ora bisa kelakon tekan tanah Indhiya, nuli wong Walanda arep nekad metu kidul nurut pesisire buwana Afrika kaya wong Portegis. Cacahing prau kang arep mangkat ana 4, kang ngepalani aran Cornelis de Houtman iku wis bisa oleh katrangan dalane menyang Indhiya ana ing Lissabon. Dene kang dadi lelurahing jurumudhi wong pinter ing ngelmu bumi aran Pieter Keyzer. Ing tanggal 2 April tahun 1595 padha mancal saka dharatan, lakune ana ing dalan ngrekasa banget, nanging tanggal 23 Juni 1596 kelakon tumeka ing Banten.</strong></p>
<p><strong>Satekane ing palabuhan Banten praune wong Walanda dirubung ing prau cilik cilik padha nawakake wowohan lan dodolan warna warna. Ora suwe ing dhek kebak wong Jawa, Arab, Cina, Keling lan Turki padha nawakake dedagangan. Wong Walanda medhun menyang dharatan; ing kono wis ana cawisan omah kanggo bukak toko. Sawuse tekan dharatan banjur dodolan lan kulak dedagangan kang diimpi impi, yaiku mrica. Nanging bareng padha rerembugan banjur padha pasulayan. Wong Portegis weruh kang mangkono iku nuli ngreka daya supaya wong Walanda disengiti ing wong Banten. Apamaneh Cornelis de Houtman iku wani kasar karo Mangkubumi ing Banten, lan sarehning wong Banten kuwatir bok manawa kutha Banten bakal ditibani mimis saka ing praune wong Walanda, Cornelis de Houtman sakancane 8 dicekel lan dilebokake ing kunjara. Cornelis de Houtman lan kancane 8 pisan mau iya nuli luwar, nanging sarana ditebus. Bareng wong Portegis mbabangus maneh marang wong Banten, wong Walanda banjur ninggal Banten, awit uga weruh yen ora bakal bisa oleh dedagangan ana ing kono. Wong Walanda banjur layar mangetan urut pasisir loring Tanah Jawa nganti tekan Bali. Saka kono banjur bali menyang nagara Walanda urut pasisire Tanah Jawa kang sisih kidul.</strong></p>
<p><strong>Tekane ing nagara Walanda praune kang maune papat mung kari telu, wong kang maune 248 mung kari 89. Lan barang dagangan sing digawa apadene bathine mung sathithik banget. Nanging sedyane kang gedhe iku wis kaleksanan, iya iku saiki dalan kang menyang tanah Indhiya wis kawruhan. Nalika tahun 1598 ana prau Walanda maneh teka ing Banten, kang manggedheni Yacob van Neck. Sarehne van Neck mau wong kang alus bebudene ora kasar kaya de Houtman, dadi wong Walanda ditampani kalawan becik, dipek atine kenaa dijaluki tulung yen ana nepsune wong Portegis, malah van Neck oleh palilah katemu lan sang timur Abulmafachir ratu ing Banten lan van Neck ngaturi tinggalan tuwung mas. Wong Walanda enggal bae oleh dedagangan mrica akeh. Wiwit ing nalika iku akeh prau prau Walanda kang teka ing Moloko kulak mrica, pala lan cengkeh. Dhok dhokane prau kang menyang tanah Indhiya iku ing Banten, dalasan prau kang saka ing Moloko, sanadyan wus kebak dagangan, kang mesthi iya nganggo mampir. Suwe suwe pelabuhan ing Banten saya rame dening prau Walanda kang teka lunga ing kono. Ing wektu iku Sepanyol lan Portegis wiwit ngêdheng enggone perang karo bangsa Walanda ing tanah Indhiya.</strong></p>
<p><strong>Andreas Furtadho de Mendoca nggawa prau 30 saka Goa layar menyang tanah Indhiya, arep dhedawuh marang para panggedhe ing sakehing kutha plabuhan nglarangi nampa wong Walanda; sakehing wong Walanda kang wus ana ing kono kudu ditundhung. Ing tahun 1601 ana prau Walanda teka ing supitan Sundha, kang manggedheni Wolphert Harmens, ana ing dalan Wolpert Harmens wis oleh pawarta yen Banten dikepung ing balane Furtadho perlu nglungakake wong Walanda lan meksa marang Pangeran ing Banten ora kena ngayomi sakehing Walanda. Sandyan praune Harmens mung lima, nanging nekad nempuh praune wong Sepanyol. Salungane wong Sepanyol saka ing Banten, Harmens mlebu ing plabuhan munggah menyang kutha.</strong></p>
<p><strong>Ora antara suwe ana prau Walanda teka maneh, panggedhene aran Yacob van Heemskerck enggal bae oleh dedagangan, praune kang lima wis kebak, nuli dilakokake bali menyang nagara Walanda, dene prau sakarine banjur layar menyang Gresik. Ana ing Gresik kono Heemskerck sawise kebak praune banjur bali menyang nagara Walanda. Ing wektu iku para sudagar Inggris iya wis padha bathon nglakokake prau menyang tanah Indhiya. Ing tahun 1602 ana prau Inggris teka ing plabuhan Banten nggawa layang lan pisungsung saka ratune. Wong Inggris ditampani kalawan becik, dadi gampang nggone golek dagangan, sarta banjur kaidinan ngedegake kantor.</strong></p>
<p><strong>14 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 6</strong></p>
<p><strong>Adege Vereennidge Oost Indische Compagnie (V.O.C.) ( tahun 1602)</strong></p>
<p><strong>Praune wong Walanda kang padha layar menyang tanah Indhiya iku duweke maskape maskape cilik. Sanadyan kang nduweni tunggal bangsa lan kabeh padha tulung tulungan yen ana bebayaning dalan, ewa dene mungguh enggone dedagangan ora pisan bisa rukun, malah padha jor joran murih bisa oleh dagangan akeh. Bareng paprentahan luhur ing negara Walanda nguningani prakara iku banjur kagungan sumelang. Saka karsane paprentahan luhur maskape Walanda mau didadekake siji aran Vereennidge Oost Indische Compagnie (V.O.C.), yaiku: Pakumpulan dedagangan ing tanah Indhiya Wetan, adege nalika tanggal 20 Maret 1602. VOC. mau diparingi wewenang dedagangan ing sawetane Kaap de Goede Hoop tekan ing supitan Magelhaens, dene maskape utawa sudagar liya ora kena melu melu dedagangan ing kono (monopolie). Wewenang panunggalane ing dhuwur iku: VOC. kena nganakake prajangjian atas asmaning Staten Generaal karo sakehing nagara klebu jajahane. Kajaba iku Compagnie kena nganakake prajurit, gawe beteng, gawe dhuwit lan netepake Gouverneur lan punggawa liyane. Sakehing punggawa kudu sumpah kasusetyane marang Straten Generaal lan pangrehing Compagnie. Ing sabisa bisa VOC, kudu melu nglawan mungsuhe nagara Walanda. Pawitane Compagnie iku olehe adol layang andhil, siji sijine andhil ora mesthi padha regane, ana kang f10.000 ana kang f50. Dene kang kena tuku andhil mau iya sadhengah wong, ora lawas VOC wus oleh pawitan f6.500.00. Ing sakawit warga pangreh (Bewindhebber) ing tanah Walanda ana 73, nanging ora lawas mung ditetepake 60.</strong></p>
<p><strong>Para Bewindhebber mau akeh kauntungane, kayata: saben ana prau teka saka tanah Indhiya mesthi oleh bageyan 1% ne ajining momotane prau, mulane pangkat Bewindhebber mau dadi pepenginan. Bewindhebber iku ana 17 kang pinilih kuwajiban nyekel paprentahan Compagnie ing saben dinane.</strong></p>
<p><strong>Pangrehe Compagnie iku aran “Heren XVII, Directeuren utawa Mayores”.</strong></p>
<p><strong>Saben 10 tahun para Bewindhebber kudu aweh katrangan pelapuran (verslag) bab panyekeling paprentahan marang Straten Generaal lan para aandeelhouder.</strong></p>
<p><strong>Prau praune Compagnie kang dhisik dhewe mangkat menyang tanah Indhiya dipanggedheni Van Waerwijck, angkate ing tahun 1602 uga. Sakehing lojine maskape maskape lawas banjur didadekake lojine VOC.</strong></p>
<p><strong>Loji utawa factorij iku wujud kantor diubengi ing gudhang gudhang lan omahe para punggawa. Mungguh perlune loji mau kanggo tandhon dagangan.</strong></p>
<p><strong>Dagangan mau diklumpukake ngenteni tekane prau prau.</strong></p>
<p><strong>Factorij iku terkadhang kinubeng ing beteng tembok utawa tanggul, nanging kang mangkono iku ora mesthi, awit para ratu bangsa bumi kerep ora marengake. Kehing factorij saya wuwuh, nanging terkadhang yen arep ngadegake factorij anyar iku nganggo ngesur ngalahake wong Portegis dhisik, kayata: nalika tahun 1603 ana ing Banten, ora lawas ing Gresik, Johor, Patani, Makasar lan Jepara iya dianani factorij. Factorij ing Patani perlune kanggo lelawanan karo negara Cina, Jepang lan Indhiya Buri, awit dikira ngolehake kauntungan akeh, nanging jebul ora. Karo Ceylon lan Aceh Compagnie iya lelawanan dedagangan, nanging sakawit mung sathithik pakolehe.</strong></p>
<p><strong>Dagangan tanah Indhiya kang ngolehake kauntungan akeh iya iku bumbu craken, mulane VOC. kepengin banget mengku kapulowan Moloko, kang iku para nakoda padha diwangsit, supaya merlokake ngudi bisane nekem kepulowan bumbon craken mau, yen ora kena dilusi sarana prajangjian iya kanthi wasesa. Ing saenggon enggon angger Compagnie bisa becik karo ratu bangsa bumi mesthi banjur nganakake prajangjian bisane lengganan ajeg (monopolie). Pulo Ambon (cengkeh) iku pulo kang dhisik dhewe dadi duweking Compagnie. Ora suwe saka kecekele pulo Ambon ing kuwasane VOC. pulo Bandha Nera (pala) lan Bacan iya banjur kena diregem.</strong></p>
<p><strong>Marga enggone menang perang iku, laku dagang bumbu craken katekem ing kuwasane Compagnie, sabab ana ing endi endi, angger tanah wus kaayoman mesthi dilarangi lelawanan dedagangan karo bangsa liya kajaba mung karo VOC. dhewe sarta regane dagangan dipasthi (monopolie). Para aandeelhoudere VOC. ing tahun 1610 didumi bathi 75%, wujud dhuwit utawa pala, kena milih ing sakarepe, nuli diedumi maneh 50%, dadi sataun bae tampane para aandeelhouder gunggung kumpul 132,5% Nanging kauntungan samono iku mungguhing satemene kauntungan ing dalem 8 tahun, awit adege VOC. wus ana 8 tahun, mangka lagi mbayar anakan sapisan iku. Ing tahun 1611 para aandeelhouder tampa maneh 30%, nanging tumekane tahun 1619 wis ora oleh maneh. Wong wong padha ora rujuk, yen pambayaring anakan jag jog ora ajeg kaya mangkono iku, terkadhang akeh banget, terkadhang pirang pirang tahun nyet adhem bae. Mulane sabakdane tahun 1625 pambayare dipranata, ing sabisa bisa diajegake. Racake pambayaring anakan marang aandeelhouder mau ing saben tahun 18%. Kajaba panyekeling dhuwit, cacading paprentahane Compagnie, isih ana maneh, yaiku enggone kukuh ngencengi tindaking monopolie, nganti akeh warga VOC. kang metu saka pakempalan.</strong></p>
<p><strong>Ana sajabaning nagara Walanda, Compagnie uga duwe mungsuh kang nyumelangi:</strong></p>
<p><strong>1. Bangsa Inggris, iku ing tahun 1600 wis nganakake Oost Indische</strong></p>
<p><strong>Compagnie, sarta ana ing Banten lan Moloko wis duwe kantor akeh. Ing saenggon enggon bangsa Inggris tansah mbudi daya bisane ngesur wong Walanda, mung bae enggone mungsuh ora wani ngedheng, awit mundhak ngadekake gesreking prentah Walanda lan Inggris.</strong></p>
<p><strong>2. Ing wektu samono VOC. tansah merangi wong Sepanyol lan Portegis, awit tanah Walanda peperangan lan bangsa loro mau ana ing Europa.</strong></p>
<p><strong>VOC. lelawanan dagang karo bangsa Cina sarta Jepang. Ing tahun 1608 ana prau Compagnie loro layar menyang Jepang. Ana ing kono Compagnie diidini dedagangan lan ngadegake loji.</strong></p>
<p><strong>Saka rembuge Frankrijk sarta Inggris, sanadyan Walanda lan Sepanyol ora sida bedhami, nanging ing tahun 1609 meksa leren anggone perang, padha seleh gegaman ing dalem 12 tahun. Prakara tanah Indhiya katemtokake ing prajangjian, yen wong Walanda lestari kena ndarbeni jajahan enggone ngrebut wong Sepanyol sarta Portegis, nanging siji sijining bangsa ora kena dedagangan ana ing jajahan kang wus dijegi ing liyan ing wektu awiting seleh gegaman. Mungguh ing atase tanah Indhiya awiting seleh gegaman iku kang mesthi kurang luwih let sataun karo ing Europa, awit tanah Indhiya nganggo ngenteni udhuning dhawuh. Ana ing Indhiya ketara banget, yen wong Sepanyol ora nganggep bedhami seleh gegaman iku; dadi VOC. kepeksa tansah tata tata nyentosani wadyabala lan samekta gegamaning perang.</strong></p>
<p><strong>Bangsa Inggris lan Portegis sok dibiyantoni ing wong bumi, merangi marang wong Walanda.</strong></p>
<p><strong>VOC. iku enggone ngregani bumbon craken saka kepulowan Moloko murah banget, dagangane wong bumi dhewe dilarang larang. Tindak kaya mangkono iku ndadekake karugiane bangsa bumi, wasana banjur padha dagang colongan lelawanan lan wong Portegis, Inggris utawa Jawa. Compagnie muring banget; kebon kebon pala lan cengkeh akeh kang dibabati minangka paukumaning wong pribumi. Wong Bandha banget muringe, wuwuh wuwuh dibombong wong Inggris. Admiral Verhoeff, utusane VOC. dicidra dipateni.</strong></p>
<p><strong>Wasana ing tahun 1609 pulo Bandha malah banjur kena didadekake jajahan VOC.</strong></p>
<p><strong>Marga saka pakewuh warna warna iku VOC. duwe panemu yen pangrehe kudu kukuh, dikuwasani wong suwiji. Nganti tumekane wektu semono, siji sijining loji ana pangrehe dhewe, para pangreh ora merduli marang pangrehe loji liyane. Wiwit tanggal 1 September tahun 1609 sakehing kantor lan eskader (kapal kapal perang) ing tanah Indhiya dikuwasani ing panggedhe suwiji, jenenge Gouverneur Generaal (GG.). Gouverneur Generaal kang kawitan yaiku Pieter Both. GG. mau didhawuhi niti priksa kelakuwan, gaweyan lan uripe para punggawa. GG. iku panyekele paprentahan nganggo dibiyantu ing punggawa liya, jenenge Raad van Indie.</strong></p>
<p><strong>Cacahe warganing Raad van Indie sanga, kang lima tansah dadi kanthining GG., kang papat aran “Lid” mirunggan, padha dadi gouvernour ana ing papan liya, enggone melu parepatan mung yen ana rembug sing perlu perlu banget.</strong></p>
<p><strong>Pamutusing prakara kang perlu perlu GG. kudu njaluk rembuge Raad van Indie; wondene GG. dadi pangareping parepatan. Yen parepatan ora bisa mutusi, putusane GG. dhewe wus kanggep apsah. GG. iku uga dadi senapatining prajurit Dharatan lan lautan.</strong></p>
<p><strong>Pamanggene Tuwan P. Both ana ing Ambon. Ana ing Moloko P. Both klakon bisa nggedhekake panguwasa, gawe kapitunane wong Sepanyol lan Portegis.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1613 P. Both bali menyang tanah Walanda nanging ana pasisire pulo Mauritus praune Kerem, P. Both dadi lan tiwase. G. Reynst jumeneng gumanti GG. kapilih ing para Bewindhebber, ing tahun 1615 digenteni L. Real.</strong></p>
<p><strong>Dhek samono VOC. lagi karepotan awit wong Inggris saya katon enggone mungsuh VOC. Ana ing Banten panguwasane wong Inggris tansah mundhak.</strong></p>
<p><strong>Yan Pieterszoon Coen, Liding Raad van Indie banget sumelange bok manawa jajahan VOC. bakal direbut ing wong Inggris. Ing tahun 1616 wong Inggris ngejegi pulo Run, jajahane VOC. ing Moloko. Ing nalika iku JP. Coen atetepake nguwasani sakehing prakarane VOC. ing Tanah Jawa. Coen enggal tumandang merangi wong Inggris. Kang iku ndadekake banget panase wong Inggris sarta Pangeran Ranamenggala ing Banten. Bareng ing tahun 1618 ana kabar yen loji ing Jepara dirusak dening kawulane Panembahan Mataram, lan tetela banget, wong Inggris, wong Banten lan wong Mataram ayon nedya numpes wong Walanda, JP. Coen nuli ngalih saka Banten menyang Jakarta, loji ing kono didadekake beteng. Ora lawas JP. Coen ditetepake dadi Gouverneur Generaal, tahun 1619. Ing tahun iku wong Inggris lan Walanda enggone memungsuhan padha dene ngedheng. Kantore wong Inggris kang adhep adhepan betenge wong Walanda ing sapinggire kali Ciliwung iya nuli disentosani. Kapale wong Walanda siji dibeskup Sir Thomas Dale, panggedhening eskader Inggris.</strong></p>
<p><strong>Coen sandika njaluk baline, nanging wong Inggris malah mangsuli sugal. Beteng Inggris enggal ditempuh, nganti kena obong, tahun 1618. Ora antara lawas beteng Walanda dikepung ing mungsuh.</strong></p>
<p><strong>VOC. karepotan banget, marga kekurangan prau lan obat mimis. Wong Jakarta ora ana kang gelem dadi kuline; malah wong Jakarta nempuh beteng Walanda, eskader Inggris gedhe ana segara dipethukake prau Walanda, perange dedreg, wasana kesaput ing wengi. Esuke JP Coen ora wani methukake prau Inggris maneh; putusaning rembug arep menyang Moloko njaluk bantu lan njupuk obat mimis. JP. Coen weling wanti wanti marang Van den Broecke. Yen ana kapepete kepeksa nungkul, nungkula marang wong Inggris, aja nganti nungkul marang wong Jakarta utawa Banten. Kacarita wong Inggris wus prajangjian lan wong Banten, nedya nempuh beteng ing Jakarta. Pangeran Jakarta, Wijaya Krama, gela banget, dene ora diajak rembugan ing wong Banten, nuli golek akal bisane ngrebut beteng dhewe.</strong></p>
<p><strong>P. van den Broecke disuwuni bojana minangka pratandhaning pamitran.</strong></p>
<p><strong>P.v.d. Broecke kanthi punggawa pitu kalebu ing gelar, banjur cinekel lan kinunjara. Van Raay sing nggenteni Van den Broecke dijaluki tebusan, ora mituruti. Wasana wong Inggris lan Van den Broecke dhewe aweh weruh marang wong Walanda supaya masrahna beteng. Van Raay kendhak atine, nedya nungkul, wekasan ana jalaran kang murungake sedyane Van Raay saandhahane. Wong Banten ora aweh, yen beteng Jakarta tumiba ing wong Inggris.</strong></p>
<p><strong>Pangeran Jakarta ditungkeb, jajahane kagamblokake marang Banten. Rehning wong Banten crah karo wong Inggris, eskader Inggris mundur saka Jakarta. Beteng Walanda dikepung ing wong Banten. Bareng wong Walanda ngerti yen bakal bisa uwal saka ing bebaya, banjur tumandang nyentosani beteng maneh. Bareng wis rampung wong Walanda padha bungah bungah nganakake bujana, beteng Jakarta dijenengi Batawi (tahun 1619). Bareng lungane JP. Coen wis oleh patang sasi banjur bali nggawa prau nembelas. Prajurit kang ngepung beteng ditempuh bubar, kutha Jakarta digempur. Coen nuli menyang Banten, wong Banten rumangsa ora kuwagang nglawan P. van den Brocke sakancane diulungake. Sarehne v. d. Broecke lan van Raay dianggep kaluputan enggone netepi wajibe, mulane tampa paukuman abot saka JP. Coen. Tanah Jakarta banjur diaku ing VOC, JP Coen enggal mbangun Kutha Batawi, dipernata lan direjakake. Ing sacedhake palabuhan didokoki omah, jenenge “Kasteel” ing kono dununging paprentahane VOC. ing satanah Indhiya. Ing sarampunge prang Jakarta, Coen nedya males marang wong Inggris. Nanging ing tahun 1620 kabar saka Europa yen para panggedhene VOC. ing tanah Walanda rukun karo Compagnie Inggris. Kang iku ing tanah Indhiya uga Walanda karo Inggris iya kudu rujuk.</strong></p>
<p><strong>Wosing prajangjian mangkene: Siji sijining Compagnie nganggo pawitan dhewe dhewe sarta kena sudagaran ing satanah Indhiya, nanging prajangjian monopolie kang mau mau dilestarekake. Kulake kudu bebarengan, oleh olehane diparo. mung ing pulo pulo Moloko wong Inggris oleh sapratelone. Prakara perang dadi tetanggungane Raad van Defensie, kang dadi wargane wong Walanda lan Inggris genti genten saben sasi.</strong></p>
<p><strong>JP. Coen banget ora senenge dene ana pranatan kaya mangkono iku, awit wong Inggris ora wenang oleh jajahane VOC, Wong Inggris rumangsa disengiti wong Walanda, mulane ing saoleh oleh rekadaya bisane males marang VOC. Walanda. Nalika wong Bandha mogok, kang ngojok ojoki wong Inggris. Sarehne ana Raad van Defensie warga Inggris ora pati sarujuk ngukum marang kraman mau, JP. Coen banjur pratela yen wong Bandha kang wenang ndarbeni iya mung wong Walanda. JP. Coen nuli mangkat menyang Bandha, wong bumi diwisesa, dipateni utawa dibuwang menyang Tanah Jawa. Pulo pulo Bandha didum marang para Walanda tilas punggawane Compagnie, nanging diwajibake nandur pala, lan pametune kudu didol marang VOC. Tindak sawenang wenang iku dadi cacade JP. Coen. Ing wiwitane tahun 1623 JP. Coen lereh marga saka panjaluke dhewe. Kang gumanti jumeneng GG. saka panudinge Coen iya iku P. de Carpentier. Durung nganti sasasi enggone dadi GG., de Carpentier wis nemu reribet, gesrek lan wong Inggris.</strong></p>
<p><strong>Ana ing Ambon wong Jepang bebauning wong Inggris kacekel ing wong Walanda. Bareng ditliti tliti, wong Jepang mau blaka yen wong Inggris wis padha sumpah sumpahan sapunggawane Jepang nedya numpes wong Walanda lan ngrebut beteng Victoria. Tinemuning papriksan wong Inggris 9 wong Jepang 9 lan wong Portegis siji padha ngakoni, yen pancen duwe niyat kaya ature wong Jepang mau. Nuli diukum kisas.</strong></p>
<p><strong>Karampungane pangreh Walanda ing Ambon njalari crahing VOC. lan Compagnie Inggris. Wong Inggris ing pulo Moloko padha lunga, ngejegi pulo Lagundi ana ing supitan Sundha, nanging sarehne akeh kang mati utawa lara, banjur padha ngumpul ing Betawi. Ora antara lawas wong Inggris ana ing Betawi ora bisa rukun karo wong Walanda, nuli padha lunga menyang Banten.</strong></p>
<p><strong>Wiwit adege kutha Betawi tansah dibeciki: Coen wis ngadegake pamulangan sarta murih ajuning dagangan, njupuki wong Cina saka Banten; kejaba iku Betawi uga dianani pangreh kutha kang ngiras nyekel pangadilan.</strong></p>
<p><strong>Carpentier wiwit nganakake pajeg dhuwit kanggo mbecikake tindhaking piwulang sarta pangadilan lan maneh gawe yeyasan kanggo mitulungi marang bocah Walanda kang lola.</strong></p>
<p><strong>15 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 7</strong></p>
<p><strong>Karajan Mataram Nalika Mumbul Mumbule</strong></p>
<p><strong>1586 – 1601</strong></p>
<p><strong>Panembahan Senapati</strong></p>
<p><strong>1601 – 1613</strong></p>
<p><strong>Mas Jolang, Panembahan Seda Krapyak 1609 – 1614 GG. Both</strong></p>
<p><strong>1613 – 1645</strong></p>
<p><strong>Sultan Agung (R. Rangsang, Cakrakusuma) 1619 – 1623 GG. JP. Coen</strong></p>
<p><strong>1623 – 1627 GG. De Carpertier</strong></p>
<p><strong>1627 – 1629 GG. JP Coen</strong></p>
<p><strong>1636 – 1645 GG. Van Diemen</strong></p>
<p><strong>Sadurunge Panembahan Senapati seda wis tinggal weling, yen kang putra penenggah, Mas Jolang kang kalilan nampani warisan kraton Mataram, dene putrane pembayun, Pangeran Puger nrima jumeneng adipati ing Demak, nanging Pangeran Puger besuke ngraman, wasana asor. Kejaba perang lan kang raka, Mas Jolang uga perang karo para adipati ing Bang Wetan.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1613 Sang Panembahan seda. Sarehne sedane mentas lelangen menyang Krapyak, nuli katelah nama Panembahan Seda Krapyak.</strong></p>
<p><strong>Sasedane Panembahan Seda Krapyak kang gumanti jumeneng nata Raden Mas Rangsang, ajejuluk Prabu Pandhita Cakrakusuma. Nalika jumenenge Kangjeng Sultan lagi yuswa 22 tahun; ewa semono wis kinurmatan ing para kawula. Pangastane paprentahan piyambak bae, mung kala kala mundhut rembuge wong kang pinitaya, lan putusaning rembug banjur didhawuhake marang para panggedhening nagara.</strong></p>
<p><strong>Sang Prabu bagus sembada dedeg piyadege, tingale wajar “memper mripating singa” pangagemane presaja, nyampinge bathik wernane putih lan biru (ayake parang rusak), mekuthane putih (matak?). Yen siniwaka, lenggahe ana ing dhampar cendhana kaapit apit ing pot pot kekembangan. Dhampar mau dununge ana ing bangsal kang ajrambah jobin, dawa ambaning jrambah kira kira 3 meter. Para kang seba nyadhong dhawuh, ngubengi bangsal mau, kehe kira kira 300 utawa 400, kabeh padha sila makidupuh tanpa nganggo lemek, lan ora ana kang udut utawa nginang. Sinewaka kaya mangkono mau ing dalem saminggu kaping pindho utawa luwih, para abdi dalem kang ora ngadhep nalika pinuju sinewaka, utawa kang duwe laku ora patut, padha kagantungan paukuman abot. Dadi uripe para priyagung ing Karta iku ora merdika kaya adipati ing sajabaning Karta. Para adipati mau akeh kang sawenang, anggugu ing sakarepe dhewe, wong cilik kang rekasa, padha dipeksa ngestokake pajeg akeh.</strong></p>
<p><strong>Kersane Sultan Agung Tanah Jawa iki kabeh kareha marang Mataram, senadyan bakal perang kang nganti suwe utawa ngetokake wragad akeh iya bakal ditemah, mung angger bisa kelakon. Mungguh mungsuhe ana telu yaiku: para ratu ing Bang Wetan lan Madura, ratu ing Banten sarta Kumpeni.</strong></p>
<p><strong>Dene Cirebon wis nungkul marang Mataram, wiwit tahun 1619. Nalika tahun 1615 Kangjeng Sultan nelukake Lumajang, Malang lan panggonan sawatara maneh. Sawise iku Surabaya, Pasuruwan, Tuban, Wirasaba (Majaagung), Japan (Majakerta), Lasem, Brondong, Arisbaya (Majaagung) lan Sumenep, banjur prajangjian ngumpul dadi siji, perlu bebarengan nempuh Mataram. Nanging perange kasoran. Ing tahun 1617 Sultan Agung mbedhah Pasuruwan, ing tahun 1618 Pajang, lan ing tahun 1619 Tuban. Pangepunge kutha Surabaya ing tahun 1622 ora oleh gawe, nanging bareng ing tahun 1623 Madura kena dikalahake, Sultan Agung ngajati mbedhah Surabaya maneh.</strong></p>
<p><strong>Nalika iku Sultan Agung manggih akal, ora adoh saka cawangane kali Brantas, kali Surabaya dibendung. Banyu sethithik kang isih mili menyang Surabaya dibuwangi bathang lan bosokaning tetuwuhan, amrih wong Surabaya padha ketaman ing lelara. Jalaran saka reka iku wong Surabaya kepeksa nungkul, awit alane banyu mau, miturut crita, wonge Surabaya kang kehe 50 60.000 iku mung kari 1.000. Wasana Tanah Jawa Wetan lan Tanah Jawa Tengah dadi kaereh ing Mataram. Ing tahun 1625 Kangjeng Sultan banjur ajejuluk Susuhunan.</strong></p>
<p><strong>Tepunge VOC. karo Mataram iku molah malih. Ing wiwitane padha becik.</strong></p>
<p><strong>Sultan Agung nerusake prajangjiane kang rama, yaiku: VOC. kena ngedegake loji ana ing Jepara. Nalika iku Sultan Agung ngandika karo utusaning Compagnie: “Aku sumurup, yen tumekamu ing kene ora nedya nelukake Tanah Jawa”. Enggone Walanda manggon ing Jepara iku mung supaya bisa ngirimake beras. Nanging ing prakara iku wong Walanda tansah digawe pakewuh dening Baureksa, bupati ing Kendhal. Malah baureksa lan bupati liyane padha ngreka daya, amrih wong Walanda aja menyang Karta sapatemon karo Sang Prabu.</strong></p>
<p><strong>Awit saka iku VOC. lan para bupati padha congkrah. Ing sawijining dina Baureksa nukup wong Walanda, ana sawatara kang dipateni lan ana pitulas kang dikunjara. Nalika iku Coen dhawuh ngobong Jepara, iya klakon kobong saperangan (tahun 1618). Ing wektu semono Sultan Agung lagi perang ana ing Bang Wetan lan ora menggalih apa kang klakon ing Jepara.</strong></p>
<p><strong>Bareng Coen ing tahun 1619 yasa kutha Betawi, lan Jakarta wis katekem ing tangane bangsa Walanda, sultan Agung muring banget marang VOC. Ora antara lawas dhawuh nglarangi adol beras marang Compagnie, amarga Coen wani wani aweh mriyem marang wong Surabaya. Sanadyan mengkonoa meksa ora dadi perang, awit sapisan Sultan Agung nedya golek reka bisane wong Walanda ngakoni yen kebawah Mataram, nganggo sarana kang alus, lan ping pindhone samangsa dadi perang wong Walanda kuwatir yen banjur ora bisa oleh beras babar pisan. Nalika Sultan Agung ngajak Walanda bebarengan mbedhah Banten, wong Walanda ora gelem, awit VOC, ora pracaya marang wong Mataram, marga Walanda wis ngrebut layang, kang surasane: “Sultan Agung bakal mbedhah Banten, sawuse iku banjur ngalahake Betawi”. Banten lan Mataram iku tansah memungsuhan, nanging Sultan Agung ora bisa ngalahake, jalaran nalika iku praune wong Jawa ora sepiraa kehe lan mlaku dharat dalane angel banget. Ing Tanah Jawa Kulon kang teluk marang Mataram mung ing Sumedhang (Priyangan) lan Cirebon. Nalika JP. Coen jumeneng GG. kang kapindhone ing tahun 1628, ana utusan saka Mataram menyang Compagnie duwe panjaluk mangkene: Sapisan Panembahan enggone arep nempuh Banten mundhut tulung marang Compagnie, kapindhone JP. Coen didhawuhi utusan menyang Mataram ngaturake bulu bekti. Panjaluk iku mau loro lorone ora dituruti. Ing sasi Agustus wayah bengi kasteel ing Betawi ditempuh ing bala Mataram saka pelabuhan. Ing dharatan ana baris gedhe kang ngepung kutha Betawi. Mangka cacahing prajurit Compagnie mung 3.800. Nuli JP. Coen tekad tekadan nempuh, prajurit Jawa bubar, malah banjur kepeksa mundur, awit wis ngancik mangsa udan tur nganggo kekurangan pangan. Ing sasi April tahun 1629 ana utusan saka Mataram aran Warga ketemu GG. JP. Coen, jarene perlu rembugan arep bedhami. JP. Coen wis ngerti yen Warga iku satemene telik, banjur terus dicekel. Bareng ditakoni, prasaja yen wong Mataram wis nglakokake wadyabala maneh lan murih aja nganti kekurangan pangan kaya kang uwis, ing Tegal wis disedhiyani tandhon beras. JP. Coen terus dhawuh ngobongi tandhon beras mau. Wusana bareng prajurit Mataram teka ing wewengkon Betawi enggal bae enggone kentekan pangan. Wadyabala Mataram wiwit gawe laren nganti ketug sacedhake kutha, JP. Coen nuli dhawuh ngrusak laren mau. Sarehne bala Mataram uga ketrajang lelara, wusana kepeksa mundur. Wiwit ing wektu iku karajan Mataram wis ora wani nempuh marang kutha Betawi. Ewa dene Sultan Agung sabisa bisa tansah ngarah gawe kapitunane Compagnie, kayata wong Mataram dilarangi dagang beras menyang Betawi, mangka Compagnie butuh banget.</strong></p>
<p><strong>Utusan saka Betawi menyang Karta padha dicekel, sarta direngkuh abdi telukan, malah saweneh ana kang dipateni. Bareng sabedhahe kutha Malaka tahun 1641, wong Jawa ora kena dagang beras ana ing kono, dipeksa dagang menyang pelabuhan Betawi. Senadyan Sultan Agung durung karsa rukun, ewa dene kawula Mataram diidini lelawanan dedagangan maneh lan Compagnie ing Betawi. Wasana ing tahun 1646 Sultan Agung seda, wiwit ing wektu iku Mataram banjur rukun bae lan Compagnie.</strong></p>
<p><strong>Karsane Sultan Agung arep ngerehake Tanah Jawa kabeh iku wis akeh kelakone, nanging perang mau ndadekake karusakan ing Tanah Jawa.</strong></p>
<p><strong>Nalika utusane VOC. ing tahun 1613 padha menyang Karta, para utusan padha eram ndeleng kehing wong ing kutha kutha, kehing beras pari apa dene kehing wit witan tuwin tetanduran kang metu kasile, nanging bareng antara limalas tahun maneh, akeh tanah tanah kang ora kadunungan wong, panggonan panggonan kang katrajang ing prang padha nandang paceklik lan kaambah ing pageblug. Mulane mengkono, marga Sultan Agung iku nggone arep nggayuh karsane iku nganggo sarana kang nggegirisi, kayata: kabeh kawula kudu melu perang, durung nganti perang wong wong mau wis akeh kang tiwas ana ing dalan. Gampang yen mung arep bisa ngira ngira kehing prajurit kang dilurugake, yen ngelingi pangepunge kutha Betawi kang ping pindhone.</strong></p>
<p><strong>Nalika iku ana prajurit 80.000 lan sing bali menyang Mataram durung ana seprapate. Nalika nglurug Madura, kehing prajurit nganti 160.000.</strong></p>
<p><strong>Yen ana wong sabangsa kalah perange, kerep kelakon wong kabeh mau kapeksa ninggal tanahe. Nalika bedhahe Madura, kutha kutha lan desa desa ing kono meh kabeh dirusak, para ratune dipateni, wonge cilik ana 40.000 kang dipeksa ngalih menyang Gresik lan Jaratan, jalaran ing kutha loro mau, marga saka perang kang uwis uwis meh ora kadunungan ing wong.</strong></p>
<p><strong>Adipati ing Sumedhang kapeksa urun bala akeh banget, nganti ing negarane (Priyangan) meh entek wonge. Sakalahe Wirasaba bupatine kablenegake ing banyu nganti tumeka ing pati, lan wong cilik diboyongi menyang Banyumas. Sultan Agung iku ora ngajeni nyawaning wong, nalika campuhe wadyabala Mataram ana ing Surabaya iku wong Mataram kang mati 40.000 lan Kangjeng Sultan iya ayem bae, pangandikane: tanah Mataram isih sugih wong.</strong></p>
<p><strong>Jalaran kang mangkono mau wong cilik padha ora bisa nggarap sawah, regane beras saya larang lan wonge saya ora kacukupan. wuwuh wuwuh kaambah ing pagering, mulane ing tahun 1618 lan 1626 akeh padesan ing Tanah Jawa kang wonge mung kari 1/3, kang 2/3 padha mati. Wragad perang iku iya ora sethithik, lan sing kudu nganakake iya wong cilik, Sultan Agung ora kagungan welas marang mungsuh, malah senapati lan prajurite dhewe iya sok kapatrapan paukuman kang ora murwat, yaiku yen perange kalah.</strong></p>
<p><strong>Miturut crita, saundure wadyabala saka Betawi, Sultan Agung dhawuh mateni wong 4.000; wong samono mau kalebu para garwane baureksa, kang tiwas ana ing peprangan.</strong></p>
<p><strong>Nalika perang Mataram JP. Coen wis kraos gerah, nanging meksa nyenapati ing perang, dadi kasengka banget. Wasana ing tanggal 20 September 1629 gerahe banget dadakan, nganti dadi lan tiwase.</strong></p>
<p><strong>Wis tetela banget yen tujune Compagnie nganti seprono mung murih ajuning dedagangane. Sarehne kang dikukuhi banget pranatan monopolie, mulane kudu bisa mbalekake panempuhe wong Europa liyane. Bisane kelakon, mung yen prajurite dharatan lan lautan sentosa, perlu kanggo ngukuhi kantor kantor ing Betawi, lan uga kanggo nanggulang ardane Mataram. Coen iku kena diarani wong pinunjul, katandha nalikane adege Betawi bisa ngundurake ardaning mungsuh nganti kaping pindho (Inggris lan Mataram) senadyan tansah karoban lawan, tindake ana ing Moloko tetep diarani siya, ewadene meksa klebu wong ambek sudira ing pakewuh lan ora wegahan.</strong></p>
<p><strong>Enggone nglabuhi tanah wutah rahe tanpa pamrih nganti tekan ing pati.</strong></p>
<p><strong>Sasedane GG. JP. Coen kang gumanti J. Specx (tahun 1629 – 1632) tumuli H. Brouwer 9tahun 1632 – 1636).</strong></p>
<p><strong>Wiwit adege A. van Diemen dadi GG., Compagnie ngancik ndedel dedele, awit van Diemen pancen GG. kang cakep ing bab sakabehe.</strong></p>
<p><strong>Dhek samana VOC. perang maneh lan mungsuhe lawas yaiku bangsa Portegis.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1638 jajahane wong Portegis ing Ceylon karebut ing senapatining VOC. banjur Compagnie diidini ngadegake beteng lan nindakake monopolie dagangan manis jangan. Ora antara suwe beteng Malaka, kang kalebu sentosa banget, kinepung wakul lan diperangi bala VOC. Nganti suwe wong Portegis panggah. Ing tahun 1641 senapati Walanda Caerteku dhawuh ngrangsang beteng, wasana bedhah. Ing ngatase wong Portegis ilange kutha Malaka iku kerugian gedhe banget. Sarehne banjur uga kelangan jajahan ing pasisire tlatah Coromandel lan Malabar, wong Portegal prasasat tanpa panguwasa ana ing tanah Asia. Nalika bedhami ing tahun 1641 wong Portegis dipeksa nuruti bae.</strong></p>
<p><strong>Mungguh ing ngatase Compagnie, bisa oleh kutha Malaka kauntungan gedhe, awit ndadekake wedine para ratu bangsa bumi kabeh. Padagangane Malaka ngalih menyang Betawi. Nalika jamane GG. van Diemen kutha ing Betawi digedhekake lan dibecikake. Jiwane 9.000, wong Walanda 3.000 luwih. Ing sajabane kutha wiwit akeh pasanggrahane para gedhe. Ing sajroning kutha wong laku dagang maju banget. Kacarita karajan Mataram ing wektu iku banjur rukun bae lan Compagnie. Ing tahun 1646 VOC. prajangjian karo Mataram (nalika jumenenge Mangkurat I). Ing saben tahun Compagnie kudu nglakokake utusan menyang Mataram. Wong Jawa kena dedagangan ing sadhengah panggonan kejaba ing Moloko. VOC. lan Mataram padha dene ora kena ngrewangi mungsuhe. Ing sabakdane tahun 1629 kerep bae Banten memungsuhan lan Betawi, marga wong Banten ambubrah monopoliening VOC. karo wong Moloko. Pelabuhan Banten kerep banget dibarisi ing prau perang Walanda, dadi kutha Banten padagangane mati. Ing tahun 1645 Banten gawe prajangjian lan VOC. Dadi tetela yen panguwasane Compagnie tansah mundhak gedhe.</strong></p>
<p><strong>GG. van Diemen arep nggedhekake padagangan ing tanah Cina lan Jepang.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1642 ana wong Walanda, aran Abel Tasman njajah ngetan nemu pulo pulo anyar ing wewengkone Australia iya iku Nieuw Zeeland lan Van Diemensland (saiki aran Tasmania). Tanah Australia diarani Nieuw Holland.</strong></p>
<p><strong>Nalika jaman Sultan Agung ana owah owahan bab umuring tahun.</strong></p>
<p><strong>Kang dienggo tumekane jaman iku diarani tahun Saka, umure kaya dene tahun Christen ((+/- 365 dina) wiwite tahun nalika tahun christen wis tekan angka 78.</strong></p>
<p><strong>Wiwit tahun Saka 1555 (= 8 Juli 1633) umure disalini manut lakuning rembulan ( 1 tahun = 355 dina) dicocogake karo tahun Arab kang dhek samono wis tekan angka 1.043. Tumekaning saiki kabeh mau isih dipacak ana almenak, kayata: 1 Januari 1925 = 5 Jumadilakir Dal Windu Sengara 1855 (Jawa) = 5 Jumadilakir 1343 (Arab).</strong></p>
<p><strong>16 Perangan Kang Kaping Pindho</strong></p>
<p><strong>Bab 8</strong></p>
<p><strong>Kraman ing Moloko (1650 – 1653)</strong></p>
<p><strong>Mataram Jamane Amangkurat I lan Amangkurat II.</strong></p>
<p><strong>Kraman Trunajaya.</strong></p>
<p><strong>Perang Banten.</strong></p>
<p><strong>1645 – 1677 Mangkurat I 1650 – 1653 GG. Reiners</strong></p>
<p><strong>1677 – 1703 Mangkurat II 1653 – 1678 GG. Maetsuyker</strong></p>
<p><strong>1678 – 1681 GG. Rijklof van Goens</strong></p>
<p><strong>1681 – 1684 GG. Speelman</strong></p>
<p><strong>Dhek jamane GG. van Diemens VOC. ana ing pulo pulo Moloko nemu reribet, marga saka anane monopolie, tanah Moloko suda banget karaharjane, wong bumi padha ngrekasa uripe. Wong cilik ora gelem netepi prajangjiane monopolie, padha laku dagang colongan. Punggawane VOC. nyirep kraman kanthi tindak keras. Nuli wong Moloko dibiyantu ing Sultan Ternate, mulane saya ndadra. Wasana GG. van Diemens tumindak dhewe, tindake keras nanging ndalan, temahan kraman bisa mendhak. Ing nalika jamane GG. Reiners (tahun 1650 – 1653) ing Ternate lan Ambon ana kraman maneh kang marga saka pangojok ojoke wong Makasar. Wong bumi padha nggrundel ora trima, awit A. de Vlaming, Gouverneur ing kapulowan Moloko dhawuh mbabadi tanduran bumbu craken kang dianggep turah, murih ora ngedhunake regane dagangan. Yen wong bumi ora nuruti, prajurit VOC. lelayaran mrana ngrampungi pasulayan kanthi wasesa (hongi). Enggone nyirep kraman A. de Vlaming kanthi kekerasan, akeh wong kang dipateni utawa dibuwang . Wasana pulo pulo akeh kang suwung.</strong></p>
<p><strong>Wiwit ing wektu iku dikenakake nandur cengkeh mung wong ing Ambon lan pulo pulo cilik sisih wetan, kang kena nandur pala mung wong ing Bandha.</strong></p>
<p><strong>Amarga saka anane planggeran mau wong bumi akeh kang padha kemlaratan.</strong></p>
<p><strong>Wasana ora ana sranane kanggo mbangkang maneh.</strong></p>
<p><strong>Bareng Moloko wis tentrem, nalika kang jumeneng GG. Maetsuycker VOC. merangi Makasar. Hasanudin, ratu ing Makasar tansah nulungi wong bumi ing Moloko. Manehe VOC. ora oleh idin ngadegake loji ana ing karajan Makasar. Enggone memungsuhan VOC. lan Hasanudin nganti ambal kaping telu. Wekasane ing tahun 1667 Cornelis Speelman didhawuhi nandangi Hasanudin. Aru Palaka ratu ing palaka mbantu Compagnie, jalaran karajane direbut kagamblokake marang Makasar, rama lan eyange Aru Palaka kapatenan ing Ratu Makasar. Putusaning perang Hasanudin kapeksa nganggep prajangjiane VOC. tahun 1667. Miturut jenenge papan prajangjian mau diarani prajangjian ing Bonggaya.</strong></p>
<p><strong>Bedhahe Makasar iku ing atase VOC. akeh banget pakolehe, awit iku dadi hedhasaring panguwasa ana ing Celebes sarta pamengkune marang sakabehing pulo pulo ing Moloko. Minangka ganjaran Aru Palaka didadekake ratu ing Bone. Surasane prajangjian ing Bonggaya prakara warna warna, kayata: Makasar lan Goa ngakoni pangayomane VOC. apa dene Flores lan Sumbawa mari dadi jajahane Makasar. Bangsa manca kang kena dedagangan ing Moloko mung VOC. bae. Wong Makasar kudu nglereni enggone lelawanan dedagangan lan Moloko.</strong></p>
<p><strong>Sasedane Sultan Agung ing Mataram tansah ana kraman utawa perang, ndadekake gempaling karajan. Kang misuwur iya iku kramane Trunajaya, sebabe mangkene:</strong></p>
<p><strong>1. Pangeran Arya Prabu Adi Mataram kang nggenteni Sultan Agung, jejuluk Sunan Mangkurat I, kapinteran lan kekencenganing karsa ora mantra mantra timbang lan kang rama. Sarehne wegah memungsuhan lan Compagnie, ing tahun 1646 lan 1652 prajangjian pamitran lan VOC. Surasane prajangjian 1652 ana kang nyebutake bab tapel watese jajahaning Compagnie sisih wetan, iya iku kali Citarum. Ing tanah Mataram akeh para gedhe kang nggrundel ora narima marang tindake Mangkurat mau.</strong></p>
<p><strong>2. Sunan Mangkurat ala banget pangrehe praja, jalaran ketungkul mbujeng marang kamukten nganti nukulake panggalih siya. Para kawula gedhe cilik ora ana kang njenjem uripe, jalaran saka siyane Sang Prabu. Nalika jumeneng anyar anyaran nenumpesi mitrane kang rama akeh. Saking kalulute marang pakareman kang nistha nganti wentala mutahake getihe wong kang tanpa dosa. Kaya dene nalika garwane kekasih seda, nuli dhawuh nyekel wong wadon 100 dikurung ing pasareyan nganti mati kaliren.</strong></p>
<p><strong>3. Ing Madura ana sawijining Pangeran kang duwe tekad arep ngraman, manggedheni para gedhe ing Mataram lan Madura, merangi Mangkurat.</strong></p>
<p><strong>Pangeran mau wayahe Cakraningrat I ing Sampang saking amuyan, jenenge Trunajaya. Senadyan Trunajaya ora nduweni waris kadipaten, ewa dene garah jumeneng adipati ing Madura. Nalika kang paman jumeneng adipati, jejuluk Cakraningrat II gampang bae Trunajaya enggone ngelun wong Madura, awit sang adipati tansah ana ing Mataram bae. Ing tahun 1674 kraman wis ngrebda banget. Trunajaya dibantu ing wong Makasar kang padha lunga saka tanahe dhewe ngalambrang, gawene mbebajak. Tanah Jawa Wetan enggal ditelukake. Bareng kraman saya mengulon, Mangkurat I saya kuwatir, nuli mundhut pitulungane Compagnie. Prentah ing Betawi kang sakawit mangu mangu, nanging bareng saya krasa kapitunan enggone dedagangan marga saka panggawening kraman, ing wasanane gelem tetulung. Ing kawitane prajurit Walanda kerep bisa mbalekake kraman saka sawenehing panggonan, nanging saya suwe saya cabar, kraman saya maju, tanah pasisir lor lan Tanah Jawa Tengah pasisir wetan wis katekem ing kraman, Trunajaya banjur akadhaton ing Kedhiri. Prentah ing Betawi wiwit anggraita yen pananggulanging kraman Trunajaya kudu ditumeni. Ing tahun 1677 ana wadyabala Compagnie menyang Jepara, disenapateni Cornelis Speelman. Dhisike Trunajaya arep dirukun, nanging ora gelem. C Speelman nuli prajangjian: lan Sunan Mangkurat I, surasaning prajangjian: Compagnie bakal mitulungi Mangkurat, nanging njaluk liru ragading perang, undhaking jajahan, lan wewenang ing prakara dedagangan. C. Speelman banjur wiwit merangi kraman, nanging mung bisa ngejegi Surabaya, dene jajahane Trunajaya saya mundhak, malah wis bisa nggepuk Karta, kutha karajaning Mataram. Upacaraning kraton diboyong menyang Kedhiri. Sunan Mangkurat kengser, tindak mangulon didherekake ing Sang Pangeran Adipati Anom.</strong></p>
<p><strong>Mungguh kramane Kangjeng Sunan mau nedya ketemu panggedhening Compagnie ing Jepara, nanging ana ing dalan seda (tahun 1677) kasarekake ing Tegal Arum. Nganti saprene Mangkurat I isih katelah nama Sunan Mangkurat Tegal Arum. Sasedane Sunan Mangkurat I Sang Pangeran Adipati Anom gumanti jumeneng nata, jejuluk Sunan Mangkurat II, nanging sasat ora jumeneng ratu, awit kang nganggep mung para kawula kang nderekake, malah kang rayi Sang Pangeran Puger, kang ana Mataram iya ngaku jumeneng Sunan. Sunan Mangkurat II banjur tindak menyang Jepara, mundhut tulung marang Compagnie, ngestokake dhawuhe kang rama. C. Speelman saguh mitulungi, nanging nganggo prajangji.</strong></p>
<p><strong>Wosing prajangjian Jepara :</strong></p>
<p><strong>VOC. nganggep ratu marang Mangkurat II VOC. kena dedagangan ing satanah Mataram, kena nglebokake dedagangan ora wenang dijaluki beya.</strong></p>
<p><strong>Jajahan VOC. mangidul tekan segara, mangetan tekan Cimanuk, apadene kutha Semarang sawewengkone. GG. Maetsuycker lan keh kehing para Liding Raad van Indie ora rujuk karo kareping para Bewindhebber, pangrehing VOC. ana ing tanah Walanda; aliya saka iku Trunajaya wis kegedhen panguwasane, mangka Sunan Mangkurat II wus prasasat tanpa daya, wuwuh wuwuh prentah ing Betawi lagi karepotan ora bisa oleh pitulungan saka nagara Walanda, tur nemu pakewuh karo Banten.</strong></p>
<p><strong>Ing tahun 1678 GG. Maetsuycker seda digenteni Rijkloff van Goens. Priyagung iku nemeni enggone nandangi Banten. Rijkloff lan Speelman padha sabiyantu ngrampungi kraman Trunajaya, aja nganti kedhisikan ditempuh wong Banten.</strong></p>
<p><strong>Rijkloff van Goens banjur ngutus wadyabala gedhe menyang Tanah Jawa Tengah nglurugi Trunajaya. Trunajaya iya metukake, nanging suwe suwe keplayu marang Kedhiri. Kedhiri nuli dibedhah klawan rekasa, nanging Trunajaya oncat ngungsi marang pagunungan salore gunung Kelut.</strong></p>
<p><strong>Kapitan Ambon aran Jonker kautus ing Kangjeng Susuhunan ngelut playune Trunajaya. Dalan dalan sakubenge pandhelikane Trunajaya dijaga prajurit, wusana Trunajaya nungkul. Kangjeng Susuhunan arep priksa marang Trunajaya nanging bareng disowanake ing ngarsane, nuli diperjaya ing Sang Prabu piyambak (tahun 1680). Senadyan ing tahun 1652 wis ditemtokake yen Cisedane kang dadi tapel watese Banten lan jajahan VOC., ewa dene wong Banten iya ora wedi njejarah, mbegal ing sawetane Cisedane. Ing tahun 1656 kelakon dadi perang nganti tumeka tahun 1659. Ing salebaring perang mau VOC. meksa durung rukun karo Banten. Ing wektu samono kang jumeneng ing Banten Sultan Agung Abul Fatah utawa Tirtayasa. Sang Prabu pancen ratu peng pengan, kang diudi mumbuling negara lan undhaking jajahan, mulane sengit banget marang Compagnie, awit digalih ngalang alangi pangelaring jajahan. Saka pambudidayane Sultan Agung kelakon kutha Banten bisa reja lan rame. Wong Inggris, Denmarken lan Prasman padha oleh idin dedagangan ana ing Banten. Nalika kraman Trunajaya Sultan Agung ora gelem nganggep ratu marang Mangkurat II lan mitulungi marang Makasar mungsuhe VOC.</strong></p>
<p><strong>Pangarep arepe yen prajurit VOC., suda banget, wong Walanda banjur gampang kalahe karo Banten. Ing sesirepe kraman mau rehne GG. Spellman wis mangerti sedyane Sultan Agung yaiku arep enggal merangi Betawi, mulane banjur tata tata. Kabeneran banget ing atase VOC. ing tahun 1682 ing Banten ana geger, jalaran Sang Pangeran Adipati Anom Abdul Kahar (banjur jejuluk Sultan Haji) lan rayine Sang Pangeran Purbaya rebut kalenggahan Pangeran pati, iya iku biyantu kang rama ngasta paprentahaning negara. Sultan Haji rekasa banget, awit Sultan Agung mbiyantu Purbaya, nuli Sultan Haji njaluk tulung marang VOC., kang saguh arep nulungi, jangji wong Walanda ing Banten oleh monopolie. Sultan Agung banjur keplayu dioyak ing prajurit Compagnie. Bareng kecekel dikunjara ana ing Betawi nganti tekan ing sedane (tahun 1692). Wose prajangjian ing tahun 1684 wong Inggris lunga saka Banten, nuli ngalih menyang Bengkulen. Kejaba iku VOC. wenang melu ngrembug ruwet rentenging nagara ing Banten. Wiwit ing jaman iku Cirebon uga melu ngaub marang VOC.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudrominulyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudrominulyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudrominulyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudrominulyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudrominulyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudrominulyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudrominulyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudrominulyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudrominulyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudrominulyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudrominulyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudrominulyo.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudrominulyo.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudrominulyo.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=44&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/06/usal-asul-sejarah-bangsa-jawa-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ffbd342787a2b0acae54a4f353b56041?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">a64nghand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/gus.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fisika Atom</title>
		<link>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/fisika-atom/</link>
		<comments>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/fisika-atom/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 20:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiageng Sudrominulyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngibul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudrominulyo.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[&#62; Lebih dari 100 tahun semenjak Dalton mempostulatkan teori Atom (1803) sebagai partikel-titik, sampai pada penemuan struktur internal atom: elektron oleh Thomson (1897), kemudian proton oleh Rutherford (1911), dan Netron oleh Cahdwick (1932). Selain itu, para eksperimenter menemukan partikel-partikel hadron saat meneliti keanehan sifat fisik proton dan netron (disebut juga nukleon, dan nukleon termasuk jenis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=26&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-27" title="princess-Akiko" src="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/princess-akiko2.jpg?w=112&#038;h=150" alt="princess-Akiko" width="112" height="150" />&gt; Lebih dari 100 tahun semenjak Dalton mempostulatkan teori Atom (1803) sebagai partikel-titik, sampai pada penemuan struktur internal atom: elektron oleh Thomson (1897), kemudian proton oleh Rutherford (1911), dan Netron oleh Cahdwick (1932). Selain itu, para eksperimenter menemukan partikel-partikel hadron saat meneliti keanehan sifat fisik proton dan netron (disebut juga nukleon, dan nukleon termasuk jenis partikel hadron).<br />
&gt; Kali ini kita akan mengklasifikasikan partikel elementer dalam sebuah model, yang disebut Model Baku. Dengan Model Baku ini fisika menjelaskan bagaimana alam semesta ini ada dengan segala fenomenanya minus fenomena gravitasi.<br />
&gt;<br />
&gt; &#8220;Quark&#8221; dan &#8220;Lepton&#8221;<br />
&gt; Pada tahun 1964, fisikawan teori Murray Gell-man dan George Zweig memprediksi kehadiran quark sebagai partikel elementer untuk menjelaskan kehadiran partikel hadron pada eksperimen penghamburan partikel energi-tinggi. Teori quark tidak hanya sanggup menjelaskan fenomena partikel hadron, tapi juga menjawab keanehan sifat partikel nukleon.<br />
&gt; Teori quark mengatakan, ratusan partikel hadron adalah kombinasi dari quark: quark &gt; -&gt; antiquark membentuk jenis meson, dan tiga quark membentuk baryon. Dan semua materi yang ada di alam semesta hanya dibagi atas jenis meson dan baryon. Proton dan netron adalah termasuk jenis baryon, karena proton dan netron adalah partikel utama pembuat atom, maka dengan sendirinya benda-benda yang ada di sekitar kita adalah baryon. Sementara meson jarang dijumpai kecuali pada daerah-kerja energi tinggi, misalnya pada ledakan bintang-bintang atau supernova.<br />
&gt; Sampai saat ini belum ada yang berhasil menemukan quark sebagai partikel bebas layaknya elektron atau proton. Tapi para eksperimenter sudah membuktikan konsekuensi dari keberadaan quark. Dengan kata lain, sejauh ini banyak prediksi dari teori quark cocok dengan eksperimen.<br />
&gt; Ada enam jenis quark, atau sering disebut &#8220;bumbu&#8221;: up, down, charm, strange, top, dan bottom. Klasifikasi bumbu ini berdasarkan perbedaan sifat fisika quark, seperti muatan dan massa.<br />
&gt; Selain quark, partikel elementer lainnya adalah lepton. Seperti halnya quark, lepton juga punya enam bumbu: elektron, muon, tau, nutrino-elektron, nutrino-muon, nutrino-tau. lepton dan quark selain berbeda sifat fisikanya, juga berbeda daerah-kerja energinya, quark ada di daerah-kerja energi jauh lebih besar daripada lepton.<br />
&gt;<br />
&gt; Partikel pembawa interaksi<br />
&gt; Sejauh ini kita sudah punya quark dan lepton sebagai partikel elementer. Namun dua aktor ini saja belum bisa membuat alam semesta dengan segala fenomenanya. Quark dan lepton harus berkombinasi dan berinteraksi sedemikian rupa. Untuk itu kita butuh satu aktor lagi, yang disebut partikel &#8220;pembawa interaksi&#8221; atau partikel penukar (exchange particle).<br />
&gt; Konsepnya adalah, segala sesuatu yang berinteraksi karena mempertukarkan partikel. Benda jatuh ke bumi karena gaya gravitasi adalah karena interaksi gravitasi benda dengan bumi dengan saling mempertukarkan graviton. Begitu juga kutub magnet utara dengan Selatan saling bertolakan atau muatan negatif dan positif saling tarik menarik adalah interaksi elektromagnetik dengan saling mempertukarkan foton.<br />
&gt; Untuk memahami bagaimana kerja partikel ini, perhatikan ilustrasi pada gambar. Apa yang terjadi ketika dua orang ini saling melempar dan menerima bola? Mereka akan saling mejauh. Fenomena sederhana ini bisa dipahami juga lewat hukum aksi-reaksi dari Newton. Dua orang dalam perahu A dan B adalah partikel, dan bola itu adalah partikel penukar. Itulah yang terjadi pada kutub utara magnet yang menolak kutub utara magnet lainnya. Dua orang dalam perahu disebut partikel, dan bola itu adalah partikel penukar.<br />
&gt; Selain graviton dan foton, masih ada dua jenis partikel penukar lainnya, yaitu gluon dan vektor-boson (W dan Z). Gluon adalah partikel penukar antar-quark, dan W-boson adalah antar-lepton. Semua partikel pembawa ini sudah ditemukan dalam eksperimen, kecuali graviton.&gt;<br />
&gt; Partikel pengantar ini bekerja hanya pada daerah kerja masing-masing. Gluon bekerja pada daerah &#8220;interaksi kuat&#8221; vektor-boson pada &#8220;interaksi lemah&#8221;; foton pada &#8220;interaksi elektromagnetik&#8221; ; graviton pada &#8220;interaksi gravitasi&#8221;.<br />
&gt;<br />
&gt; Model baku<br />
&gt; Lengkap sudah para aktor yang kita butuhkan untuk membangun alam semesta ini. Aktor pertama adalah quark, aktor kedua adalah lepton, dan aktor ketiga adalah partikel penukar.<br />
&gt; Model baku pertama kali diperkenalkan trio Sheldon Glashow, Abdus Salam, dan Steven Weinberg pada pertengahan 1970-an. Mereka mendapat hadiah Nobel pada tahun 1979. Sampai saat ini model baku adalah teori utama yang dipakai dalam fisika partikel. Sudah banyak prediksi dari model ini yang cocok dengan eksperimen. Namun, sejauh ini, model baku belum berhasil memadukan fenomena gravitasi dalam modelnya. Untuk gravitasi, model yang dipakai masih General Relativitas Einstein (atau Newton untuk kasus sederhana).<br />
&gt;<br />
Posted by UH@</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudrominulyo.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudrominulyo.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudrominulyo.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudrominulyo.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudrominulyo.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudrominulyo.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudrominulyo.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudrominulyo.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudrominulyo.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudrominulyo.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudrominulyo.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudrominulyo.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudrominulyo.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudrominulyo.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=26&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/fisika-atom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ffbd342787a2b0acae54a4f353b56041?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">a64nghand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/princess-akiko2.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">princess-Akiko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan</title>
		<link>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/judul-ini-bisa-langsung-digugat-apa-mungkin-mengkaitkan-sufisme-dan/</link>
		<comments>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/judul-ini-bisa-langsung-digugat-apa-mungkin-mengkaitkan-sufisme-dan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 20:35:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiageng Sudrominulyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngibul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudrominulyo.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=21&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-22" title="Azumi" src="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/azumi.jpg?w=240&#038;h=300" alt="Azumi" width="240" height="300" />Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan<br />
Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada<br />
Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu<br />
modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari<br />
partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai benda-benda makroskopis seperti bintang dan<br />
galaksi. Fisika berkaitan dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat diterangkan secara rasional.<br />
Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau<br />
menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang<br />
egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti<br />
meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian,<br />
mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya<br />
berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk<br />
bercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama<br />
kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat<br />
sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau<br />
pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum<br />
Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal yang bersifat<br />
spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar<br />
Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk<br />
belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu<br />
yang tidak mudah.</p>
<p>Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya,<br />
perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klasik<br />
(Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar dari Sufisme.<br />
Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi<br />
banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern dan<br />
Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suatu realitas<br />
yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan<br />
yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang<br />
tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman<br />
manusia.</p>
<p>Sebelum masuk lebih jauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada<br />
baiknya gambaran tentang Fisika klasik kita lihat kembali. Konsep<br />
filosofis Fisika klasik adalah analitik, mekanistik dan deterministik.<br />
Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkan alam semesta mengikuti<br />
filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian ini semua fenomena<br />
yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkan hukum-hukum<br />
Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaan<br />
diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka<br />
perilaku suatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat<br />
ditentukan. Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana<br />
seperti benda jatuh bebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam<br />
tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan<br />
Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau<br />
matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil<br />
pengamatan.</p>
<p>Tidak dapat disangkal bahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah memicu<br />
kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di Eropa.<br />
Mesin-mesin dirancang dengan disain yang berdasarkan perhitungan<br />
analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta<br />
merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus-menerus dan dapat<br />
diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik seperti peran dewa-dewa, roh<br />
nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halus tidak ada lagi dalam<br />
hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untuk dinihilkan. Kalaupun Tuhan<br />
dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangat direduksi sebagai sekedar<br />
pencipta awal, dan kemudian alam &#8220;ditinggalkan&#8221; untuk berputar sendiri<br />
setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.</p>
<p>Kesuksesan Fisika Newtonian ternyata hanya berlaku pada dunia makroskopis,<br />
dunia kasat mata dan pada benda yang bergerak dengan kecepatan jauh di<br />
bawah kecepatan cahaya. Di awal abad ke dua puluh, Fisika klasik terbukti<br />
gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada skala atom. Seolah-olah<br />
ada revisi edisi ulang ilmu Fisika, muncullah dua cabang ilmu Fisika<br />
Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani oleh Bohr, Heisenberg,<br />
Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yang diungkapkan<br />
Einstein.</p>
<p>Fisika Kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan<br />
peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah<br />
melahirkan material semikonduktor, laser dan chips mikroskopis yang pada<br />
gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan<br />
informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapat ditarik untuk<br />
menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperoleh gambaran<br />
bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman besar) dan<br />
berkembang serta berekspansi secara terus menerus.</p>
<p>Implikasi filosofis Fisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang<br />
prinsip ketidakpastian Heisenberg dan participating observer (hasil<br />
eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan<br />
terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya) . Dalam dunia sub-atomik,<br />
hukum Fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel<br />
diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang menyangkut<br />
indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukup ramai.</p>
<p>Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi<br />
dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah<br />
dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger<br />
menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah<br />
persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak memberi informasi<br />
apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen benar-benar<br />
dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebut meramalkan dua hasil<br />
kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda, tampak bahwa<br />
hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel<br />
tersebut tidak punya sifat &#8220;asli&#8221;.</p>
<p>Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan<br />
secara dramatis dalam sebuah &#8220;eksperimen&#8221; yang dikenal dengan kucing<br />
Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing ini bisa dalam dua keadaan skizofrenik<br />
sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu saja semua ini merupakan bahasa<br />
metafora dari ketidakmampuan fisikawan untuk menerangkan keadaan &#8220;yang<br />
sesungguhnya&#8221; terjadi. Namun hal tersebut seperti keadaan partikel yang<br />
bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum.</p>
<p>Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir<br />
ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam membangun teori<br />
Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan<br />
seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia<br />
berucap &#8220;Tuhan tidak bermain dadu&#8221;. Dalam debat melawan Bohr dan<br />
kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat<br />
dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun &#8220;agak<br />
edan&#8221; tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia<br />
mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Lebih jauh tentang konsep participating observer, pola hasil yang akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan<br />
oleh pengamat atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan<br />
penelitian sosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh<br />
lagi sesuatu benda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar<br />
diamati. Oleh karena itu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran<br />
(consciousness) untuk menjadikan sesuatu benda menjadi &#8220;real&#8221;. Tanpa<br />
pengamat, maka semesta ini tidak akan ada.</p>
<p>Disini mulai jelas titik singgung antara Fisika modern dengan sufisme atau<br />
mistisisme Timur lainnya. Kita dapat lihat dari salah satu potongan syair<br />
Rumi:</p>
<p>&#8220;Aku adalah kehidupan dari yang kucintai<br />
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,<br />
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai&#8221;.</p>
<p>Juga kita dapat lihat pendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:</p>
<p>&#8220;Kosmos berdiri diantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non<br />
eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari<br />
itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq,<br />
namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan bahwa ini makhluk,<br />
namun ini bukan makhluk&#8221;.</p>
<p>Bahasa Rumi &#8220;Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak&#8221; atau ungkapan<br />
Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum yang<br />
juga mengungkapkan tentang &#8220;hidup yang juga mati, mati yang juga hidup&#8221;.<br />
Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini.</p>
<p>Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat<br />
suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang.<br />
Dalam hal ini ?secara matematik? ada bagian yang berada di luar kerucut<br />
ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik ini yang<br />
kita tempati ini masih ada kemungkinan &#8220;dunia lain&#8221;. Hal ini juga didukung<br />
oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett pada tahun<br />
1957. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal<br />
ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa menuju<br />
ke &#8220;Pintu-pintu ke dunia lain.&#8221;</p>
<p>Rumi menulis dalam puisi yang lain &#8220;Sang Sufi bermi&#8217;raj ke &#8216;Arsy dalam<br />
sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.&#8221;<br />
Meskipun puisi ini sedikit menunjukkan nada yang agak sombong dari Sang<br />
Sufi, namun jelas menunjukkan adanya keserupaan dengan konsep relativitas<br />
pada Fisika modern.</p>
<p>Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15<br />
trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan ?big bang? dan galaksi-galaksi tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti<br />
yang dijelaskan oleh sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan<br />
pembangkitan kembali. Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah<br />
sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon, oksigen<br />
dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang sebagai debu<br />
kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semua dalam alam semesta yang<br />
berekspansi terdiri dari energi, dan energi secara sederhana berubah dari<br />
suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naik menuju (cosmic<br />
ascent) kepada Allah.</p>
<p>Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan<br />
terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib,<br />
pengkerutan waktu, ketidakpastian, &#8220;hidup tetapi mati&#8221;, kesadaran dapat<br />
mempengaruhi materi, &#8220;ada tetapi tidak ada&#8221;, siklus kehidupan dan asal<br />
usul semesta.</p>
<p>Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi<br />
yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan realitas yang<br />
sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia<br />
atau keterbatasan kemampuan logis manusia? Atau semua ini merupakan harta<br />
tersembunyi sebagaimana yang diungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah<br />
telah berkata &#8220;Aku adalah harta tersembunyi yang perlu disingkap, Aku<br />
ciptakan semesta sehingga Aku dapat diketahui&#8221;</p>
<p>Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun<br />
mengikuti &#8220;semangat teori Kuantum&#8221; yang maju terus memberikan kontribusi<br />
penting pada peradaban manusia meskipun telah meninggalkan Einstein dalam<br />
kegelisahan interpretasi. Adakah sekarang manfaat praktis yang dapat<br />
ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisika modern?</p>
<p>Sudah saatnya para fisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di<br />
Fisika namun merujuk pada entitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu<br />
energi. Di Fisika, istilah energi menunjukkan suatu besaran yang sangat<br />
real, sementara di sufisme istilah ini lebih abstrak. Para ahli sufi<br />
sebenarnya meminjam istilah ini karena ada keserupaan, meskipun pada<br />
dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbukti secara empiris bahwa<br />
para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energi metafisik yang berasal<br />
dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan seperti penyembuhan sakit<br />
fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya tidak mengerti<br />
bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan sepenuhnya<br />
melakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat melakukan<br />
penjelasan hal ini karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa<br />
kesadaran dapat mempengaruhi materi (mind over matter).</p>
<p>Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan.<br />
Akan muncul sekali banyak manfaat bila dilakukan eksplorasi secara seksama<br />
hubungan antara sufisme dan Fisika modern.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
<p>Tanggapan dari Muhammad Hikam untuk Soegiarto :<br />
Dalam sufisme tidak ada teori kenisbian (statistik) seperti dalam Quantum<br />
Klasiknya Bohr dan Schrodinger, malahan saya setuju dengan anggapan bahwa<br />
seorang sufi modern yang dicari adalah sebuah Kepastian yang Haqiqi yaitu<br />
AlHaq. Hal ini sesuai dengan statemen Einstein bahwa Tuhan menciptakan<br />
Dunia tidak seperti bermain dadu dalam artian tiada teori Statistik.<br />
Bahkan Stephen Hawking sendiri kalau tidak salah menolak Fisika Statistik<br />
(mohon koreksinya).</p>
<p>Jadi kalo boleh saya gambarkan seorang sufi dalam pencarian kepastian<br />
beliau-beliau itu diliputi dengan nasma (Energi E/M) dimana ruhaniyah<br />
seseorang yang berkaitan erat dengan panjang gelombang spectrum dari Bohr<br />
yang digambarkan warna-warni dalam latifah itulah yang bisa merubah E=MC2. Bila Tubuh material kita dijalankan dengan C2 (kecepatan gelombang dalam Spectrum Latifah maka yang kita dapat adalah<br />
Energi). E adalah tiada dapat diciptakan namun dapat berubah ke bentuk<br />
lain alias bersifat Jaiz. Inilah esensi Ilahiyah. Bagaimana kita bisa<br />
meleburkan diri kita dalam lautan E ini.</p>
<p>Jadi menurut saya lebih bagus lagi jika fenomena-fenomena yang ada pada<br />
kasus &#8211; kasus penemuan Stephen Hawking di kaji dengan perspektif sufistik<br />
Mas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudrominulyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudrominulyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudrominulyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudrominulyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudrominulyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudrominulyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudrominulyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudrominulyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudrominulyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudrominulyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudrominulyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudrominulyo.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudrominulyo.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudrominulyo.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=21&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/judul-ini-bisa-langsung-digugat-apa-mungkin-mengkaitkan-sufisme-dan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ffbd342787a2b0acae54a4f353b56041?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">a64nghand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/azumi.jpg?w=240" medium="image">
			<media:title type="html">Azumi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pecas ndahe</title>
		<link>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 19:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiageng Sudrominulyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ndongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/pecas-ndahe/</guid>
		<description><![CDATA[                          1. REFINERY PROCESSES 1.1. PHYSICAL PROCESSES 1.1.1. Distillation * Distillation * Vacuum distillation 1.1.2. Absorption * Absorption * Physical absorbtion * Chemical absorption 1.1.3. Adsorption * Adsorption : to free petroleum gases from trace amounts of undesired gases or vapors * Pressure [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=10&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-9" title="night-elf" src="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/night-elf.jpg?w=450" alt="night-elf"   /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>1. REFINERY PROCESSES</p>
<p>1.1. PHYSICAL PROCESSES</p>
<p>1.1.1. Distillation</p>
<p>* Distillation</p>
<p>* Vacuum distillation</p>
<p>1.1.2. Absorption</p>
<p>* Absorption</p>
<p>* Physical absorbtion</p>
<p>* Chemical absorption</p>
<p>1.1.3. Adsorption</p>
<p>* Adsorption : to free petroleum gases from trace amounts of undesired gases or vapors</p>
<p>* Pressure swing process : produces high n-paraffin purities</p>
<p>1.1.4. Solvent Extraction</p>
<p>* Ethylene glycol : extract aromatic hydrocarbon from paraffinic hydrocarbon from reformer gasoline</p>
<p>* Sulfolane (tetramethylene sulfone) : versatile extractant for production of high purity BTX and Sulfinol process (sulfolane + alkanolamines) remove acid gas from gas stream</p>
<p>* The Edeleanu process : to extract aromatics from kerosene</p>
<p>* Urea dewaxing : to produce lube oils with low pour points (transformer oils, etc)</p>
<p>1.2. CONVERSION PROCESSES</p>
<p>1.2.1. Thermal conversion</p>
<p>* Thermal cracking : e.g. visbreaking</p>
<p>* Coking : severe thermal cracking used to obtain light products and coke (delayed coking and fluid coking, where flexicoking = fluid coking + coke gasification )</p>
<p>* Steam cracking : used primarily for the production of olefins</p>
<p>* Steam cracking of vacuum residue : thermal cracking using continuous superheated steam</p>
<p>1.2.2. Catalytic conversion : i.e. catalytic reforming, catalytic cracking, hydrocracking, hydrotreating and hydrorefining</p>
<p>1.2.3. Catalytic reforming</p>
<p>* Catalysts : dual functional with hydrogenation- dehydrogenation site (platinum or bimetalic platinum/rhenium) and acid site (usualy alumina)</p>
<p>* Reforming reactions : depends on temperature, hydrogen partial pressure and catalyst used, where reactivity is a strong function of carbon number</p>
<p>* Aromatization : e.g. dehydrogenation of cyclohexanes or two step aromatization of methylcyclopentane (isomerization to cyclohexane and dehydrogenated to benzene)</p>
<p>* Isomerization : e.g. n-hexane to iso-hexane i.e. dehydrogenation CH3-CH=CH-CH2- CH2-CH3, protonation CH3-CH2-HC+- CH2-CH2-CH3, methide-hydride shift CH3CH3-C+- CH2-CH2-CH3 , proton elimination CH3CH3-C= CH-CH2-CH3 and hydrogenation CH3CH3-CH- CH2-CH2-CH3</p>
<p>* Hydrocracking : cracking reaction where higher molecular weight hydrocarbons pyrolyze to lower molecular weight paraffins and olefins in the presence of hydrogen e.g. RCH3-CH-CH2- CH3 + H2 * RH + CH3-CH2-CH2- CH3</p>
<p>* Dealkylation : e.g. R-[Benzene] * [Benzene] + RH</p>
<p>* Process variables : temperature, pressure (LeChatelier principle), liquid hourly space velocity</p>
<p>* Hydrodealkylation : e.g. CH3-[Benzene] + H2 * [Benzene] + CH4</p>
<p>1.2.4. Catalytic cracking</p>
<p>* Carbonium ion RR-C+-R, methide ion HH-C-H , hydride ion H&#8211; and free radical RR-C-R</p>
<p>* Catalysts : reduce the activation energy needed for the chemical reactants to become a part of an activated complex – a complex which would not have been formed in the absence of the catalyst, where the first catalyst used was acid treated clays, replaced by synthetic amorphous silica-aluminas, but the current catalyst is zeolites with alumina-silica matrix</p>
<p>* Carbonium ions : formed in three ways i.e. Bronsted-Lowry acid site R-CH+CH-R + H+ * R-HC+-CH2-R, Lewis acid O-Si-OOO-AL- O + R┊H * O-Si-OOO-AL- O H- + R+ and carbonium ion from Bronsted-Lowry or Lewis acid R R-C-R ┊H + R’+ * R R-C+ R + R’-H</p>
<p>* Carbon bond fission (b-fission) : cracking reaction of catalytic cracking R-CH2-CH2-+CH- CH2-CH2-R’ A R-+CH2 + R’-CH2-CH2-CH= CH2 and A R-CH2-CH2-CH= CH2 + R’-+CH2</p>
<p>* Cyclization : two step hydrogen transfer sequence i.e. proton transfer and hydride transfer</p>
<p>* Process : fluidized bed process (FCC), which produces unsaturates light hydrocarbons which are used as petrochemical feedstocks and for alkylate production, and the moving bed process</p>
<p>1.2.5. Resid catalytic cracking</p>
<p>1.2.6. Demetallization</p>
<p>1.3. OTHER REFINERY PROCESSES</p>
<p>1.3.1. Hydrogen Processing</p>
<p>* Hydrocracking : to process low value stocks that are not suitable for catalytic cracking or reforming unit because of high metal, sulfur and/or nitrogen content, and for high aromatic feeds which can’t be processed easily by conventional cat-cracking process. It is also used to produce lubricant base stocks (IFP hydrorefining- process). The catalyst is dual function i.e. high surface area cracking site and hydrogenation- dehydrogenation site ( it’s component is usualy cobalt, nickel, molybdenum, tungsten, vanadium, paladium, platinum or their oxide, where the oxide converted to sulfide by pretreatment with hydrogen sulfide or sulfur containing feedstock). Catalyst with strong acidic activity promote isomerization and cracking reactions leading to high iso/normal ratios, while catalyst with more hydrogenation activity and less acid activity will reduce the isomerization reactions.</p>
<p>* Hydrotreating : to reduce the sulfur content of atmospheric resid, vacuum gas oils and vacuum resids where a large fraction of the sulfur is in high molecular-weight asphaltenic compounds. The catalyst is cobalt molybdenum, which replaced nickel-molybdenum catalyst.</p>
<p>1.3.2. Isomerization : used for the alkylation and for the production of high octane hydrocarbons. Friedel-Crafts catalyst, AlCl3, has great reactivity, while in fixed bed, dual function catalyst (like platinum on zeolite base) activated by inorganic or organic chloride are preferred, because can be regenerated and the isomerization is selective.</p>
<p>1.3.3. Alkylation : applies to the acid (concentrated sulfuric acid or anhydrous hydrofluoric acid) catalyzed reaction, where the product is highly branched paraffin (alkylate) used for blending to improve the octane number. The alkylate has a high heat of combustion, low vapor pressure and a desirable boiling range.</p>
<p>1.3.4. Dimerization : another process to upgrade octane number and ensure satisfactory volatility, uses phosporic acid or sulfuric acid as catalysts.</p>
<p>2. NONHYDROCARBON PRODUCTS</p>
<p>2.1. HYDROGEN</p>
<p>2.1.1. Production : catalytic reforming and hydrogen reformer</p>
<p>2.1.2. Utilization : fuel, ammonia production/nitrogen fertilizer, hydrotreating and hydrocracking process</p>
<p>2.2. SULFUR</p>
<p>2.2.1. Production : Frasch process (from elemental sulfur), conversion of sulfur dioxide and hydrogen sulfide, roasting of pyrite FeS2 and conversion of sour gas.</p>
<p>2.2.2. From hydrogen sulfide : vapor phase oxidation of hydrogen sulfide by sulfur dioxide (Clauss reaction), which is exothermic and spontaneous at high temperature and rapid at low temperature in the presence of a catalyst (activated alumina, bauxite and Porocel). The exothermic reactions are :</p>
<p>Combustion with air : H2S + O2 * H2O + Sx</p>
<p>Side reaction : H2S + O2 * H2O + SO2</p>
<p>Adjacent reaction : H2S + SO2 * H2O + Sx</p>
<p>Side dissociation reaction : H2S * H2 + Sx (endothermic)</p>
<p>2.2.3. Utilization : flower sulfur in match production, additive to cutting oils to prevent welding, in high pressure lubricants, asphalt mixed blend replacement in road construction, concrete impregnated to increase compressive and tensile strength, industrial compound beside sulfuric acid, polymeric sulfur nitride (polythiazyls [SN]x) which have optical and electrical properties of metals and malleable.</p>
<p>2.3. CARBON BLACK</p>
<p>2.3.1. Properties</p>
<p>* pH : from acidic 7 (furnace blacks) which activates rhe vulcanization process.</p>
<p>* Specific surface : reinforcement properties which give abrasion resistance to the rubber, measured by use of liquid nitrogen adsorption and by electronmicroscopy.</p>
<p>* Surface activity : related to the surface and to the amount of surface oxygen on the carbon black particle, influences adhesion of the black to the elastomer and reduction of heat build-up</p>
<p>* Structure : related to degree of agglomeration of the carbon black, related to the process used for its production.</p>
<p>2.3.2. Production :</p>
<p>* By pyrolysis, partial oxidation or complete oxidation of a portion and pyrolysis of the remainder. The exothermic oxidation furnishes the energy for the endothermic pyrolysis. The nucleation of carbon black appears that in case of thermal blacks polyaromatic molecules are first formed, which then condense into liquid droplets which are the precursors of the carbon black particles.</p>
<p>* Channel process (channel black) : burning natural gas in less than sufficient air for complete combustion. The particle size is changed by varying the distance of channels from the flames and by the extent of combustion.</p>
<p>* Thermal process (thermal black) : pyrolysis of natural gas in preheated furnaces containing a checkerwork of hot bricks, where the nat-gas is cracked to carbon and hydrogen and the cooled bricks reheated by combustion of natural gas in the regenerative cycle.</p>
<p>* Furnace process (furnace black) : partial combustion process use reactors, which depends on the phase of the feedstock (gas or liquid)</p>
<p>2.4. PETROLEUM COKE</p>
<p>2.4.1. Production</p>
<p>* Delayed coking : utilizes reactor system consist of a short contact time heater coupled to a large drum in which the preheated feed soaks on a batch basis and the coke is gradually form in the drum.Raw petroleum coke, green coke, contains volatile material that must be reduced for the coke by calcining to be used as industrial carbon, i.e. calcined coke</p>
<p>* Fluid coking : a fluid solids process that thermally cracks the feed to gaseous and liquid products plus coke, utilizes the heat produced by the burning of a portion of the coke produced to provide process heat, and the fluid coke is formed by spraying the resid on hot coke particles and immediately the conversion happened. The undesireable characteristics of fluid coke are high sulfur content, low volatility, poor crystalline structure and low grindability index.</p>
<p>* Flexicoking : integrates conventional fluid coking with coke gasification, also produces a substantial concentration of metals in the coke product and causes significant desulfurization of residual coke. The gaseous products are hydrogen, water, carbon monoxide and carbon dioxide referred to as coke gas.</p>
<p>* Needle coke : produces from very pure petroleum tars by a variation of the delayed coking process, which is a so called crystalline coke preferred for graphitized electrodes.</p>
<p>4.4.2. Utilization : amorphous type coke is used as non-graphitized electrodes (anodes) in the manufacture of primary aluminum, while the other used as low ash fuel, high purity reactant and for ferrous metallurgy.</p>
<p>2.5. CRESYLIC ACID</p>
<p>2.5.1. Production</p>
<p>* Extraction of weak acids (phenol and cresols) from gasoline fraction stream with alkaline solution (usualy sodium hydroxide) and form soluble salts or physical chemical adsorption process using high surface adsorbent resins.</p>
<p>* The product consist of phenol, cresols and xylenols</p>
<p>2.5.2. Utilization</p>
<p>* Cresylic acid used as degreasing agents and disinfectants in the form of stabilized emulsion in a soap solution, while the cresols used as floatation agents and wire rope enamel solvents</p>
<p>* Production of phenol-formaldehyde resins is using a mixture of o- and m-cresols.</p>
<p>* The ester of tricesryl phophate (produced by the reaction between a mixture of cresols and phosphorous oxychloride) used as plasticizers of vinyl chloride polymers and gasoline additives</p>
<p>2.6. NAPHTENIC ACIDS</p>
<p>2.6.1. Production</p>
<p>* Extraction with dilute caustic solution of light gasoil and kerosene fraction, since the naphtenic acid salts are emulsifying agents. The aqueous layer, which contains the naphthenates, is separated from the hydrocarbon layer and treated with dilute mineral acids to spring the acids, then it is dried and distilled plus purified by treatment with strong sulfuric acid.</p>
<p>* Specification : driers – corrosion inhibitor and emulsifiers</p>
<p>2.6.2. Utilization</p>
<p>* Free naphtenic acid</p>
<p>* Sodium salts : agriculturel insecticides, cutting oil additives and oil emulsion breaker</p>
<p>* Other metal salts : lubricating oil detergent additives, pigment and oil based paints</p>
<p>* Copper naphthenates : mild dew proofing and fungicide for cotton textile</p>
<p>* Aluminum naphthenates is used as a gelling agent for gasoline flame throwers</p>
<p>* Napthenates are used as catalysts such as the Oxo reaction, Mn-naphthenates are oxidation catalyst to produce carboxylic acids, while metal-naphtenates used as surface detackfiers and carying agents for polyester resins.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudrominulyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudrominulyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudrominulyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudrominulyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudrominulyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudrominulyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudrominulyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudrominulyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudrominulyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudrominulyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudrominulyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudrominulyo.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudrominulyo.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudrominulyo.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=10&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ffbd342787a2b0acae54a4f353b56041?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">a64nghand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudrominulyo.files.wordpress.com/2009/06/night-elf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">night-elf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alam semesta</title>
		<link>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/5/</link>
		<comments>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/5/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 19:15:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kiageng Sudrominulyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ngibul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudrominulyo.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Part 1 &#8211; Gagasan Kuno Abad 19 : Alam Semesta Kekal Written by SBSuryanto Wednesday, 01 November 2006 Gagasan yang umum di abad 19 adalah bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=5&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Part 1 &#8211; Gagasan Kuno Abad 19 : Alam Semesta Kekal</strong></p>
<p>Written by SBSuryanto Wednesday, 01 November 2006</p>
<p>Gagasan yang umum di abad 19 adalah bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir.</p>
<p>Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx.</p>
<p>Para penganut materalisme meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Misalnya, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie, filosof materialis George Politzer mengatakan bahwa &#8220;alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan&#8221; dan menambahkan &#8220;Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan&#8221;. Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad 19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Namun, sains dan teknologi yang berkembang di abad 20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini. Astronomi Mengatakan : Alam Semesta Diciptakan Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini &#8220;bergerak menjauhi&#8221; kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah. Selama pengamatan oleh Hubble, cahaya dari bintang-bintang cenderung ke warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang ini terus-menerus bergerak menjauhi kita.</p>
<p>Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus &#8220;mengembang&#8221;. &#8220;Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar mengembangkannya&#8221; (QS. Adz-Dzaariyat, 51: 47) Agar lebih mudah dipahami, alam semesta dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang sedang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permukaan balon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda di ruang angkasa juga bergerak menjauhi satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang.</p>
<p>Sebenarnya, fakta ini secara teoritis telah ditemukan lebih awal. Albert Einstein, yang diakui sebagai ilmuwan terbesar abad 20, berdasarkan perhitungan yang ia buat dalam fisika teori, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Tetapi, ia mendiamkan penemuannya ini, hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui luas waktu itu. Di kemudian hari, Einstein menyadari tindakannya ini sebagai &#8216;kesalahan terbesar dalam karirnya&#8217;. Apa arti dari mengembangnya alam semesta ? Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal atau dari titik satu padu. Perhitungan menunjukkan bahwa &#8216;titik tunggal&#8217; ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki &#8216;volume nol&#8217;, dan &#8216;kepadatan tak hingga&#8217;. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini. &#8220;Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?&#8221; (QS. Al Anbiyaa&#8217;, 21: 30)</p>
<p>Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan &#8216;Big Bang&#8217;, dan teorinya dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa &#8216;volume nol&#8217; merupakan pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep &#8216;ketiadaan&#8217;, yang berada di luar batas pemahaman manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai &#8216;titik bervolume nol&#8217;. Sebenarnya, &#8216;sebuah titik tak bervolume&#8217; berarti &#8216;ketiadaan&#8217;. Demikianlah alam semesta muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad 20, telah dinyatakan dalam Alqur&#8217;an 14 abad lampau: &#8220;Dia Pencipta langit dan bumi&#8221; (QS. Al-An&#8217;aam, 6: 101).</p>
<p>Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain. Big Bang, Fakta Menjijikkan Bagi Kaum Materialis Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah &#8216;diciptakan dari ketiadaan&#8217;, dengan kata lain ia diciptakan oleh Allah. Karena alasan ini, para astronom yang meyakini paham materialis senantiasa menolak Big Bang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga. Alasan penolakan ini terungkap dalam perkataan Arthur Eddington, salah seorang fisikawan materialis terkenal yang mengatakan: &#8220;Secara filosofis, gagasan tentang permulaan tiba-tiba dari tatanan Alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya&#8221;. Seorang materialis lain, astronom terkemuka asal Inggris, Sir Fred Hoyle adalah termasuk yang paling merasa terganggu oleh teori Big Bang. Di pertengahan abad 20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut steady-state yang mirip dengan teori &#8216;alam semesta tetap&#8217; di abad 19. Teori steady-state menyatakan bahwa alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan paham materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang, yang mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady-state telah lama menentang teori Big Bang. Namun, ilmu pengetahuan justru meruntuhkan pandangan mereka. Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang &#8216;seharusnya ada&#8217; ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut &#8216;radiasi latar kosmis&#8217;, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka. Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer. COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang. Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulukala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium. Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat : &#8220;Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang&#8221; (QS. Al-Mulk, 67:3). Big Bang, Ledakkan yang Menghancurkan Paham Materialisme Segala bukti meyakinkan sebagaimana dipaparkan dalam bagian 1 artikel ini telah menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat dari ketiadaan. Dennis Sciama, yang selama bertahun-tahun bersama Fred Hoyle mempertahankan teori steady-state, yang berlawanan dengan fakta penciptaan alam semesta, menjelaskan posisi akhir yang telah mereka capai setelah semua bukti bagi teori Big Bang terungkap. Sciama menyatakan bahwa ia mempertahankan teori steady-state bukan karena ia menganggapnya benar, melainkan karena ia berharap bahwa inilah yang benar. Sciama selanjutnya mengatakan bahwa ketika bukti mulai bertambah, ia harus mengakui bahwa permainan telah usai dan teori steady-state harus ditolak. Prof. George Abel dari universitas California juga menerima kemenangan akhir Big Bang dan menyatakan bahwa bukti yang kini ada menunjukkan bahwa alam semesta bermula milyaran tahun silam melalui peristiwa Big Bang. Ia mengakui bahwa ia tak memiliki pilihan kecuali menerima teori Big Bang. Dengan kemenangan Big Bang, mitos &#8216;materi kekal&#8217; yang menjadi dasar berpijak paham materialis terhempaskan ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lalu keberadaan apakah sebelum Big Bang; dan kekuatan apa yang memunculkan alam semesta sehingga menjadi &#8216;ada&#8217; dengan ledakan raksasa ini saat alam tersebut &#8216;tidak ada&#8217; ?. Meminjam istilah Arthur Eddington, pertanyaan ini jelas mengarah pada fakta yang &#8216;secara filosofis menjijikkan&#8217; bagi kaum materialis, yakni keberadaan sang Pencipta. Filosof ateis terkenal Antony Flew berkata tentang hal ini : &#8220;Sayangnya, pengakuan adalah baik bagi jiwa. Karenanya, saya akan memulai dengan pengakuan bahwa kaum Ateis Stratonisian terpaksa dipermalukan oleh kesepakatan kosmologi zaman ini. Sebab, tampaknya para ahli kosmologi tengah memberikan bukti ilmiah bahwa alam semesta memiliki permulaan&#8221;. Banyak ilmuwan yang tidak secara buta menempatkan dirinya sebagai ateis telah mengakui peran Pencipta yang Mahaperkasa dalam penciptaan alam semesta. Pencipta ini haruslah Dzat yang telah menciptakan materi dan waktu, namun tidak terikat oleh keduanya. Ahli astrofisika terkenal Hugh Ross mengatakan : &#8220;Jika permulaan waktu terjadi bersamaan dengan permulaan alam semesta, sebagaimana pernyataan teorema ruang, maka penyebab terbentuknya alam semesta pastilah sesuatu yang bekerja pada dimensi waktu yang sama sekali tak tergantung dan lebih dulu ada dari dimensi waktu alam semesta. Kesimpulan ini memberitahu kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, Tuhan tidak pula berada di dalam alam semesta&#8221;. Begitulah, materi dan waktu diciptakan oleh sang Pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, Dialah Penguasa langit dan bumi. Sebenarnya, Big Bang telah menimbulkan masalah yang lebih besar bagi kaum materialis daripada pengakuan Filosof ateis, Antony Flew. Sebab, Big Bang tak hanya membuktikan bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan, tetapi ia juga diciptakan secara sangat terencana, sistematis dan teratur. Big Bang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta serta penyebarannya ke segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dari materi dan energi ini, munculah suatu keseimbangan luar biasa yang melingkupi berbagai galaksi, bintang, matahari, bulan, dan benda angkasa lainnya. Hukum alam pun terbentuk yang kemudian disebut &#8216;hukum fisika&#8217;, yang seragam di seluruh penjuru alam semesta, dan tidak berubah. Hukum fisika yang muncul bersamaan dengan Big Bang tak berubah sama sekali selama lebih dari 15 milyar tahun. Selain itu, hukum ini didasarkan atas perhitungan yang sangat teliti sehingga penyimpangan satu milimeter saja dari angka yang ada sekarang akan berakibat pada kehancuran seluruh bangunan dan tatanan alam semesta. Semua ini menunjukkan bahwa suatu tatanan sempurna muncul setelah Big Bang. Namun, ledakan tidak mungkin memunculkan tatanan sempurna. Semua ledakan yang diketahui cenderung berbahaya, menghancurkan, dan merusak apa yang ada. Jika kita diberitahu tentang kemunculan tatanan sangat sempurna setelah suatu ledakan, kita dapat menyimpulkan bahwa ada campur tangan &#8216;cerdas&#8217; di balik ledakan ini, dan segala serpihan yang berhamburan akibat ledakan ini telah digerakkan secara sangat terkendali. Sir Fred Hoyle, yang akhirnya harus menerima teori Big Bang setelah bertahun-tahun menentangnya, mengungkapkan hal ini dengan jelas : &#8220;Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari satu ledakan tunggal. Tapi, sebagaimana diketahui, ledakan hanya menghancurkan materi berkeping-keping, sementara Big Bang secara misterius telah menghasilkan dampak yang berlawanan &#8211; yakni materi yang saling bergabung dan membentuk galaksi-galaksi&#8221;. Tidak ada keraguan, jika suatu tatanan sempurna muncul melalui sebuah ledakan, maka harus diakui bahwa terdapat campur tangan Pencipta yang berperan di setiap saat dalam ledakan ini. Hal lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk di alam menyusul peristiwa Big Bang ini adalah penciptaan &#8216;alam semesta yang dapat dihuni&#8217;. Persyaratan bagi pembentukan suatu planet layak huni sungguh sangat banyak dan kompleks, sehingga mustahil untuk beranggapan bahwa pembentukan ini bersifat kebetulan. Setelah melakukan perhitungan tentang kecepatan mengembangnya alam semesta, Paul Davis, profesor fisika teori terkemuka, berkata bahwa kecepatan ini memiliki ketelitian yang sungguh tak terbayangkan. Davis berkata : &#8220;Perhitungan jeli menempatkan kecepatan pengembangan ini sangat dekat pada angka kritis yang dengannya alam semesta akan terlepas dari gravitasinya dan mengembang selamanya. Sedikit lebih lambat dan alam ini akan runtuh, sedikit lebih cepat dan keseluruhan materi alam semesta sudah berhamburan sejak dulu. Jelasnya, big bang bukanlah sekedar ledakan zaman dulu, tapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat&#8221;. Fisikawan terkenal, Prof. Stephen Hawking mengatakan dalam bukunya A Brief History of Time, bahwa alam semesta dibangun berdasarkan perhitungan dan keseimbangan yang lebih akurat dari yang dapat kita bayangkan. Dengan merujuk pada kecepatan mengembangnya alam semesta, Hawking berkata : &#8220;Jika kecepatan pengembangan ini dalam satu detik setelah Big Bang berkurang meski hanya sebesar angka satu per-seratus ribu juta juta, alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah mencapai ukurannya yang sekarang&#8221;. Paul Davis juga menjelaskan akibat tak terhindarkan dari keseimbangan dan perhitungan yang luar biasa akuratnya ini : &#8220;Adalah sulit menghindarkan kesan bahwa tatanan alam semesta sekarang, yang terlihat begitu sensitif terhadap perubahan angka sekecil apapun, telah direncanakan dengan sangat teliti. Kemunculan serentak angka-angka yang tampak ajaib ini, yang digunakan alam sebagai konstanta-konstanta dasarnya, pastilah menjadi bukti paling meyakinkan bagi keberadaan desain alam semesta&#8221;. Berkenaan dengan kenyataan yang sama ini, profesor astronomi Amerika, George Greenstein menulis dalam bukunya The Symbiotic Universe : &#8220;Ketika kita mengkaji semua bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supernatural pasti terlibat&#8221;. Singkatnya, saat meneliti sistem mengagumkan di alam semesta, akan kita pahami bahwa keberadaan dan cara kerjanya bersandar pada keseimbangan yang sangat sensitif dan tatanan yang terlalu kompleks untuk dijelaskan oleh peristiwa kebetulan. Sebagaimana dimaklumi, tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa ini terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan besar. Pembentukan tatanan semacam ini menyusul ledakan seperti Big Bang adalah satu bukti nyata adanya penciptaan supernatural. Rancangan dan tatanan tanpa tara di alam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan Pencipta, beserta Ilmu, Keagungan dan Hikmah-Nya yang tak terbatas, Yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan Yang berkuasa mengaturnya tanpa henti. Sang Pencipta ini adalah Allah, Tuhan seluruh sekalian alam. Last Updated ( Friday, 03 November 2006 )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudrominulyo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudrominulyo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudrominulyo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudrominulyo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudrominulyo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudrominulyo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudrominulyo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudrominulyo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudrominulyo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudrominulyo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudrominulyo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudrominulyo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudrominulyo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudrominulyo.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudrominulyo.wordpress.com&amp;blog=6410750&amp;post=5&amp;subd=sudrominulyo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudrominulyo.wordpress.com/2009/06/03/5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ffbd342787a2b0acae54a4f353b56041?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">a64nghand</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
